
"A, Ine mau main ke pantai, boleh?" tanyaku.
Aa mengangguk, dan kami pun keluar kamar menuju pantai. Aku duduk di pinggir pantai, melihat debuuran ombak yang seperti bersahut-sahutan. Hatiku tenang, melihat kekuasaan Ilahi, pemandangan itu membuat aku merasakan cinta yang luar biasa. Kami duduk bersebelahan, dan kupeluk tangannya, ku sandarkan kepalaku di tangannya.
Aa memegang perutku.
"Ya Allah, jagalah mereka untukku. Kuatkan cinta kami, samapi tak satupun bisa memisahkan cinta kami" doanya dengan suara kecil. Semakin lama, air laut itu menyapa kaki kami. Deburan ombak makin lama makin ke tepian.
"Kita ke sana yok" ajak Aa.
Aku menggeleng. Aku biarkan kakiku bermain dengan air laut. kepuasanku melihat hamparan laut yang indah, di sore hari, membuat aku akhirnya menceritakan semua ke Aa.
__ADS_1
"Namanya Mikhayla" kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku.
Aa memandangiku, dan seperti bersiap mendengarkan ceritaku.
"Mikhayla dulu seorang suruhan dari Indah, mantan mas Herli. Tapi Mikhayla tidak mau mengikuti apa kemauan Indah. Entah bagaimana, hubungan mereka dan sampai sejauh apa hubungan itu. Yang Ine tau, saat Abi meminta meninggalkan Kekey, Mas Herli keberatan. Dan Ine memutuskan untuk pergi dari hidupnya. Ternyata belum 3 bulan, Allah mengambilnya. Ine bertemu dengan Keket di rumah sakit, ketika menunggu jemputan pak Min. Dn kemarin, kekey melamar pekerjaan di kantor Ine. Melihat Kekey, membuat Ine menjadi sangat sakit hati. Ine gak tau bagaimana nantinya. Rasanya berat kalau Ine harus meninggalkan pekerjaan kalau kantor memilih dia"ucapku datar bercerita tentang kekey.
"Apa Ine menyesal menikah dengan Aa?" tanyanya
Sebenarnya aku takut Aa salah paham seperti ini. Tapi aku tidak tau bagaimana menyembunyikan perasaan sedihku lagi.
"Masa lalu, memang tidak bisa hilang, tapi paling tidak, cobalah untuk memaafkan orang. Doakan saja, semoga tidak ada Herli selanjutnya.Sudah. Tidak usah difikirkan, sayang. Aa memberikan keluasan kepada Ine, apakah terus akan bekerja atau tidak. Aa tidak mau mengekang kebahagiaan Ine. Kalaupun Ine memutuskan untuk resign, Aa yakin kalau itu adalah keputusan terbaik Ine. Tapi Aa berharap, semoga Ine selalu diberi kesehatan. Aa mau Ine tetap tersenyum, bunga yang indah akan tetap indah. Aa akan merawat bunga itu agar tumbuh cantik dan subur. Dan, Aa akan selalu jadi teman cerita Ine."
__ADS_1
Ya.. itulah Yopi Adrianus, sifatnya yang selalu dewasa, walau usia kami cuma beda 2 tahun. Lelaki yang ibu anggap anak-anak, tapi pemikirannya yang membuat aku yakin untuk menua dan bersama dengannya.
Air laut semakin tinggi, aku memainkan air itu, dan tertawa bahagia saat ombak itu menghampiriku.
Aa mengambil moment dimana aku tertawa, dan mencuri poto dengan berbagai gayaku.
Bajuku basah, tapi aku bahagia.
"Terima kasih tuhan.." teriakku.
"Love you Yopi Adrianus" kupandang dia, dia tidak menyadari, kalimat apa yang aku keluarkan.
__ADS_1
Semakin sore, matahari semakin tidak terlihat.
"Udah mainnya ya.. udah mau gelap juga." Ajaknya, dan kami pun segera masuk ke dalam kamar kami.