
"Yeay... kita sampai di Jakarta" teriakku kepada Alka, dan Alka melompat-lompat dan berlari, pak Min mengejarnya.
Ternyata pesawat yang kami tumpangi sama dengan pesawat yang ditumpangi Indah,
"Ketemu lagi kita, bahagia banget sih hidup lu, ne" suara nyinyiran itu buat aku gerah.
Aa yang sedang mengambil barang bersama bu Min dan pak Min, melihatku di dekati Indah. Dia mendekati kami.
"Sayang," kemudian dia mengecup keningku, dan memelukku.
"Tunggunya di sana aja, jadi gak jauh dari Aa, oke" ajaknya.
Lalu kami berjalan mendekati pak Min dan bu Min.
"Tumben, kenapa nih" ucapku yang bingung.
"Aa udah bilang, gak suka sama perempuan itu, entah kenapa, Aa merasa dia akan menyakiti Ine" ucapnya yang masih merangkulku.
Setelah menunggu bagasi, ternyata ayah sudah menunggu di parkiran, aku menghubungi ayah, dan ayah segera menghampiri kami.
"Wah, cucu eyang, senang sekali, enak ya di Bali" ucap ibu yang memeluk Alka.
Alka mengangguk dan mencium eyang putrinya.
__ADS_1
"Gimana di Bali, Ine sehat kan? Merepotkan gak? " tanya ayah
"Tau sendiri, kalau kecapekan dia suka sakit" lanjutnya.
"Ayaaaahhh" ucapku manja.
"Gak kok yah, kami semua sehat, dan bahagia" ucap Aa.
"Mama itu kemaren sakit, yang. Papa bawa mama ke rumah sakit" ucap polos Alka.
"Nah kan, apa kata ayah. Terus gimana?"
"Gapapa kok yah, cuma demam biasa"
"Tenang yah, ada dokter Yopi yang bisa diandalkan" ucapku lagi, sambil memegang janggutnya yang mulai tumbuh.
"Ayah, ibu, kita mampir makan bakso dulu ya, Ine dari pertama sampai di Bali, pengen makan Bakso, tapi, Yopi takut jajan di sana" ucap Aa yang sedang menyetir mobil.
"Seperti orang ngidam saja, dasar aja Ine, gak bisa jauh dari bakso," ledek ayah.
"Diaminin aja deh," ucapku sambil tertawa.
Kami tiba di sebuah tempat makan, yang menyediakan banyak varian makanan.
__ADS_1
Untuk sejenak melepas lelah, kami menyantap berbagai hidangan,
"Sayang, Ine mau bakso dan es jeruk, seger" ucapku sambil tersenyum.
Pelayan mencatat semua yang dipesan.
"Tapi ayah perhatikan, Ine ini belum sehat bener deh, mukanya saja masih pucet. Nanti langsung istirahat ya nak. Kalu bisa besok gak usah kerja dulu, nanti drop loh" nasihat ayah itu langsung diiyakan Aa.
"Bener yah, sayang, kalau begitu Ine telpon Igun aja, minta izin sehari, gitu. Kalu gak dikasih, biar Aa yang telepon"
Deuh, gayanya masih sama aja seperti jaman sekolah. Semua anak basket itu tunduk semua dengan perintahnya.
"Gapapa, kok. Ine sehat, nanti sampe rumah, Ine istirahat. Kasian Igun, kerja sendiri."
"Tuh kan yah, Ine mah ngeyel kalo kita kasih tahu" ucap ayah menunjuk ke hidungku.
Ayah dan Aa, kadang memiliki banyak kemiripan sifat. 2 lelakiku yang aku cinta.
"Nanti malem, Alka mau makan apa, sayang?" tanya Aa ke Alka.
"Beli MC. D aja pa" ucap bocah tampan itu.
Setelah kenyang, dan bayar makanan ke kasir, kami mampir ke MC. D yang terletak tidak jauh dari tempat kami makan tadi. Setelah itu, kami pun segera pulang.
__ADS_1
Sampai di rumah, aku mengeluarkan isi tas yang penuh dengan oleh-oleh. Dan mengeluarkan beberapa jenis barang dan makanan buat ayah dan ibu.
"Ayo yah, kita pulang, biarkan Ine istirahat dulu" ajak ibu, karena melihat ayah masih main di kamar Alka.