
Kubuka mataku, ketika menjelang subuh. Ku tatap lelaki yang ada di sampingku. Lelaki yang aku impikan menjadi pasangan dunua akhiratku. Kini kami hidup bersama, setelah sekian lama terpisah. Ada rasa haru bercampur bahagia saat itu.
"Selamat pagi istriku tercinta"
Matanya tertutup, tapi dia bersuara.
Aku terkejut,
"Aa sudah bangun?"
Kemudian dia memelukku, dan mencium keningku.
"Sudah sejak Ine liatin Aa,"
Sontak aku kaget, bukannya dia tidak tahu kalau aku memperhatikannya?
"Bangun yuk, ini hari pertama kita kerja setelah cuti kemarin." ajakku.
Kami bersiap untuk hari ini, Aa masuk ke kamar mandi, dan aku menyiapkan semua keperluannya. Setelah itu, aku bergegas membuat sarapannya.
"Bu Min, Ine titip Alka ya.. Kalau ada apa-apa, hubungi Ine atau dokter Yopi, ya".
"Ya nak. Inshya Allah, tidak akan terjadi apa-apa. Alka anak yang pintar"
"Ine mandi dan siap-siap ya bu" kemudian aku berlari ke kamar atas.
__ADS_1
"Sayang, apa-apaan lari gitu"ucap Aa ketika aku hampir saja menabraknya.
"Maaf sayang, sayang, tolong ambilkan handuk Ine di atas kursi itu, ya" tanganku keluar menunjuk kursi di meja riasku.
Kepalanya hanya menggeleng, dengan kelakuanku.
"Ini sayang," aku mengambil handuknya, dan dia mau menyerobot masuk.
"Iih.. usil loh" ucapku kesal.
"Lagian mancing-mancing deh" ucapnya tertawa.
"Turun sana, sarapannya udah Ine buatkan. Nanti kalau sudah selesai, Ine turun" ucapku.
Namanya perempuan, dandan itu tidak cukup 10 menit. Dan akhirnya aku mendengar dia memanggilku.
Aku turun dan segera masuk ke mobil. Sarapan yang kusiapkan juga sudah diletakkan bu Min ke dalam mobil Aa.
"Mama pergi ya sayang.. Alka yang pinter di rumah, Oke.. Nanti pulang kerja, mama belikan es krim.."
Kemudian aku menciumnya dan segera pergi.
"Titip rumah ya pak Min" ucap Aa kepada pak Min.
Diperjalanan, aku menyantap sarapan yang kubuat.
__ADS_1
"Ine gak capek? Masih mau kerja ya?"
"Kenapa? Aa keberatan ya, kalau Ine bekerja?" tanyaku.
"Gak kok, Aa cuma takut Ine capek aja, Nanti kalau Ine capek, siapa yang urus Aa."ucapnya manja.
Sebenarnya aku tahu, maksudnya.
Tapi aku tidak enak dengan Igun. Kasian kalau Igun harus mencari sekretaris baru, karena semua urusannya aku yang handle. Tapi, semoga nantinya ada jalan.
"Sayang, jangan lupa makan siang ya, vitaminnya sudah Aa masukan dalam tas, jangan lupa diminum ya." ucapnya ketika mobil itu sampai di depan kantorku.
"Siap, bosku" aku mencium punggung tangannya, dan mencuri kecupan di bibirnya.
Dia terdiam dan akhirnya tertawa.
"Selamat kerja, istri sholehah" kemudian mobilnya berlalu.
Di ruanganku, masih sepi. Aku menyiapkan semua bahan kerjaan hari ini.
"Mbak Ine, sudah datang. Lumayan ya seminggu mbak Ine tidak kerja. Kasian pak Indra, sibuk sekali dia. Sampai dia pernah lupa kalau ada jadwal meeting dengan perusahan Waki." ucap seorang OB yang membersihkan ruangan itu.
Aku merasa bersalah.
"Ine, sudah masuk, syukurlah. Nanti tolong lihat jadwal gue ya. Sumpah gue bingung gak ada lu"
__ADS_1
"Ya Gun, sorry ya.. gak enak gue.. Ini gue lagi lihat berkas dulu. Nanti gw masuk ke kantor lu ya kalau sudah selesai gue sortir"ucapku