SOULMATE

SOULMATE
Miris


__ADS_3

"Hei sayang.. Kita ke ibu yuks.. Ayoo" pria itu sibuk menggendong dan bercanda dengan anak itu.


"Hei nona, mau kau beri nama siapa dia?"


"Rohit"


"Hmm not bad"


"Rohit.. Ibumu memberimu nama Rohit, apa kau menyukainya sayang?"


Bayi itu tertawa dan tersenyum.


"Lihat dia nona, dia tersenyum itu artinya dia menyukai nama itu"


Ragini mengangguk.


"Kau mirip seperti Rohit" ucap Ragini lagi.


Kali ini pria itu langsung menoleh, senyuman di bibirnya mendadak hilang.


"Rohit? Jadi Rohit bukan nama untuk bayi ini? Itu kau katakan karena kau menganggapku seperti Rohit?"


Ragini mengangguk.


"Iya.. Kau mirip seperti Rohit, tapi tak masalah jika aku memberikan nama itu untuk putraku"


Pria itu masih menatap tak percaya.


"Terimakasih kau telah menolongku"


Pria itu tersenyum sangat manis.


"Hmm.. Aku tak tega membiarkan kau sendiri tadi menyebrang jalan seperti itu, maafkan aku karena tadi tak sengaja mendorong tubuhmu hingga membuat kau terkejut lalu pingsan"


Ragini mengernyitkan dahinya, dia berusaha mengingat kejadian itu.


"Itu bukan salahmu"


"Oh iya.. Dimana suamimu? Aku sampai lupa memberitahunya jika jagoannya telah lahir"


Pria itu mengeluarkan ponselnya dari dalam saku celananya.


"Katakan! Berapa nomor ponselnya, biar aku yg menghubunginya"


Ragini masih terdiam, dia malah mengalihkan pandangannya. Airmatanya tiba-tiba mengalir, dia mengontrol emosinya karena rasa sesak di dalam dadanya.


"Hei.. Ada apa nona? Apa kau tak hafal nomor ponsel suamimu?"


Pria itu kembali bertanya dengan raut wajahnya yg iba.


Ragini menoleh, dia menggelengkan kepalanya. Pria itu menaikkan sebelah alisnya karena dia tak mengerti dengan maksud Ragini.


"Aku sudah tak memiliki seorang suami" ucapnya pelan.


Pria itu tak menyangka, dia langsung menghampiri Ragini dan menepuk bahunya pelan.


"Maafkan aku.. Aku tidak mengetahuinya"


Ragini mengangguk.


"Kalian sudah berpisah?" tanyanya meyakinkan.

__ADS_1


"Iya.. Dewa yg memisahkan aku dengannya hingga kami terpisah oleh dunia yg berbeda"


"Dunia berbeda? Astaga"


Ragini tersenyum kaku.


"Sini berikan putraku"


Ragini mengulurkan tangannya, pria itu dengan perlahan memindahkan bayi yg sudah nyaman diperlukannya kembali ke sisi ibunya.


Ragini mencium lembut jagoan kecilnya, bayi itu tersenyum dan tertawa. Ragini tersenyum miris, karena bayinya mirip sekali dengan Laksh.


"Lalu kau tinggal dimana, nona?"


"Di Baadi.."


"Astaga! Kalian berdua tinggal di Baadi? Tidak boleh! Itu lingkungan kumuh kasian bayimu, mengapa kau tidak tinggal di rumah yg layak saja? Memang suamimu tak meninggalkan rumah atau harta apapun? Uppss maaf jika aku lancang"


Ragini hanya tersenyum.


"Aku hanya ingin mandiri dan berusaha dengan kemampuanku sendiri"


Pria itu tersenyum.


"Tuan.. Kau belum mengurus administrasinya" tegur seorang suster yg baru saja datang menghampiri mereka.


Pria itu menepuk dahinya.


"Astaga! Maaf suster, aku lupa. Baiklah.. Aku akan segera mengurusnya"


Namun saat pria itu ingin melangkah keluar, dia kembali menghampiri Ragini.


"Nona, siapa namamu?"


"Aku Ratan" ucapnya penuh percaya diri, dia menaikkan sebelah alisnya.


Ragini menahan tawanya.


"Astaga.. Bahkan kau tak menanyakan namaku tapi aku dengan rasa percaya diri memperkenalkan namaku, ckck"


Ragini hanya terkekeh.


Mata Ratan menoleh ke bayi mungil yg berada di gendongan Ragini.


"Bayi kecil.. Paman tinggal sebentar, bye bye" bisiknya pelan.


Ratan pergi meninggalkan Ragini untuk mengurus administrasinya. Ragini menatap lirih punggung Ratan yg perlahan menjauh.


"Setelah aku berusaha sekeras mungkin untuk melupakanmu, tapi Dewa kembali mengirimkan wajah yg persis dengan dirimu Rohit, mengapa Dewa sangat senang mempermainkan takdirku?"


Ragini memejamkan matanya, dia kembali menoleh ke arah bayi mungilnya yg sudah tertidur dengan nyaman.


"Bayimu telah lahir Laksh, putramu telah lahir, kau tenang saja aku akan menepati janjiku untuk terus menjaga anakmu"


***


Laksh yg sedang tertidur tiba-tiba terbangun. Mengusap wajahnya dan meremas rambut kepalanya. Matanya masih tertuju pada kalung mangal sutra milik Ragini yg terlilit di pergelangan tangannya.


"Kau dimana Ragini? Apa sekarang kau sudah melahirkan anakku? Aku sangat merindukanmu" ucapnya pelan.


Laksh menatap ke atas langit-langit sel tahannya. Dia menatapnya lirih, dia benar-benar menderita karena Dewa selalu saja membuatnya menderita.

__ADS_1


"Ada surat untukmu, Laksh" ucap seorang sipir dengan lantang.


Sipir itu memberikan surat kepada Laksh melalui celah jeruji besi itu. Laksh mengambilnya.


Dia perlahan mulai membukanya.


"Dari siapa ini?" gumamnya.


"Ragini" ucapnya pelan.


Laksh mengembangkan senyuman di bibirnya saat membaca nama pengirimnya.


"Akhirnya setelah sekian lama kau mengirim surat untukku"


Laksh perlahan membuka sepucuk surat dari mantan istrinya itu.


"Hai Laksh.. Apa kabar? Maafkan aku jika selama ini aku tak pernah mengunjungimu disana, entah mengapa masih sulit bagiku untuk bertemu denganmu. Karena setiap kali aku melihatmu, aku seakan ingat dengan jasad Rohit yg terbaring kaku. Aku kehilangan cintaku, karena dirimu. Dan aku tak bisa menerima itu semua. Aku benar-benar marah dan sangat membencimu karena kau tak mengatakannya di awal, kau malah memilih bungkam dan menikahiku tapi kau menyembunyikan rahasia besar yg sangat menyakitiku, lupakan itu Laksh. Yg ingin aku bahas saat ini adalah.. Iya Laksh.. Aku telah melahirkan anakmu, kemarin aku melahirkannya. Untungnya ada seorang pria yg bersedia menolongku wakatu itu. Kau tau Laksh dia menolongku dan membiayai seluruh biaya persalinan putramu. Dia adalah anak yg sangat tampan, tak dapat ku pungkiri dia memang sangat mirip seperti dirimu. Wajahnya benar-benar mewarisi wajah tampanmu, tapi aku harap sikap dan sifatnya beda. Aku tak ingin putraku tumbuh menjadi seorang pembunuh sama seperti dirimu, dia sudah cukup lama berada di dalam kandunganku dan aku tak akan membiarkannya untuk mengetahui siapa ayah kandungnya. Aku tak ingin dia bersedih saat mengetahui ayah kandungnya adalah seorang narapidana yg terlibat kasus pembunuhan dan seorang kriminal. Aku tak ingin dia dihina oleh teman-temannya nanti. Jadi maafkan aku jika aku nanti memberitahu kepadanya jika ayahnya adalah Rohit yg sudah meninggal bukan dirimu. Aku sudah mengambil keputusan dan itu sudah sangat benar bagiku. Dan kau tau Laksh.. Pria yg menolongku itu wajahnya sangat mirip sekali dengan Ratan, seakan mereka berdua kembar. Aku yakin Dewa sengaja menghadirkan dia di hidupku untuk menggantikan posisi Rohit. Dewa begitu baik kepadaku dan untuk dirimu aku harap Dewa juga memberikan kebahagiaan nantinya kepadamu, ini aku berikan foto jagoan kecilmu, aku harap dia bisa menjadi penyemangatmu dalam menjalani hukuman atas perbuatan yg telah kau lakukan. Jangan pernah kau mencariku dan putraku lagi saat kau bebas nanti. Aku tak ingin masa lalumu yg kelam memberikan dampak yg buruk untuk perkembangan Rohit, putraku. Iya aku memberinya nama Rohit, itu sengaja aku lakukan untuk mengenang orang yg sangat aku cintai. Aku harap kau mengerti Laksh"


Ragini...


Laksh menjatuhkan dirinya, dia menahan sesaknya saat membaca isi surat yg dituliskan oleh Ragini. Benar-benar miris hidupnya.


"Kenapa Dewa? Kenapa kau tak juga memberiku kebahagiaan? Kenapa?"


Laksh berteriak dan terus menangis.


Dia kemudian menatap foto jagoan mungilnya, dia tersenyum dan mencium foto itu.


"Kau sangat tampan, nak. Ayah mohon jaga ibumu yah"


Laksh memeluk erat foto putranya itu, hatinya terasa sangat perih.


Benar-benar kelam hidupnya.


***


"Kau ikut saja pulang ke rumahku" ucap Ratan saat membantu Ragini berkemas untuk pulang dari rumah sakit.


Ragini mengernyitkan alisnya.


"Kau tenang saja Ragini, aku masih mempunyai seorang ibu dan adik perempuan. Tak perlu kau pikirkan, aku yg akan menjelaskannya kepada mereka"


Ragini masih terdiam dan tak bergeming.


"Ada apa Ragini? Apa yg kau pikirkan?"


Ragini menggeleng cepat.


"Apa kau yakin jika ibu dan adikmu bisa menerimaku dan putraku tinggal di rumahmu?"


Ratan menyentuh bahu Ragini.


"Kau tenang saja, daripada kau tinggal di lingkungan kumuh seperti itu lebih baik kau ikut denganku, ayoo"


Ratan menarik lengan Ragini. Ragini menatap tangan Ratan dan menarik lengannya.


"Maaf.. Maafkan aku"


Ragini tersenyum, Ratan pun ikut tersenyum saat melihat Ragini tersenyum.


'Entah mengapa aku merasakan jika cintaku hadir kembali, lewat Ratan aku bisa melihat senyum yg sangat aku rindukan, apa arti semua ini Rohit? Apa kau sengaja bilang kepada Dewa untuk mengirimkan Ratan untuk menjagaku?' batin Ragini.

__ADS_1


Ragini masih tersenyum menatap Ratan yg sedang bercanda dengan bayi mungil itu.


To be continued...


__ADS_2