
Malam sudah semakin larut, dan mataku masih segar,
"Sayang, Ine masih boleh kerja gak? Ine janji bakal sehat. Sekalian Ine mau persiapkan pengganti Ine. Aa baek deh" ucapku sambil memainkan dagunya. Dia sibuk dengan ponselnya
"Apa sayang?" tanyanya,
"Ine boleh kerja lagi, gak? Sampe ada pengganti Ine"
"Hm, Ine kuat?" tanyanya.
"Inshya Allah, sayang. Lagian kan ada Aa buat jadi semangat Ine sehat." ucapku
"Yakin?" tanyanya lagi.
"Inshya Allah, boleh ya?"
"Ya, tapi janji ya, gak boleh telat makan, gak boleh terlalu banyak kerjanya."
Aku mengangguk setuju, dan dia memelukku.
"Lagi ngerjain apa? Sibuk ya?" tanyaku
"Hm.. gak.. cuma baca ini aja, Aa pengen nyambi di Klinik Bahagia, kan kalau pagi, di Rumah sakit Anugerah. Aa harus ekstra kerjanya, apalagi kita udah mau punya anak lagi. Aa sudah harus memikirkan masa depannya." ucapnya sambil mengelus perutku. Aku menyetujuinya.
__ADS_1
"Ine nanti bawa mobil sendiri aja ya, jadi gak repot, Aa jemput Ine kerja"
Sontak Aa menoleh ke arahku.
"Wih.. gak.. biar kalo berangkat sama Aa, pulangnya minta jemput pak Min. Lagian kan Aa masih lihat dulu, bagus gak prospeknya.Masih nego sallary juga, ada beberapa klinik yang minta Aa join gitu. Aa tertarik dengan Klinik Bahagia, selain jarak dari rumah juga gak jauh, jadi searah sama jalan pulang."
"Do your best, aja ya sayang. Pilihan Aa pasti yang terbaik." ucapku.
"Udah ah, ngobrolin kerja gak bakal abis. Waktu terus berjalan. Istirahat yok. Oh ya, kalau kerja, gak boleh pakai baju yang ketat ya, kasian si dedek" ucapnya sambil mencium perutku.
Aku mengelus kepalanya yang berada di pahaku.
"Sehat terus ya sayang, papa bakal jaga dedek" ucapnya.
Kami bersiap untuk kerja, aku menyiapkan keperluan Aa, dan keperluanku.
Ketika sampai di depan kantorku, Aa memegang tanganku,
"Inget ya, makan, kalau laper jangan ditunda, nanti tambah mual. Kalau mau makan apa-apa, pesen. Oke" ucapnya.
"Siap dokter." aku menciumnya dan turun dari mobilnya.
"Ine.. lu dah dibolehin kerja sama bos lu?"
__ADS_1
Igun ternyata sampai di kantor juga.
"Iye, tapi lu mesti cari pengganti gue, gue gak tau apa yang akan terjadi, besok-besok"
"Oke, tapi bantu gue nyari ya" ucapnya.
Setelah hari itu, kantor membuka lowongan kerja sebagai sekretaris untuk Igun. Aku memang sudah berjanji kepada Igun, akan resign setelah aku menyerahkan tugasku kepada sekretaris baru. Tugas tambahanku, menyonding berkas-berkas lamaran. Banyak yang baru lulusan kuliah, dan beberapa yang memang sudah memiliki pengalaman dibidangnya.
2 bulan lamanya, kami memilih dan memilah surat lamaran, dan perutku semakin membesar. Tapi walau bagaimanapun, aku tetap semangat. Tak ada rasa mual berlebih, ketika hamil saat ini, tidak seperti hamil pertama, semua rasanya tidak enak. Kali ini. aku menikmatinya. Dan dalam hatiku, aku harus kuat, demi Alka, Aa, dan calon anakku.
"Gimana, ne? Udah dapet yang klop belum?" tanya Igun
"Banyak banget lamaran yang masuk. Tapi dari penampilan dan nilai, ada beberapa yang gue lihat, bisa jadi pengganti gue"
"Minggu depan kita coba panggil ya, sesuai janji lu, sampe kita ketemu yang benar-benar klop, lu boleh ninggalin perusahaan ini." ucap Igun sambil mengambil cemilan yang ada di mejaku.
"Ini meja sekretaris apa warung ya.. banyak amat cemilannya"
"Kan lu juga yang makanin, Gun.. Gue gak bisa kosong perutnya, mual banget. Gapapa kan?"
"Ya, bolehlah kalo lu mah, kalo gak, gue yang kena oceh laki lu. hahahha"
Kemudian dia masuk ke dalam ruangannya.
__ADS_1