SOULMATE

SOULMATE
119


__ADS_3

pesan Whats app masuk dari Kevin.


"Assalamu'alaikum. "


Aku ga balas pesan nya, ga mau. Hati tetep gak bisa di paksa berkali-kali Kevin megirim pesan juga, berkali-kali di awal aku mencoba merespon dengan baik, ternyata pada akhirnya aku nya ga mau balas ya mau gimana. Mungkin sama apa yang dirasakan a Rangga dulu terhadap Zara, berkali-kali Zara kirim pesan terkadang ga dibalas atau balas singkat aja a Rangga nya. Aku mengerti sekarang karena memang masalah hati ga bisa dipaksa, kalo a Rangga ga suka sama aku, ya udah ga bisa dipaksa. Setulus apapun aku mencintainya dulu, ya ga akan mempan, sama halnya Kevin sekarang berkali-kali mengirim aku pesan. Zara masih tetap Teguh pada pendiriannya, ga bisa membuka hati untuk Kevin.


"Katanya Zara ada di rumah tiap hari, tapi kemarin hari sabtu ga ada. Bilangnya mau nganter perpisahan sekolah. Ditanya pulang jam berapa ga tau. Tadinya mau silaturahmi ke Sukabumi. Hari minggu kirim pesan pagi, tapi ga di balas. Kalo di bales pesannya Kevin mau kerumah. Minta waktunya 15-20 menit


untuk silaturahmi secara tiba-tiba juga ga masalah. Langsung datang, jikalau tidak ada dirumah juga tinggal pulang lagi. "


Aku ga balas pesan Kevin karena aku bingung, kasian juga. Tapi aku ga mau, kalo Kevin dateng ke rumah ku jauh-jauh dari Bandung kan ga enak juga jika ga diterima dengan baik. Tapi aku juga tetep ga mau, dan belum siap nerima orang baru juga. Lagian memang sabtu dan minggu aku tidak ada dirumah, nganter perpisahan sekolah kekei, Hari minggu nganter nikahan Arya teman kecilku.


"Kalo ada ucapan Kevin yang salah maafin ya. "


"Iya." Zara balas seperti itu aja.


"Masih bisa silaturahmi dengan baik."


"Iya."


"Kevin hari rabu ke Sukabumi, Zara ada di rumah kan?"


Sepertinya aku harus tegas, dari pada diam. Karena diam tidak selalu menyelesaikan masalah. Malah menimbulkan tanggapan orang yang bisa jadi berbeda bahkan salah dengan apa yang aku maksud.


"Ga usah kesini aja. Zara nya masih ga mau, maaf ya. "


"Kabarin aja kalo udah mau ya. Dan semoga baik-baik aja. "


"Ga tau kapan. "


"Kevin ga kemana-mana, pagi ke pasar, siang cuci piring sore jualan. Kalo ada keperluan libur. "


"Maaf ya Kevin. Jujur hati aku masih untuk a Rangga, sampai kapanpun hanya a Rangga. Sekuat aku menolak perasaan ku, sekuat aku membohongi diriku sendiri, sejauh aku berlari menjauh dari nya. Perasaan ku masih sama hanya untuk a Rangga. Zara ga mau bertemu dengan siapapun dan membuka hati untuk siapapun. Masih butuh waktu lama. Maaf. "


"Iya ga apa-apa, yang penting Zara selalu bahagia. "


"Iya terimakasih banyak. "


Entah kapan A Rangga bisa keluar dari kepala ku, sampai saat ini aku belum bisa. Hanya sebentar saja. aku bisa melupakan nya ketika sedang sibuk dengan aktifitasku, ujung nya apalagi di waktu malam ketika menjelang tidur. Insomnia ku kumat, yang terlintas dipikiran ku hanya Rangga.. Ranga dan Rangga. Mungkin jika nanti aku tau, mendengar a Rangga sudah menikah, barulah Rangga hilang dari kepala ku, mungkin. Entahlah aku juga tidak tau.

__ADS_1


Padahal aku tidak tau Rangga bagaimana sekarang. Tidak pernah ngobrol dekat seperti dulu di awal kenal, tapi masih selalu ada di dalam hati aku. Aku sendiri tidak mengerti. Andai saja aku tau A Rangga telah bahagia dengan orang lain disana. Mungkin aku bisa melupakan nya. Andai saja dia cerita tentang kehidupan bahagia nya sekarang, mungkin perasaan ku akan berbeda. Terlalu banyak teka teki yang belum terungkap, terlalu banyak pertanyaan yang belum terjawab, terlalu banyak misteri yang belum terpecahkan. Entah kapan aku berhenti bertanya perasaan seperti apa ini? Perasaan apa ini? Benar atau salah? Apa hanya perasaan ku saja yang begitu kuat kepada A Rangga. Jawabannya Hanya tuhan yang tahu.


Pagi hari aku bersiap bersama Jarel, belanja Alat tulis ke sukabumi. Persiapan masuk sekolah anak SMA dan SMP sebentar lagi, beli kado juga untuk sodara dan tetangga ku yang lahiran.


"Aa jalan-jalan lagi yuk. "


"Ayo mah siap berangkat. "


Aku naik angkot lagi bersama Jarel, tidak perlu mikir BBM langka kata si Om kemarin bilang pas nganter belanjaan ku ke toko. Tinggal berangkat ya berangkat aja naik angkutan umum. Alhamdulilah selalu bersyukur bagaimana pun keadaan ku sekarang, Allah pasti selalu sayang dan selalu melindungi Zara. Aku yakin itu.


Aku mencari peralatan bayi untuk kado, lalu belanja ke toko Alat tulis. Seperti biasa jika belanja Zara tidak tau aturan, lupa pulang nya bawa barang sendiri jalan sampai pertigaan pemberhentian angkot.


Aku bawa dus belanjaan ATK sendiri berjalan mencari angkot. Berat banget dus ini memang isinya kertas dan buku tulis. Jarel berjalan dibelakang aku, mengikuti. Cuaca panas pula, Alhamdulilah tangan Zara masih kuat. Beberapa kali berhenti sampai akhirnya menemukan angkot.


Handphone ku berbunyi.


"Assalamu'alaikum, apa yah?" Ayah ku telpon.


"Ada yang beli pulsa lagi, ini nomor nya."


"Ok sebentar. " Memang dari berangkat ke sukabumi tadi aku bawa kertas dan balpoin, agar yang beli pulsa di toko tidak terlewatkan. Pejuang rupiah memang seperti itu. Kemanapun jualan tetap tidak ditinggalkan.


Sampai juga di rumah, tangan ku sakit sekali mungkin karena tadi membawa dus ATK nya lumayan jauh dari toko ke angkot.


Jarel mengirimkan fotonya tadi didalam angkot kepada Ditto.


"Mau kemana? " Ditto membalas.


"Pulang belanja buku. "


"Kapan mau main sama ayah? "


"Ga mau. "


"Jarel kemarin udah ada yang ngasih tas belum? "


"Belum. "


"Iya nanti kalo ada ayah cariin ya, mau warna apa? "

__ADS_1


"Iya.. warna merah. "


"Yang dulu kan merah, masa merah lagi."


"Kan aa suka nya warna merah ayah. "


"Ya udah dicariin warna merah ya. "


"Iya. "


"Apa mau nyari sama ayah bareng, mau ga? "


"Nggak. "


"Kenapa ga mau? nanti juga di anterin lagi ke rumah, jalan-jalan aja sama ayah."


"Nggak. beneran ga mau.. ah... " Jarel teriak.


Ditto membalas dengan emot ketawa.


"Heeuuhhh dasar, anak mamah. "


Jarel membalas dengan emot muka merah.


"Ya udah dadahhh."


"Preeetttt." Jarel merekam suara bibir nya. "


Ditto membalas hal yang sama.


"Hhahhhaahaaa.. " Jarel membalas dengan suara tertawa nya.


"Mamah katanya ayah mau beliin aa tas baru buat sekolah nanti." Jarel bahagia banget sambil tertawa memberikan handphone nya kepada ku.


"Iya paling juga nanti dikirim paket kaya kemarin sepatu. "


"Iya asikk.. tas baru dari ayah. "


Aku senyum melihat tawa anakku. Mudah-mudahan Ditto benar, mau membelikan tas sekolah untuk Jarel.

__ADS_1


__ADS_2