SOULMATE

SOULMATE
Sekuat tenaga menjaganya


__ADS_3

Pintu kamar dibuka pelan-pelan.


Aa memasuki ruangan dimana aku harus dirawat.


"Ibu," ucapnya sambil sungkem di kaki ibu.


"Maafkan Yopi, tidak bisa menjaga Ine dengan baik" ucapnya sedih.


"Bangun, nak.. " kemudian ibu memeluk Aa.


"Tidak, Yopi tidak salah. Yang salah adalah ibu," kemudian ibu menangis.


"Kita sama-sama jaga Ineke, ya" lanjutnya lagi.


Untuk sesaat mereka memandangiku.


Aku terbangun dari tidurku.


"A... " ucapku pelan.


"Ya sayang, " buru-buru dia menghampiriku.


"Aa disini kok.." lanjutnya


"Minum" pintaku


Aa langsung mengambil air minum untukku.


"Minumlah, pelan-pelan" ucapnya menyiapkan sedotan minum untukku, sambil mengelus rambutku.

__ADS_1


"Ada ibu juga, sayang." ucapnya.


Aku melihat ibu yang sedang duduk melihat kami.


"Ibu... kapan datang?" tanyaku.


"Ketika Ine tertidur tadi" kemudian ibu menghampiriku.


"Nak Yopi, kerja saja, biar ibu yang menjaga Ineke" ucap ibu.


Aa memandang ke arahku. Dan aku mengangguk tanda menyetujui omongan ibu.


Aa memelukku erat, dan mencium keningku.


"Kalau ada apa-apa, kabari Aa ya. Aa akan segera ke sini." ucapnya seraya berpamitan ke ibu.


"Dimana Alka, bu?" tanyaku


"Aku harus semangat. Aku tidak boleh selamanya di sini. Tanggung jawabku besar untuk anak dan suamiku. Itu yang menjadi tekad untukku. Walau terkadang, aku merasa tidak mampu. Hanya anemia biasa yang sering aku alami. Tak masalah. Aa saja yang terlalu takut dengan anemia ku." ucapku dalam hati.


Siang itu, Aa mengirimkan makanan ke kamarku. Sebelum Aa kembali bertugas, aku meminta dipesankan beberapa makanan. Aa juga membelikan ibu, untuk makan siangnya.


"Setelah Ine, makan, minum obatnya dulu ya nak." sambil meletakkan makananku dan memgambil obat yang telah disiapkan.


"Banyak sekali. Apa tidak mengganggu janin di dalam perut Ine?" tanya ibu dalam hati.


Setelah obat yang diberikan, aku merasa mengantuk. Dan tertidur. Ibu pun tetap di sana, sampai Aa selesai bertugas.


"Maaf, bu. Sudah merepotkan ibu" ucap Aa setibanya di kamar perawatanku.

__ADS_1


Ibu hanya tersenyum.


"Tidak apa nak. Tapi, apa obat sebanyak itu tidak masalah untuk kandungan Ineke?" tanya ibu.


"Itulah yang menjadi masalah kami, bu. Kasus Ineke, tidak seperti pasien biasa. Bu, Ineke mengidap penyakit Leukimia" ucap Aa bersikap tegar menceritakab penyakitku.


Ibu terduduk lemas mendengarkan ceritanya.


"Bukan anemia seperti biasa?" tanyanya.


"Bukan, bu. Setelah kejadian itu, Yopi mengambil sample darah Ineke. Dan Yopi sendiri baru menyadari hal itu. Tapi, kami berusaha memberikan yang terbaik buat Ineke. Tahap penyakit Ineke baru awal, bu. Kami yakin bisa menyembuhkannya. Bantu doa ya bu." ucapnya memegang tangan ibu.


Ibu yang masih shock mendengarkannya, hanya bisa terdiam.


"Inshya Alloh, Ineke akan sehat" ucapnya dalam hati berusaha saling tegar.


"Ya nak. Ibu pasrahkan Ineke kepada Yopi. Kabari ibu kalau ada apa-apa."


"Akan Yopi lakukan yang terbaik buat Ineke. Yopi juga tidak mau melihat Ineke seperti ini. Apalagi, Ineke sedang mengandung anak kami. Sekuat tenaga Yopi untuk menjaga Ine" ucapan itu menenangkan ibu.


"Ibu pamit pulang dulu ya nak. Kasian Alka dan ayah di rumah" sambil menyeka air matanya, dia mengingat Alka yang dititipkan kepada ayah.


"Yopi titip Alka ya bu"


Ibu tersenyum.


"Apakah Yopi menyayangi Alka?" tanya ibu.


"Bagi Yopi, Alka adalah anak pertama Yopi dan Ine" ucapnya lagi.

__ADS_1


Dan ibu pun tersenyum bahagia.


__ADS_2