
"Ehemm.. Kalian semalam tidur jam berapa memangnya sampai Rohit menangis saja kalian tak mendengarnya?" goda Anna.
Ragini dan Laksh saling lirik. Ragini menundukkan kepalanya karena malu. Laksh hanya mengelus tengkuknya.
"Mom"
Annapurna hanya terkekeh dan membersihkan piring di meja makan.
"Mom.. Mengapa semua kau bereskan? Aku lapar mom"
Annapurna menghampiri Laksh dan menjewer telinganya.
"Siapa suruh kau bangun siang, hah. Apa kau tak lihat jam berapa ini?"
Laksh langsung melirik ke jam dinding yg terpajang di dekat sana.
"Astaga! Jam 11? Benarkah? Jamnya mati kali mom"
"Laksh"
Laksh memeluk ibunya dan mengecup pipi ibunya.
"Aku hanya bercanda mom"
Ragini sudah melengos pergi menuju dapur.
Annapurna menyentuh pipi putranya itu.
"Aku sangat bahagia mom, semenjak Ragini hadir di hidupku, aku merasa kebahagiaanku kini semakin lengkap"
"Ibu juga sangat bahagia jika kau bahagia, Laksh"
Laksh semakin mempererat pelukannya.
"Ehem.. Kak kau itu sudah tua, masa masih bersikap manja seperti itu kepada ibu, ckck"
Laksh langsung melepaskan pelukannya dan berlari mengejar adiknya.
"Kak.. Hei hentikan"
Laksh masih terus mengejar Tanya. Ragini yg sedang membawa panci berisi air langsung panik saat Laksh menyenggolnya. Panci yg Ragini bawa terjatuh, kakinya terkilir dan tubuhnya akan terjatuh.
"Aaaaaaa"
Laksh langsung menoleh dengan sigap dia menangkap tubuh Ragini.
"Aaaaaaa"
Ragini memejamkan matanya, dia benar-benar sangat ketakutan.
Laksh merasakan itu saat tangan Ragini mencengkram pinggangnya erat. Ragini masih memejamkan matanya dengan ekspresi takutnya itu.
"Kau kenapa Ragini? Ada aku disini" ucap Laksh pelan.
Perlahan Ragini membuka matanya, dia menatap lekat wajah Laksh. Dan melepaskan pelukannya, saat dia ingin melangkah dia merasakan kakinya sakit sakit.
"Aaaawww"
"Hei ada apa?"
Ragini terdiam, dia memijat kakinya pelan.
Laksh yg khawatir dengan keadaan Ragini langsung menggendong tubuh Ragini.
__ADS_1
"Laksh.. Lepaskan.. Aku baik-baik saja"
Laksh tak menghiraukan perkataan Ragini, dia tetap menggendong tubuh Ragini menuju kamar mereka.
"Laksh.. Apa yg terjadi? Kenapa Ragini kau gendong seperti itu"
Laksh menatap kesal ke arah adiknya yg berada di belakang ibunya itu.
"Ibu tanya saja kepada anak kesayangan ibu, karena ulahnya Ragini jadi seperti ini"
Anna melirik Tanya, dia hanya menggedikkan bahunya.
"Sudah Laksh"
Laksh kemudian berlalu meninggalkan ibu dan juga adiknya.
Sesampainya di kamar Laksh merebahkan tubuh Ragini.
Dia terlihat cemas, dia mengambil krim di dalam laci dan mulai mengoleskannya.
"Laksh.. Aku baik-baik saja, kau tak usah marah-marah seperti tadi kepada Tanya"
Laksh hanya terdiam, masih terlihat jelas raut kemarahan di wajahnya itu.
Tangan Ragini membelai tangan Laksh.
"Jangan berisik! Aku akan memijat kakimu sebentar"
Ragini hanya terdiam dan mengangguk.
Laksh menarik telapak kaki Ragini hingga terdengar bunyi Kreek..
"Ah.. Laksh sakit"
"Apa sekarang terasa lebih baik?"
Ragini menggerakkan pelan kakinya. Dia tersenyum dan mengangguk.
Laksh kemudian beranjak dan duduk di samping ranjang Ragini.
"Aku tak ingin sesuatu terjadi kepadamu, Rag"
Ragini menyentuh pipi Laksh dan membelainya.
"I love you"
Laksh mengembangkan senyuman di bibirnya, dia mencondongkan badannya dan mendekatkan bibirnya untuk mencium bibir Ragini.
"Aaaaaa" teriak Tanya dengan menutup matanya.
Laksh hanya mendengus kesal.
"Dasar pengacau" gerutunya.
"Heh kak, aku hanya ingin mengembalikan Rohit, nampaknya dia kehausan dan ingin menyusu"
Tanya menghampiri Ragini dan memberikan Rohit kepadanya. Dia melengos pergi saat melihat Laksh.
"Menyebalkan"
Ragini membuka sedikit kancing bajunya dan mulai menyusui Rohit. Laksh menelan air liurnya saat dia melihat pemandangan seperti itu.
"Rag.. Aku juga mau"
__ADS_1
Ragini langsung menoleh dan melotot. Laksh hanya menggaruk tengkuknya.
Laksh mengecup bibir Ragini sekilas lalu pergi.
"Laksh"
Laksh menoleh dan tersenyum.
"Ada apa?"
"Kau mau kemana?"
"Bertemu ibu, jika aku terus menerus disini nanti yg aku aku juga ingin menyusu seperti Rohit" godanya dengan mengedipkan sebelah matanya.
"Laksh"
Laksh hanya terkekeh. Dia kemudian pergi.
Ragini membelai pipi mungil anaknya itu.
"Kau dan ayahmu adalah sumber kebahagiaan ibu, nak"
PRAAANNKKK
Tiba-tiba jendela kamarnya pecah dan dia melihat ada batu yg sengaja di lemparkan. Dia mengambil batu yg berisikan surat.
"Jangan terlalu bahagia, kebahagiaanmu adalah kebahagiaan semu karena kau telah merebut apa yg menjadi hak ku, lihat saja aku akan kembali dan mengambil hak ku. Laksh milikku, selamanya dia akan tetap menjadi milikku"
Ragini sangat ketakutan saat membaca surat itu, dia langsung duduk di ranjangnya dengan tangan yg masih memegang surat itu.
"Ragini.. Apa yg terjadi? Aku mendengar suara gaduh dari kamar ini"
Ragini langsung menyembunyikan surat itu di belakang punggungnya.
"Ragini.. Apa kau baik-baik saja?" tanya Laksh khawatir.
Ragini mengangguk.
"Astaga! Bagaimana bisa jendela kamar ini kacanya pecah?"
Laksh menatap tajam, dia mengambil batu kecil itu.
"Hmm mungkin ada yg tak sengaja melemparnya Laksh"
Laksh langsung melangkah ke dekat jendela itu, matanya celingak-celinguk mencari seseorang.
"Hmm menyebalkan.. Kau tunggu disini Rag, aku akan panggil orang untuk mengganti kaca jendelanya, ada-ada saja"
Laksh berlalu pergi, Ragini kembali membaca surat itu.
"Apa maksud semua ini? Siapa dia? Apa yg dia inginkan? Laksh?"
Ragini merasa sangat cemas, dia tak ingin jika Laksh nya di renggut darinya.
Ragini langsung memeluk erat tubuh mungil jagoan kecilnya itu.
"Sayang.. Ibu janji apapun yg nantinya akan terjadi kita akan selalu hidup bersama ayahmu, nak"
Ragini menatap foto pernikahannya dengan Laksh.
"Ku mohon Dewa lindungilah kami" ucapnya.
Surat itu benar-benar membuat Ragini sangat gelisah. Dia benar-benar tak ingin Laksh meninggalkanya, karena dia sudah terlanjur sangat mencintai suaminya itu.
__ADS_1
To be continued...