
Di perjalanan pulang, tiba-tiba suara Alka hilang. Aku menoleh ke belakang. Ternyata anak kecil itu sudah tidur. Dia kelelahan karena habis bermain di pantai tadi.
"Biarkan Alka tidur, sayang." ucap Aa.
"Maaf, A. Alka merepotkan ya tadi? Kasian dia" ucapku menatap lirih anakku yang malang. Di usia sekecil itu, dia harus kuat menghadapi perceraian orang tunya, dan akhirnya papanya pergi untuk selamanya. Aku meneteskan air mataku. Aa mengusap air mataku.
"Kenapa menangis?" tanyanya.
"Ine bukan mama yang baik untuk Alka" jawabku.
"Ngomong apa sih sayang. Siapa yang bilang? Ine sudah sangat baik san sempurna menjadi seorang mama." ucapnya.
Aku menangis. Seandainya mas Herli masih hidup, Alka akan merasakan hangatnya pelukan papa kandungnya. Seandainya mas Herli tidak melakukan hal bodoh, hidup Alka akan bahagia. Semua yang ada di otakku membuat aku sedih dan menangis. Ingin ku peluk bocah lucu itu. Tapi, perjalanan ini memisahkan aku dan Alka kecilku.
"Sudah sayang, tidak usah memikirkan hal yang aneh-aneh. Tadi Alka sangat asik bermain. Mbak Ike, mbak Linda, dan mbak Farah juga menjaganya bergantian. Tadi juga Alka main sambil di suap makan oleh mbak Ike. Ine gak usah mikir yang aneh-aneh ya." ucapnya mengelus kepalaku.
Lega rasanya mendengar penjelasannya.
Perutku berbunyi. Aku tersenyum lebar.
__ADS_1
"Makan ya sayang. Kita mampir di rest area aja ya." ucapnya.
Aku pun tersenyum.
Setelah memarkirkan mobil, Aa mengajakku turun.
"Ayo sayang, mau makan apa?" tanyanya.
"Ine tunggu di mobil aja deh, A. Kasian Alka, dia baru tidur." ucapku.
"Hm.. baiklah. Sayang mau makan apa?" tanyanya lagi.
"Ayam geprek itu saja, tolong belikan ayam goreng buat Alka ya, A. Siapa tau dia bangun dan lapar" ucapku.
"Baiklah, sayang. Tunggu ya" kemudian dia mengecup keningku.
Ulahnya, yang baru beberapa langkah, selalu melihat ke arah kami, membuat aku tertawa. Kemudian dia berjalan sampai di counter ayam geprek.
Beberapa saat aku memperhatikan gerak gerik lelaki yang mengerti aku dari jaman sekolah sampai saat ini. Aku merasakan mual. Sangat mual. Kenapa pandanganku kabur. Aku keluar dari mobil, dan akhirnya,
__ADS_1
hueeekk.. hueeekkk..
entah berapa banyak cairan yg keluar dari mulutku, sampai rasanya pahit sekali.
Aku mendengar suara hentakan kaki seperti orang berlari. Tapi aku tidak dapat melihat ke arahnya, dan semua menjadi sangat gelap.
Entah apa yang terjadi.
Saat itu aku berada di sebuah ruangan yang sangat terang, diantara bunga-bunga yang sangat cantik. Aku berjalan sendiri. Pemandangan itu sangat bagus sekali. Aku mencium bunga-bunga itu. Pada akhirnya aku berjumpa dengan orang-orang yang sama sekali tidak aku kenal. Mereka tersenyum kepadaku. Tetapi, mereka tidak bersuara. Semua yang melihat ke arahku memberikan senyuman ramah. Aku terus berjalan menyusuri taman yang indah itu. Jembatan itu. Di seberang jembatan itu, bunga berwarna warni lebih indah dari tempat aku berdiri. Aku ingin sekali ke sana.
"Maaaa... mama... " aku melihat ke belakang, saat itu aku sudah berada di tengah jembatan itu.
"Maaaaa... sini maaa... jangan ke sana maaa.. Mama jangan ke sana." jerit Alka.
"Sayang... kemari" ucap perempuan cantik yang ada di ujung jembatan itu.
"Maaa.. jangan maa... Alka sayang mama" tiba-tiba Alka menangis.
Aku bingung. Aku harus kemana.
__ADS_1
Aa berlari ke arah Alka.
"Sayang... pulang... sayang... jangan tinggalkan kami" kemudian Aa menangis.