SOULMATE

SOULMATE
Kesabaran berbuah Manis


__ADS_3

Sudah 2 minggu, Ineke tidur. Dia belum melihat bayi mungilnya.


"Sayang... belum bangun ya? Hari ini anak Kita genap berusia 2 minggu. Dia pintar sekali. Sesekali, ibu berkunjung ke rumah kita. Abang Alka juga pintar, setiap adiknya haus, selalu meminta susu ke bu Min. Syang.. Nanti kalau sudah bangun, kita foto keluarga ya. Keluarga kita lengkap sekali. Kita punya sepasang anak yang pintar. Sayang, Aa rindu. Aa sayang Ine."


Setiap hari, sebelum dan sesudah bertugas, dokter Yopi selalu mengunjungi istrinya. Sabtu dan Minggu juga, dia tak pernah absen untuk berada di samping istrinya. Mukanya yang dulu bersih, sekarang ditumbuhi rambut yang tidak teratur. Rambutnya yang dulu rapi, sekarang sering acak-acakan.


"Kasian dokter Yopi, sejak istrinya melahirkan dan sampai sekarang tak sadarkan diri, sudah berapa kali di tegur dokter Ferdi, soal kerapihan." ucap perawat yang merasa iba kepadanya.


"Bro... rambut lu dah panjang, muka lu juga gak banget sih. Sempetin ke pangkas rambut gih. Mana dokter Yopi yang klimis itu?" ucap dokter Andra yang menjadi salah satu teman akrabnya.


"Gak sempet gue, mikirin Ineke aja buat gue sedih. Yang terpenting, gue bisa selalu ada di samping Ineke" Begitulah jawaban dokter Yopi. Dokter Andra tidak dapat berkata-kata lagi.


Seperti biasa, dokter Yopi masih ada di samping Ineke yang masih tidur. Sesekali, dia membasuh muka dan tubuh Ineke. Ia selalu mengajak Ineke bercerita tentang pekerjaan di Rumah sakit, klinik, dan di rumah.


"Sayang.. Aa gak kuat lagi.. Aa menyerah.. Aa gak tau mau berbuat apalagi. Aa gak tega lihat Ine seperti ini." Dia menundukkan kepalanya dan menggenggam tangan Ineke.


Ada getaran saat menggenggam tangan itu. Aa terkejut. Dan dia menekan tombol untuk memanggil perawat.

__ADS_1


Aa memeriksa Ineke dengan stetoskop yang ada di lehernya. Gerakan pertama setelah sekian lama Ineke tidak bergerak sama sekali.


"Sayang. Lihat tangan Aa?" Kemudian dia menggerakkan tangannya ke kanan dan ke kiri. Perawat mencatat kemajuan yang ada pada Ineke.


2 hari berlalu, dan perlahan, keadaan Ineke mengalami kemajuan.


"Kesabaran dokter Yopi, berbuah manis" ucap perawat di ruang ICU yang terharu atas perjuangan dokter Yopi.


Ineke tidak banyak bicara, lidahnya masih kelu. Dia hanya menatapi lelaki di sampingnya yang masih sering mengeluarkan air mata.


"Sus.." Ineke memanggil suster yang sedang bertugas di ruang menyeramkan itu.


"Siapa nama dokter yang selalu di ruang ini? Sepertinya saya kenal"


Suster itu bingung. Hampir 3 bulan Ineke menutup mata, dan dokter Yopi, suaminya sendiri, dia tidak tau? Suster itu tersenyum.


"Itu dokter Yopi, bu"

__ADS_1


"Yopi Adrianus? Ah.. gak mungkin. Pacar saya itu, orangnya rapi. Lagian, dia lagi dinas di Bali. "


"Pacar?" spontan suster itu bingung.


"Ibu istirahat saja? Jangan banyak memikirkan sesuatu ya bu."


Ineke mengangguk. dan suster pun segera melanjutkan tugasnya.


"Masa ada 2 nama Yopi Adrianus. Tapi kan Aa kurus tinggi aja, kok Yopi itu badannya jd gede gitu?" tanyanya dalam hati.


"Selamat sore, sus"


Suara itu mengejutkan para suster yang sedang asik mengerjakan tugas di mejanya masing-masing.


"Sore, dok. Oh ya dok.. tadi bu Ineke berbicara kepada saya. Dan dia tidak mengenali dokter. Sepertinya, ada ingatan yang hilang."


Dokter Yopi, bingung. "Terima kasih infonya, saya coba lihat istri saya dulu ya"

__ADS_1


Aa segera menuju ruangan dimana Ineke berada. Dipandangnya sosok perempuan yang dia cinta.


"Kamu siapa?"


__ADS_2