
Anak kecil itu memeluk Bu Min yang mengasuhnya dari bayi.
"ayo pulang" rengeknya kepada 2 orang tua di hadapannya.
"Ya den. Bu Min mau liat mama sebentar ya. Lagian ini barang papa, besok papa pakai apa? Ayo den, kita sekalian pamit sama mama" ucap Bu Min.
Langkah Alka berat untuk kembali ke kamar itu. Dia memegang erat tangan Bu Min.
"Mama sudah tidur, sayang. Abang cium aja ya mamanya" kemudian, dokter Yopi menggendong Alka, agar mudah untuk mencium mamanya.
"Abang jangan nakal ya nak. Doakan mama lekas sembuh."
"pa, mama tidak benci Alka, kan?"
"tidak, sayang. Papa akan kembalikan ingatan mama lagi" ucap dokter Yopi menenangkan Alka.
"Bu Min, tolong letakkan di lemari itu ya pakaian saya, maaf merepotkan" lanjutnya.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, dok" Bu Min meletakkan pakaian bersih, dan mengambil pakaian kotor.
Hari-hari berikutnya, Ine dianggap sudah bisa kembali ke rumah. Tetapi, Ine harus tetap kontrol dan selalu menjaga kesehatannya.
Keluarga siap-siap untuk menyambut kedatangan Ine kembali ke rumah mereka.
Ketika mobil jenis HRV putih itu terlihat memasuki gerbang pintu rumah, mereka semua tampak bahagia. Kecuali Alka. Anak kecil itu hanya diam di dalam kamarnya.
"Alka.. mama sudah sampai, sayang" teriak eyang putrinya. Tetapi Alka tetap diam di kamar. Ia tidak mau melihat mama yang melahirkannya. Ia takut, akan penolakan mamanya lagi. Trauma itu membekas di pikiran anak kecil itu. Alka memegang mainan di tangannya, tanpa memainkannya.
Ineke melihat album foto pernikahannya dengan dokter Yopi. Semua tampak bahagia. Dan di sana ada Alka yang ketika itu berumur 3 tahun. Ine melirik ke suaminya.
"Aa menerima Ine, dengan konsekuensi, menerima Alka juga. Aa mencintai kalian berdua. Alka anak yang Ine lahirkan dari rahim Ine." sebenarnya, kalimat itu sudah sering didengar oleh Ine. Tetapi, karena sebagian ingatan Ine hilang, jadi dokter Yopi mencoba mengingatkan kembali.
"Istirahat dulu, sayang. Ine sudah cukup lelah hari ini." ajak dokter Yopi.
"Bu Min, apakah kamar kami sudah dirapikan? peralatan Alika, sudah di letakkan di kamar kami kan?" tanyanya
__ADS_1
"Sudah, dok. Apakah tidak apa-apa, kalau den Alika harus tidur di atas? Biar saya yang rawat saja, dok. Paling tidak, sampai nak Ine benar-benar sehat"
'Tidak apa, Bu... Ine sudah sehat kok"
Kemudian mereka melangkah menuju kamar mereka.
"Selamat istirahat, putri kecilku." Ine meletakkan Alika di box bayi yang telaknya tidak jauh dari tempat tidurnya. Dan Ine membaringkan tubuhnya di atas spring bed yang sudah lama dia tinggalkan.
"Kok belum tidur, sayang? Istirahatlah. Biar besok fit lagi." tanya dokter Yopi.
Ine menepuk spring bed itu, meminta dokter Yopi untuk tidur di sana. Ine berbaring di lengannya.
"Kenapa Aa mau menikah dengan Ine? Padahal Ine sudah berstatus janda dan beranak 1?" tanyanya sambil memeluk suami yang telah sabar merawatnya.
"Its all because i love you, dear."
mata Ine berkaca-kaca mendengar kalimat singkat itu.
__ADS_1