SOULMATE

SOULMATE
108


__ADS_3

Hari ini aku membawa CPU ke toko komputer, aku mengantar Jarel dulu ke sekolah. Semoga biaya service nya tidak terlalu mahal. Sekalian belanja ATK juga.


Ternyata belanjaan ATK ku berat juga. Berjalan dari toko ATK sampe tempat angkot aja rasanya seperti dari Sukabumi ke Bandung, jauh banget.


Dijalan pulang tidak seperti yang aku perkirakan, aku lihat jam 9.50 Aku masih diterminal. Aku telpon saudara ku, untuk jemput Jarel sekalian. Karena kasian kalo nyuruh ayah yang jemput, di toko ga ada siapa-siapa juga.


"Neng mau jemput Raja ke sekolah ga? kalo mau teteh titip Jarel suruh ikut aja dulu kerumah, teteh masih di terminal pulang dari sukabumi. "


"Mau, Oh iya teh boleh. Nanti Jarel ikut Neng aja dulu ke rumah, main sama Raja. "


"Iya, makasih. "


"Sama-sama teh. "


Seperti itulah kalo naik angkutan umum, waktu nya tidak bisa kita atur sendiri, Gimana bapak sopir aja, harus banyak sabar.


Jam 10.30 aku turun di depan rumah saudara ku.


"Aa ayo pulang yuk. "


Anakku nangis ga mau pulang, mau main bareng sama Raja anak saudara ku.


"Ga apa-apa teh Jarel nya main dulu aja disini ya. "


"Males lagi jemput nya nanti ga ada orang."


Aku membujuk anakku untuk pulang, dan akhirnya dia mau.


Sampai di rumah ternyata ada paket dari Ditto, setelah aku buka ternyata isinya sepatu untuk Jarel. Hal pertama yang aku lihat harga pastinya. Dan sesuai dugaan ku, harganya mahal banget. Sayang, mending buat beli beras sama terigu.


Tapi seperti itulah Ditto, dia selalu bilang


"Jangan pernah lihat harga, kalo mau ambil aja. "


Aku kan beda orang nya, setiap mau beli apa-apa lihat harga dulu, baru model nya. Kalo harga nya pas dikantong baru modelnya pas di hati.


"Aa nih coba dulu sepatu dari ayah. "


Jarel langsung tertawa kegirangan. Dia langsung mengirimkan voice note kepada Ditto.


"Ayah sepatu nya udah dateng, makasih. "


Ditto pun langsung membalas.


"Muat nggak? "


"Muat, Ayah mau lihat aa pentas seni ga disekolah. "


Anakku berharap ayah nya datang ke acara sekolah.


"Ga bisa, soalnya ayah mau ke Bandung ke tempatnya tante Hana. "


"Oh iya. "


"Aa makan yang banyak ya, biar sehat. Terus jangan nakal sama mamah. "


"Iya. "


"Nanti belajar nulis ya. Biar bisa baca tulisan ayah. "


"Iyaaaaahhh. Ayah aa mau mandi dulu. "


"Ya udah nanti lanjut lagi ok, mmmmuuaahhh. "


"Iya Dadah. "


Senang nya Jarel, sekarang bisa komunikasi lancar dengan ayah nya, dia menggangap ayah nya sedang tugas luar, Dinas kerja di luar kota.


"Mamah minjem handphone. "


"Mau apa? "


"Mau whats app ayah lagi. "


"Boleh. "


Aku memberikan handphone ku kepada Jarel. Dia mengirimkan voice note lagi kepada Ditto.


"Ayahhhh... "


"ihh.. katanya mau mandi."

__ADS_1


"Kan udah beres. "


"Coba Jarel foto, terus kirim ke Ayah. "


"Mamah ayah bilang suruh foto aa." Jarel menghampiri ku ke toko.


"Ya udah foto aja, terus kirimin bisa kan? "


"Bisa. "


"Jarel gendut ih pipinya sekarang. "


"Kan naik 2 kilo. "


"Jarel toko nya rame ga?


"Ga rame. "


"Banyak yang beli ga? "


"Banyak, teman-teman ngaji aa pada jajan ke sini. "


"Oh iya."


"Ayah, aa sekolahnya jalan kaki, pake topi aja, panas. "


Jarel mengirimkan foto memakai topi barunya.


"Mobilnya kemana? "


"Di jual, ga punya uang. "


"Ya udah ga apa-apa nanti beli lagi yang baru. "


"Iya. "


"Jarel udah makan belum?"


"Udah. "


"Sama apa? "


"Sama mie goreng. "


"Oh ayah makannya sama nasi kuning. "


"Iya, nanti udah makan mau nyetrika dulu. "


"Iya dadah. "


Jarel menghampiri aku dan mengembalikan handphone ku.


"Udah bukan ngobrol sama ayah nya? " aku bertanya kepada anakku.


"Udah, ayah nya mau makan terus nyetrika."


"Oh iya. "


"Kok ayah nyetrika sendiri, kan biasanya mamah yang nyetrika baju ayah. " Jarel heran


"He. he. aku tersenyum. Ga apa-apa biar pinter ayahnya. "


"Oh iya. aa juga nanti mau belajar.


"Iya boleh, nanti kalo udah gede."


"Iya. "


Mungkin Ditto juga belum menikah lagi, tapi entahlah aku tidak tau dan tidak mau tau tentang kehidupan pribadinya. Yang penting hubungan dengan Jarel baik, supaya anakku tidak terlalu kehilangan sosok ayah. Masih bisa berkomunikasi meskipun hanya mendengar suaranya.


Tidak ada salahnya berdamai dengan situasi dan menerima keadaan yang seperti ini. Meskipun kami tidak bersama seperti keluarga yang seperti dulu. Setidak nya kasih sayang dan perhatian untuk anak tidak hilang karena itu adalah hak anak kita untuk mendapatkan kasih sayang yang penuh dari kedua orang tuanya apalagi di masa usia Jarel sekarang.


Biarkan urusan pribadi aku dan Ditto menjadi urusan masing-masing tapi tidak bercampur dengan tanggung jawab terhadap anak. Anak tetaplah anak, sampai kapan pun tidak akan ada yang namanya bekas anak.


Ada pesan whats app masuk dari Kevin, eh udah lama ternyata muncul lagi.


"Assalamu'alaikum. "


"Wa'alaikum salam. "


"Alhamdulilah, Zara gimana kabarnya? "

__ADS_1


"Alhamdulilah sehat. "


"Udah pulang? "


"Dari mana? "


"Dari depan toko? "


"Oh udah. Baru beres menulis kelanjutan novel ku. "


"Jagoan kemana? Novel baru lagi? "


"Nginep dirumah neneknya, masih melanjutkan novel Soulmate. "


"Masih bersambung."


"Masih. "


"Mau berapa episode lagi. "


"Entahlah, orang Cinta sejati nya aja belum bertemu sampai detik ini. "


Tiba-tiba handphone ku berdering, aku lihat Kevin telpon. Aku tidak menjawab, karena aku tidak suka.


"Maaf kevin aku ga suka."


"Oh iya ga apa-apa. "


"Udah banyak itu berapa episode. "


"Ya begitulah, namanya juga perjalanan menemukan Cinta sejati dalam keindahan skenario tuhan. Masa mau tamat begitu aja, sebelum bertemu Cinta sejatinya, ga rame dong. "


"Inikah Cinta sejati? Zara jangan mencintai, biar aku saja yang mencintai kamu dan anak kamu. " Kevin bilang seperti itu.


"Entahlah. Kan yang mencintai itu hati. "


"Dengan tindakan dan perbuatan. " Kevin membalas.


"Ketika tindakan, hati, logika, perasaan, jiwa, pemikiran berada pada titik yang sama itulah Cinta. Disitulah kita baru merasakan yang namanya Cinta yang sesungguhnya. "


"Wanita itu dicintai, jangan mencintai. Kalau lepas akan sakit. Yang sakit biar aku saja. "


"Terus kalo dicintai aja bisa bahagia gitu? "


"Bisa bahagia, itulah pemikiran Kevin. "


"Alhamdulilah ya kalo gitu. "


Buktinya selama 6 tahun aku dicintai Ditto, sedangkan aku tidak begitu mencintai dia. Pada akhirnya Ditto menyerah dan kami pun berpisah. Terakhir Ditto bertanya kepada ayah ku.


"Ayah coba tanya Zara, apa Zara mencintai aku. "


Ayah ku tidak menjawab.


Ditto pun tahu betul aku tidak mencintai dia sepenuhnya. Kita hanya berkomitmen, Sedangkan berkomiten itu bisa berjalan tanpa Cinta atau dengan Cinta tinggal kita yang memilih.


"Kita ke pa penghulu aja yu. " Kevin bilang seperti itu.


"Tidak semudah itu " Aku ga mau buru-buru sebelum mengenal betul orang nya, karena aku tidak mau mengambil resiko, lebih baik hidup bahagia sendiri daripada harus bercerai lagi.


"Sehat-sehat ya. Semangat."


"Iya harus. "


"Hidup harus terus berjalan. Yang kemarin anggaplah tergelincir masuk jalan yang berlubang. "


"Iya ini juga lagi menikmati indahnya hidup sendiri. "


"Iya apapun yang kamu lakukan asalkan membuat mu bahagia dan hati tenang."


"Nah itu. "


"Dan tujuan hidup kan untuk bahagia dunia akhirat "


"Iya."


"Makan dulu sana, biar ga gampang sakit. "


"Udah tadi."


"Oh iya, wilujeng nilepan bulu soca. "

__ADS_1


"Iya. "


__ADS_2