SOULMATE

SOULMATE
Aroma tubuh yang dirindukan


__ADS_3

Aku membereskan bekas makan kami.


Bu Min, biar Ine yang cuci piringnya, bu Min yang lain saja ya.


Ketika aku baru saja mengelap tanganku yang basah, pak Min menghampiriku lagi.


"Dokter Yopi, nak" ucapnya


Aku menggeleng


"Iya sayang, Ine baru selesai makan, ini mau nemenin tidur Alka di kamarnya"


"Ponselnya belum diambil ya?"


"Belum, nanti Ine minta tolong pak Min ambil di kamar kita ya" ucapku pelan sambil menepuk pelan Alka.


"Aa kangen" ucapnya


"Sama.. Nanti kalau sudah selesai, cepet pulang ya pa, Alka udah mau terlelap. Udah ya"


"Ya, mimpi indah" lanjutnya


"Pak, ini.. oh ya pak, tolong ambilkan ponsel Ine ya, di atas meja rias Ine. Makasih ya pak. Kalau sudah selesai, bapak dan ibu istirahat saja dulu." ucapku.


"Ya nak, terima kasih."


Aku merasa beruntung sekali, memiliki pak Min dan bu Min yang mendampingiku. Saat susah dan senang, mereka selalu ada di dekatku. Entah bagaimana tanpa mereka.


Siang itu, aku tidur memeluk Alka.


Sudah lama tidak tidur siang, rasanya enak sekali mengistirahatkan tubuh ini.


"Ine dimana, bu?" tanyanya kepada bu Min


"Masih tidur di kamar Alka, dok.."

__ADS_1


"Oh ya, tolong bawakan barang-barang ya. Saya tadi belanja buah."


ucapnya kepada pak Min.


Aa mengendap masuk ke dalam kamar Alka. Ternyata, Alka sudah bangun, dan ketika melihatku, dia beranjak dari tempat tidurnya.


"Stt. pelan-pelan sayang, mama masih tidur ya?" tanyanya kepada Alka yang memeluknya.


"Alka mengangguk. Pipis dulu ya nak, yok ke kamar mandi dulu" Aa dengan sabar mengajak Alka ke kamar mandi. Mereka berjalan mengendap-endap, tapi aku tahu apa yang mereka kerjakan. Aku pura-pura tidak tahu. Aa juga menggunakan bahasa yang halus, walau Alka hanya anak sambungnya.


"Pa, abang mau susu," ucap Alka.


"Ya sayang, sebentar ya nak. Papa buatkan dulu"


Kemudian Aa keluar kamar membuatkan susu untuk Alka, Alka kembali naik ke atas kasurnya.


Aku memeluk tubuh mungilnya lagi.


Aa masuk ke dalam kamar Alka,


Aku membalikkan tubuhku dan memeluk pinggangnya dan mencium dadanya.


"Ih.. udah bangun. Maaf, suara Aa kekerasan ya"


Aku menggeleng dan duduk di sampingnya.


"Terima kasih sayang, udah jadi papa yang baik buat Alka, padahal Alka bukan anak kandung Aa" ucapku sedih.


"Alka bukan dari Aa, tapi Alka adalah anak yang Ine lahirkan, jadi Alka juga anak Aa. Aa menerima Alka, karena Aa sayang sama Alka."


Aku memandangnya.


Alka seperti mengerti apa yang papa sambungnya katakan, Alka mencium pipi Aa.


"Sayang, Ine kepingin makan yang seger-seger. Apa ya?"

__ADS_1


"Buah ya sayang"


"Gak.. pengen yang pedes, seger gitu ya bangun tidur gini"


"Bakso kan?" lalu dia tertawa melihat jawabanku yang hanya tersenyum lebar.


"Pesan online atau makan disana." tanyanya


"Online saja, di Lapangan **ba* aja ya."


Dan Aa pun langsung memesan makanan.


"Alka, mama ke kamar mama dulu ya nak.Alka mandi sama bu Min ya sayang"


ucapku karena melihat Aa belum mengganti pakaiannya.


Aku menyiapkan baju salinannya.


Entah kenapa, sore itu aku memandangnya makin tampan dengan kemeja panjang yang di gulungnya.


Aa merasa aku perhatikan.


"Kenapa liat Aa. Ada yang aneh" tanyanya.


"Gak.. cuma kadang Ine masih gak percaya kalau kita bisa hidup bersama."


Dia memelukku.


"Tapi inilah kenyataannya. Ine disamping Aa sebagai istri Aa, Ine adalah mama dari calon anak Aa."


Aku mencium pipinya, dan memeluknya.


"Jangan mancing deh sayang"


"Ine cuma mau mencium harum tubuh Aa, diem sebentar aja."

__ADS_1


Dia membiarkan aku mencium aroma tubuhnya. Karena aroma tubuh itu yang aku rindukan setiap saat.


__ADS_2