
"Sayang, kalau kita diberi amanat seorang bayi, pengennya apa? Laki-laki atau perempuan?" tanyaku
"Sedikasih Allah aja. Yang penting, Ine sehat dan bayinya juga. Aa gak mau lihat Ine tersiksa"ucapnya sambil fokus melihat jalan yang sedang hujan itu.
"Gak pengen jajan dulu, atau ada yang mau dibeli? Mayan buat isi tenaga abis tempur nanti malem."
Aku menoleh sinis, dan dia pun tertawa.
"Martabak telur aja ya, enak kali ya"
kemudian dia memarkirkan mobil di depan penjual martabak langganannya.
tiin tiiin...
Klakson Aa berbunyi, tetapi, karena hujan deras, mereka tidak mendengar.
"Tunggu ya," ucapnya.
"Pakai payung, A.." aku merogoh bawah jok mobil, dan kudapatkan.
Tetap saja, dia basah kuyup.
"Maaf, dok, saya tidak mendengar" ucap pak Min
"Tidak apa-apa, pak"
Kemudian pak Min mengunci pagar dan segera masuk ke rumah.
Ternyata Alka sudah tidur.
__ADS_1
"Simpan saja di lemari es, ya bu. Besok kalau Alka mau, kasih aja, tapi jangan banyak-banyak, nanti flu"
Dan bu Min pun mengiyakan, sambil menyiapkan makan malam.
Aku mengeringkan badan Aa yang basah karena turun dari mobil tadi.
"Langsung mandi saja, nanti sakit."
"Berdua ya" ajakan nakalnya mulai beraksi.
"Ine mau siapkan baju Aa. Mandilah"
Dia menggeleng dan naik ke atas tempat tidur.
"Ayo mandi, nanti dingin masuk angin, ingat, pekerjaan di depan mata, dokter itu gak boleh sakit, kalau sakit nanti pasiennya siapa yang ngobatin"ocehku panjang lebar.
Dia langsing menghentikanku dengan kecupannya.
kemudian dia mengecup bibirku lagi, kali ini dia melanjutkan permainan bibirnya ke atas tempat tidur. Dan...
"Sudah puas, dokter?" tanyaku
"Belum, nanti lagi" kemudian dia tertawa.
"Mandi gak, kalau gak, Ine duluan nih"
kemudian aku segera masuk ke dalam kamar mandi. Dia yang masih mengatur nafasnya tetap berada di atas tempat tidur.
Makan malam yang sudah disiapkan jadi dingin kembali karena kami terlalu lama di kamar.
__ADS_1
Ketika Aa mandi, aku turun untuk membawakan makanan ke dalam kamar.
"Tidurlah bu.. biar Ine yang beresin"ucapku kepada bu Min yang terlihat letih.
"Makan dulu, A. Sudah Ine bawakan." Kemudian kami menyantap makan malam kami.
"Sayang, akhir bulan, ada libur di hari kamis. Kita ke Bali, atau ke Raja Ampat?" tanyanya.
"Berapa hari?"
"Kita berangkat Kamis pagi, pulangnya Minggu pagi"
"Kalau Raja Ampat, kejauhan, Pengen sih, tapi waktunya dikit. Kita ke Bali aja" ucapku.
"Ya sudah, Aa mau pesan tiket. Buka mulutnya" ucapnya sambil menyuapiku.
"Done.. Tiket Pulang Pergi sudah dipesan, semoga tidak ada halangan ya sayang."
Malam itu hujan turun sangat deras, dan kami menikmati hujan itu dengan tidur yang pulas.
Akhirnya waktu yang di tunggu sudah tiba, saatnya packing buat acara honeymoon.
"Sayang, bawa seperlunya aja, kan kita gak lama di sana." ucapku yanh melihat suamiku membawa banyak sekali peralatan.
Antusiasnya untuk honeymoon luar biasa. Walau, sebenarnya ini adalah honeymoon pertama untukku, dulu ketika dengan papanya Alka, kami tidak melakukan perjalanan honeymoon, karena memang aku yang tidak mau pergi. Tapi, aku berpikir, buat apa bawa banyak baju, nanti gak kepake juga.
"Sayang, pesawat kita jam 10 loh, ini jam 6 pagi," ucapnya mengajakku yang malas-malasan, masih ada di tempat tidurku.
"Minum dulu susunya," lanjutnya memberikan susu pra kehamilan.
__ADS_1
"Aneh, kemaren dia yang pengen cepet-cepet berangkat, sekarang jadi gini, ada apa ya?" tanyanya dalam hati.