
1 Hari terlewatkan dengan keadaanku yang lemah. Tapi, Sabtu pagi itu keadaanku membaik. Dokterku sangat telaten merawatku. Aku sudah segaran. Madu, obat, makan, teratur di berikan.
Aku melihat dia yang tidur di sampingku. sambi memegang kepalaku.
"Sayang, gimana keadaan hari ini?"
Aku memeluknya,
"Ine cepet sembuh, Ine udah gak demam lagi kan? Dokter Ine baik banget mau jaga Ine. Terima kasih, sayang" ucapku.
Dia memelukku. Dan mencium keningku.
"Pasien Aa sudah sehat lagi. Alhamdulillah,"
Matahari di Bali, lebih cepat munculnya. Aa membuka jendela kamar. Hanya tirai putih yang tersisa. Aku bangun, dan memeluknya dari belakang, dan mencium pundaknya yang sedang tidak memakai baju,
"Terima kasih, A, sudah merawat Ine dengan sabar. Sekarang Ine sudah sehat lagi."
Dia membalikkan tubuhnya yang kekar dan memelukku.
"Aa seperti ini karena cinta Ine"
__ADS_1
Dia menciumku.
Entah energi pagi yang datang dari mana, aku sangat bergairah. Dan kami melanjutkan perang bibir di atas ranjang yang empuk itu.
Dia menghentikan sesaat,
"Ine masih lemas, nanti kecapekan, gapapa kok, masih ada waktu, nanti kita rencanakan kembali jalan-jalan kita ya, ucapnya membelai rambutku yang hanya sebahu."
Aku menariknya sehingga sekarang dia yang aku kuasai. Kami melakukan seperti binatang buas yang hendak saling memangsa. Pagi ini kami melakukan itu dengan suasana yanh sangat sahdu, diiringi oleh matahari yang baru keluar dari peraduannya. Bertubi-tubi pelurunya menghantam pertahananku, dan akhirnya kami merasa sama-sama diatas kenikmatan, makin lama, gerakannya makin pelan, dan kami telentang lemas di atas kasur empuk itu.
Aku menarik selimut tebal dan menutupi tubuh kami yang entah bagaimana bisa, kami tidak sadar dimana baju kami. Aku tiduran di atas dadanya yang bidang, dan dia mengelus rambutku. Jantungnya berdegup kencang. Aku mencium dadanya, dan memeluk badannya. Tanganku usil, memainkan juniornya.
"Jangan mancinh lagi deh" ucapnya,
"Jangan salahkan Aa ya, kalau buat Ine capek" ucapnya terkekeh dan akhirnya menghempaskan aku di atas kasur lagi,
Ada setan apa yang merasukiku, sehingga aku bernafsu seperti itu. Dan lagi, kami merasakan nikmat yang luar biasa.
"Wah, Ine mah gitu, lemes nih dengkul Aa."
Aku terkekeh pelan, dan berbaring di lengannya.
__ADS_1
"Itu sebagai upah karena menjaga Ine 2 malam, Terima kasih sayang, dan Ine minta maaf ya, karena membuat Aa kecewa karena Ine gak sehat" ucapku.
Dia tidak berkata apa-apa, hanya pelukan hangatnya yang menjawab semua.
Ku raih ponselku,
"Sayang.. Ine laper."
"Hm.. ya sayang, bentar lagi, ngumpulin tenaga dulu. lemes gak bisa jalan" alasannya ada saja.
Aku bangun dari ranjang itu, Dia menarikku.
"Mau kemana?" tanyanya.
"Mandi, mau ikut?" tanyaku balik.
Dia tersenyum, aku tidak mengindahkannya.
Ketika aku sudah di dalam kamar mandi dan aku merasakan air hangat di kepalaku, tiba-tiba dia memelukku dari belakang, dan aku kaget. Dia menyenderkanku di dinding kamar mandi, dan melakukannya lagi, Aku hanya pasrah, karena memang itu adalah haknya, dan kami di sini memang untuk merasakan yang tidak sempat kami lakukan di rumah. Dia menggendongku, dan menghantamkan pelurunya lagi. Ketika lepas landas, dia tertawa,
"Hari ini, sangat seru. Aa janji buat Ine sangat bahagia hari ini. Apapun yang Ine mau, Aa bakal turuti"
__ADS_1
Selesai mandi bareng, kami siap-siap mengadakan traveling keliling pulau Bali. Karena memang hari ini terakhir kami bisa menghabiskan waktu di Bali.