
Sampai di rumah, Aa menggendongku yang tidak sadar kalau sudah sampai ke kamar, padahal kamar kami terletak di lantai atas. Tapi dia tidak membangunkanku.
Aku mendengar suara pintu lemari baju dibuka.
"A..." Ucapku
"Kok bangun? padahal Aa bari saja akan menggantikan baju Ine"
Aku duduk di tepi tempat tidurku.
"tidurlah sayang, sudah malam, Ibu hamil tidak boleh tidur larut malam" ucapnya lagi.
"Buka bajunya, salin baju dulu ya, biar enak tidurnya."
Aku membuka kemeja yang ku pakai.
Dia membelai perutku. Dan melihatku.
"Ine jelek ya, dengan perut gede" ucapku
"Kata siapa? Ine seksi malahan" ucapnya.
Aku membuka rok pendekku.
Sekarang hanya daleman dengan perut membuncit yang terlihat.
"Mana baju Ine?" pintaku
Dia hanya melihatku.
__ADS_1
"Gak usah pake baju, seksi." ucapnya nakal
Dia mencium perutlu berulang-ulang. Membelainya, dan kemudian menciumku.
Aku merasakan ketegangan diantara kami. Dia melucuti pakaiannya dan membuka sisa kain yang menempel di tubuhku.
"Dek.. papa jenguk dulu ya, jangan marah ya nak" ucapnya di perutku dan mulai memainkan gaya barunya. Entah dari mana dia dapatkan. Sehingga kami merasakan nikmat.
Kami menyelesaikan malam itu dengan nafas yang tersengal-sengal. Dia menutupi tubuhku dengan selimut.
Aa mengambilkan aku minum, dan pergi ke kamar mandi. Aku yang masih lelah, berharap langsung tidur.
"Bersih-bersih dulu, sayang" ucapnya mengangkatku ke kamar mandi.
Dia selalu memanjakanku.
Dengan sabarnya, membimbingku ke arah lebih baik. Dalam penglihatanku, ia seorang lelaki yang sangat mengerti aku.
Aku hanya mengangguk dan melanjutkan mimpiku kembali.
Keesokan hari, di sela senggang waktu Aa, ia menelpon ayah dan ibu. Membicarakan masalah 4 bulan masa kehamilanku,
"Papi mau kita baca doa di rumah papi, bu. Bagaimana menurut ibu?" tanyanya
"Oh ya.. ibu juga berpikir masalah 4 bulan kehamilan Ine, ternyata papi sudah memikirkannya dahulu. ya sudah.. kita adakan di rumah papi saja. Ine cerita kalau papi sakit ya?" tanya ibu.
"Ya bu.. nanti tolong liatin harus apa aja ya bu.."
#Dikantorku
__ADS_1
Aku menatap jam yang ada di ponselku.
Baru jam 2 siang, kenapa lama sekali menunggu jam 4, aku merindukan bau harum badan dokter Yopi. Aku rindu lesung pipinya.
Hari itu, tidak seperti hari biasanya, pekerjaanku cepat selesai.
"Ine.. saya tunggu di ruang saya ya" panggil pak Indra Gunawan.
Aku segera beranjak dari tempat dudukku.
Tok.. tok.. tok..
"Ya pak,"
" Sudah dipersiapkan sondingan untuk pelamar. Yang ada di gue udah dikabari lewat recepsionis. Yang di elu, udah dikasih ke meja depan belum?" tanya igun, yang kalau hanya kami berdua, dia dengan bahasanya sendiri.
"Oh iya, untung lu ingetin. Gue ke depan dulu ya" ucapku kemudian mengambil berkas lamaran yang sudah aku periksa dan memenuhi syarat.
"Sarah, ini yang harus dihubungi buat wawancara lusa ya." ucapku ke bagian recepsionis.
"Mbak Ine kenapa mau resign sih.. kan bisa cuti melahirkan kalau pas waktunya." tanya sarah yang terkadang suka kepo dengan urusan orang.
"Udah, pokoknya itu yang harus dihubungi ya, saya balik ke meja saya ya"
Aku melihat tanggalan yang ada di meja, awal bulan depan ada hari libur di hari jumat. Aku melihat lagi, hari raya waisak.
"Apa sabtu itu saja acaranya?" tanyaku dalam hati.
Setelah merapihkan semua berkas yang ada di meja, dan membereskan meja, aku bergegas untuk pulang, Aa pasti sudah menungguku.
__ADS_1
"Mbak Ine, hati-hati ya di jalan" ucap satpam kantor.
Mobilnya belum kelihatan. Aku berdiri di depan teras kantor, dan tak lama, sebuah mobil CRV putih, datang. Itu dia.