Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Kembali bertemu


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 7 malam, Raka baru saja selesai dengan pekerjaannya. Raka duduk di kursi kerjanya, sekali-kali dia mengingat wajah cantik Naya. Bahkan Raka sampai senyam-senyum sendiri.


Reza yang ternyata dari tadi berdiri di ambang pintu hanya bisa menarik nafas panjang.


"Aku rasa duda terhormat itu sudah mulai gila," batin Reza dalam hatinya.


Reza melangkahkan kakinya masuk ke dalam ruangan Raka.


"Tuan Raka Kumara, berhentilah senyam-senyum sendiri atau orang-orang akan menganggap anda sudah gila," ujar Reza agak ketus.


"Kalau masuk itu ketuk pintu dulu!" Omel Raka, raut wajahnya sudah merah karena kesal.


Reza tersenyum kecil, tangannya menarik satu kursi lalu dia mendaratkan p*ntanya di kursi itu.


"Katakan! Apa Tuan Raka, sudah bisa move on dari Nyonya Elina?" Reza tertawa jail, rasanya Raka ingin sekali menj*tos pipi mulus Reza.


"Sudah dari lama, aku hanya ingat penghianatan dia dengan sahabatku. Sudahlah tidak usah di sebut nama kedua mahluk menjijikkan itu!" Raka menatap Reza dengan tatapan serius.


Reza menganggukkan kepalanya, lalu dia beranjak dari tempat duduknya. "Kamu mau kemana?" Tanya Raka, sorot matanya begitu tajam.


"Berhentilah menatapku dengan buas! Saya mau pulang Tuan Raka," jawab Reza.


"Antar aku pulang lebih dulu!" Raka beranjak dari tempat duduknya dan tentunya dia tidak menerima penolakan dari sekretaris serta sahabatnya itu.


Setelah Rio mengambil istrinya, kini Raka sudah lama memutuskan persahabatannya dengan Rio. Dan satu-satunya sahabat yang bisa di percaya saat ini hanya Reza.


"Lalu Pak Arif?" Tanya Reza.


"Dia sudah pulang, katanya ada urusan." Jawab Raka.


Mereka berdua sama-sama keluar dari dalam ruangan Raka, sambil berjalan menuju ke tempat parkir keduanya hanya diam saja. Raka juga terus senyam-senyum sambil jalan karena terbayang-bayang wajah cantik Naya.


"Bagaimanapun caranya, aku harus bisa mendapatkan gadis kecil itu!" Batin Raka dalam hatinya.


Sesampainya di tempat parkir mereka berdua sama-sama masuk ke dalam mobil. Reza menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya menuju ke rumah Raka.


"Katakan padaku! Jika gadis yang masih berusia belasan tahun mereka lebih suka di kasih hadiah apa?" Tanya Raka.


"Bos, apa tidak sebaiknya menikah dengan sama-sama janda? Daun mudanya buat saya saja!" Bukannya menjawab Reza malah bercanda dengan jail.


"Tidak boleh! Kamu kan playboy suka sekali gonta-ganti pacar jika gadis kecil itu aku berikan padamu, aku yakin kamu hanya akan mencicipinya saja." Bantah Raka dengan tegas.


Reza terdiam, kini dia kembali fokus menyetir mobilnya.

__ADS_1


"Playboy, aish bos itu hanya gosip dan aku tidak seburuk yang bos kira," protes Reza dalam hatinya.


"Baiklah bos, aku penasaran seperti apa gadis itu?" Kata Reza, rasa penasaran kali ini masih terus menyelimuti hatinya.


"Tidak usah penasaran, nanti akan aku undang kamu ke acara pernikahanku dengan dia!" Raka tertawa penuh kemenangan.


Bosnya ini sungguh yakin sekali bisa menikahi Naya? Apa Naya akan mau menikah dengan Raka, seorang duda kaya tajir melintir? Hanya Naya yang tahu jawabannya.


Setelah menempuh perjalanan dari kantornya, akhirnya mereka sampai di depan rumah Raka.


Raka turun dari mobil. "Terimakasih sudah mengantarku pulang, kamu pulanglah sudah malam!" Raka berlalu pergi meninggalkan Reza.


Reza hanya mendengus kesal, sungguh bosnya ini selalu saja semau dia sendiri. Bukannya di suruh mampir dulu apa di ajak makan malam ini malah langsung diusir di suruh pulang.


Reza melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, sedangkan Raka langsung pergi mandi, setelah selesai mandi dia berbaring di atas tempat tidur tanpa makan malam lebih dulu.


*****


Jam menunjukkan pukul 6 pagi, Raka sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya dan kini dia siap berangkat ke kantor.


Tapi pagi ini Raka berangkat ke kantor sendiri, karena Pak Arif izin menemani anaknya yang sedang sakit.


"Bibi, kemarinlah!"


Bibi Ina berjalan menghampiri Raka.


"Pagi ini Bibi tidak usah masak, aku sarapan di kantor saja."


"Baik Tuan."


Raka berlalu pergi keluar dari rumahnya, sedangkan Bi Ina melanjutkan pekerjaan rumahnya.


Sambil melajukan mobil, mata Raka mencari-cari sosok Naya. Raka tahu biasanya Naya menjajahkan kue-kue julannya dekat komplek Raka tinggal.


Naya terus menelusuri jalanan, sambil berteriak-teriak seperti biasanya dalam hatinya selalu berharap kue dagangannya habis terjual.


"Kue...kue....."


"Siapa yang mau beli? Rasanya enak!!"


Raka terus melangkahkan kakinya dengan begitu sabar dan ikhlas.


"Anak-anak seusiaku, mereka bersekolah dan bermain. Kadang aku pingin seperti mereka," batin Naya dalam hatinya. Tapi buru-buru Naya menepis pikirannya, karena hal seperti itu tidak ada terjadi dalam hidupnya apalagi mamanya yang begitu kejam tidak mungkin dia memberikan izin Naya buat melanjutkan sekolahnya lagi.

__ADS_1


Karena merasa lelah, kue-kue juga baru laku beberapa biji Naya beristirahat sejenak. Naya duduk di bawah pohon yang begitu rindang.


Raka tiba-tiba menghentikan mobilnya, matanya berbinar senang karena akhirnya gadis yang dia cari dari tadi ketemu.


"Itu Naya..."


Raka turun dari mobilnya, lalu berjalan menghampiri Naya yang sedang duduk di bawah pohon.


"Nay......" panggilnya dengan suara lembut.


"Pak Raka." Naya terkejut, hatinya tiba-tiba berdebar-debar sangat kencang.


Raka tersenyum, tanpa seizin dari Naya. Raka tiba-tiba duduk di sebelah Naya.


"Kamu sudah sarapan?" Tanya Raka, dia melihat wajah Naya yang begitu lelah. Sungguh rasanya tidak tega sekali.


"Gadis cantik sepertimu, tapi hidupmu begitu malang. Aku janji Nay, aku akan memberikan kehidupan yang layak buat kamu," batin Raka dalam hatinya.


"Belum pak, belum lapar." Jawab Naya berbohong.


"Bapak sedang apa disini?"


"Saya, mau memborong kue jualan kamu. Buat pegawai kantor saya, katanya enak jadi mereka semua ketagihan."


Naya terdiam sejenak, dia berpikir apa bapak-bapak yang sering memborong kue-kuenya itu adalah suruhan Raka? Naya tidak tahu itu, Naya juga tidak tahu kalau Arif adalah supir pribadi Raka.


"Maaf pak, apa bapak-bapak yang biasa memborong kue-kue jualan saya beliau adalah..." Naya menghentikan kata-katanya.


"Maksud kamu Pak Arif? Pak Arif adalah supir pribadi saya," sambung Raka dengan nada lembut.


Naya mengerti, ternyata orang yang selama ini sudah sangat baik pada Naya adalah Raka.


"Sekarang bungkus semua kue-kue jualan kamu! Terus, kamu ikut denganku." Titah Raka dan Naya membungkus semua kue-kue jualan dia.


Setelah selesai membungkus kue-kuenya Naya terdiam, dia berpikir Raka mau mengajak dirinya kemana?


"Ini pak kuenya sudah, tapi bapak mau mengajak saya kemana?" Naya memberikan kue yang sudah di bungkus rapi pada Raka. Tapi tatapan mata Naya tampak ragu-ragu.


Raka menerima kue-kue itu dengan senang hati.


"Nanti kamu akan tahu, ikut saja! Aku tidak akan berbuat jahat padamu." Raka meyakinkan Naya.


Mereka langsung masuk ke dalam mobil, Entah Raka mau membawa Naya kemana?

__ADS_1


BERSAMBUNG 😘


Terimakasih para pembaca setia 🙏


__ADS_2