Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Calon istri


__ADS_3

Sepulang dari kantor Reza cengar-cengir di parkiran mobil sambil memainkan kunci mobil miliknya.


Mata Reza terlihat berbinar senang, rasanya tidak sabar lagi ingin segera sampai dirumah dan bertemu dengan Amel yang sekarang berstatus menjadi calon istrinya.


Raka yang sedang berjalan menuju ke parkiran mobil, dia geleng-geleng kepala melihat Reza yang sudah seperti orang tidak waras.


"Aish, sepertinya cecungguk itu memang harus secepatnya di nikahkan atau dia akan menjadi gila benaran." Raka berbicara sendirian, sungguh melihat Reza itu rasanya kesal tapi juga kasian karena tidak menikah-menikah.


Reza masih tetap tersenyum, kali ini dia hendak membuka pintu mobilnya tapi tiba-tiba tangan kekar Raka menepuk pundak kekar Reza.


Reza yang reflek sekaligus kaget dia langsung memegang tangan kekar itu, bahkan Reza hendak memplintir tangan Raka dengan kuat.


"Lakukan! Maka aku akan memotong gajian kamu," suara Raka terdengar menggema membuat Reza buru-buru menoleh dan melepaskan tangan Raka dengan hati-hati.


"Aish, ternyata sih bos, mati aku,dasar Reza b*d*h, lihat pasti kamu tidak akan mendapatkan kado pernikahan dari bosmu ini," batin Reza mengutukti dirinya sendiri.


"Maaf bos, lagian bos membuat saya kaget," bela Reza karena tidak mau sampai gajiannya di potong oleh bosnya ini.


"Berhentilah senyam-senyum! Atau aku akan membawamu ke rumah sakit jiwa, sana cepat pulang atau mau aku bawa ke rumah sakit beneran?" ancam Raka dengan tatapan sinis.


"Tidak bos, aku akan pulang sekarang," buru-buru Reza masuk ke dalam mobilnya.


Setelah masuk ke dalam mobilnya, Reza ngedumel tidak jelas sambil menyetir, kenapa harus bertemu dengan bosnya?


Setelah mobil Reza berlalu pergi, Raka juga langsung masuk ke dalam mobilnya untuk segera pulang, karena tidak sabar ingin segera bertemu dengan istri tercinta.

__ADS_1


*****


Kini setelah beberapa lama akhirnya Reza sampai di rumah, Reza langsung masuk ke dalam rumah tanpa mengetuk pintu rumah lebih dulu.


Amel yang sedang sibuk menyiapkan makan malam, dia menghela nafas pelan. "Selalu saja tidak mengetuk pintu, dasar calon suami aku ini," batin Amel dalam hatinya.


"Calon istriku, kamu masak apa?" tanya Reza, dia menarik kursi meja makan lalu duduk.


"Aku masak udang balado mas, sayurnya tumis bayam," jawab Amel lalu dia juga duduk di kursi sebelah Reza.


Amel mengambilkan nasi dan lauk untuk Reza, lalu menaruh di hadapannya.


"Mas tidak mandi dulu?" tanya Amel dengan nada lembut.


"Nanti saja sayang, oh iya besok kita fitting baju pengantin ya!" jawab Reza, dia mulai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya.


"Calon istriku, kamu kenapa?" tanya Reza dengan nada lembut.


"Mas, aku masih kepikiran ancaman Hellen," jawab Amel dengan tatapan mata penuh rasa kawatir.


Reza meraih tangan Amel, lalu menggenggamnya dengan erat.


"Jangan kawatir! Hellen itu urusan mas, jangan di pikirkan lagi!" tegas Reza, dalam hatinya dia sudah memikirkan rencana terbaik untuk mengatasi Hellen nanti.


Amel mengangguk, wajar sebagai calon pengantin wanita pasti pikiran Amel tidak tenang. Tapi Reza sebagai calon suami yang baik dan bertanggung jawab, pasti Reza akan selalu melindungi Amel dan tidak akan membiarkan Amel terluka.

__ADS_1


*****


Malam menunjukkan pukul 11 malam Raka dan Naya masih terjaga, kini Raka sedang mengelus-elus perut Naya dengan lembut.


"Mas...." suaranya Naya terdengar lembut seperti biasanya, tapi kali ini lebih manja.


"Aku yakin, pasti Naya akan meminta aku menyiram kecebong kecilku," batin Raka dalam hatinya.


Biasalah Raka, dia kadang sibuk dengan pikiran m*s*mnya sendiri itu.


"Kenapa? Kamu mau minta jatah, nanti mas kasih lebih untuk malam ini," jawab Raka dan Naya malah tertawa.


"Dasar Mas Raka yang ada di otaknya hanya jatah dan jatah," batin Naya dalam hatinya.


"Bukan mas.... aku mau tanya, Kak Reza dan Kak Amel mau menikah. Kita mau kasih kado apa untuk mereka?" tanya Naya dengan suara agak menekan, lalu tersenyum meledek.


Seketika Raka kecewa dengan pikirannya sendiri, dasar otaknya ini sukanya traveling jauh-jauh.


"Mas, kok diam?" Naya kembali bertanya.


"Entahlah sayang, mas belum kepikiran mau memberikan kado apa untuk pernikahan dua sejoli itu," jawab Raka terlihat raut wajahnya begitu kecewa.


Naya mengangguk, akhirnya Naya tertidur sedangkan Raka masih terjaga karena kecewa dengan pikirannya sendiri.


Bersambung

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


Maaf ya baru update, Authornya sakit dari kemarin 🙏


__ADS_2