Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Evan, Tania siapa?


__ADS_3

Matahari sudah menyusup masuk ke dalam kamar Raka dan Naya. Perlahan-lahan Naya membuka matanya karena merasakan berat di bagian pinggangnya.


Ternyata tangan suaminya melingkar erat di pinggangnya, Naya pelan-pelan memindahkan tangan suaminya, lalu dia membenarkan posisinya menjadi duduk.


Naya mengelus-elus perutnya yang sudah agak terlihat membuncit.


"Lihat nak, papamu masih tidur."


"Tidurnya begitu nyenyak, entah Mas Raka semalam pulang jam berapa."


Naya menatap suaminya yang masih tertidur pulas, lalu menaruh tangannya di pipi sang suami dengan pelan Naya mengelus-elus pipi suaminya.


Merasakan sentuhan, tangan Raka tiba-tiba memegang tangan tangan Naya. "Mas masih mengantuk," kata Raka sambil perlahan-lahan membuka matanya.


"Bangun mas, ayo mandi! Aku mau siapkan sarapan," kata Naya dengan nada lembut.


Raka bangun, dia membenarkan posisinya menjadi duduk.


Setelah nyawanya benar-benar terkumpul, mereka berdua pagi ini mandi bersama bak pengantin baru.


*****


Di dapur Ratih baru saja selesai masak untuk sarapan pagi, iya dia memasak di bantu oleh Art pulang pergi yang bekerja di rumah Raka.


Ratih menyiapkan sarapan, setelah selesai dia duduk di kursi meja makan menunggu ketiga anaknya keluar dari dalam kamarnya.


"Suamiku, lihatlah sekarang anak kamu dan Rika sudah besar, dia sudah menikah."


"Rika, aku harap kamu bahagia di surga sana. Aku benci kamu, tapi aku sadar Naya tidak tahu apa-apa."


Ratih menitikkan air matanya, mengingat masa lalu yang begitu menyakitkan.

__ADS_1


Setelah beberapa lama Raka, Naya dan Evan sama-sama keluar dari dalam kamar mereka, kini mereka langsung menuju ke meja makan.


Di meja makan, mereka menikmati sarapan pagi bersama dengan hangat.


Setelah selesai makan, mereka berkumpul di ruang keluarga karena hari ini tanggal merah jadi Raka dan Evan libur kerja.


"Nay, nanti mama pulang ya. Mama sudah menginap beberapa hari di rumah kamu dan suamimu," kata Ratih sambil tersenyum pada Naya dan Raka.


"Jika mama mau tinggal disini, Raka juga tidak akan melarangnya ma. Justru Raka senang, karena Naya ada temannya," kata Raka dan di anggukin oleh Naya.


Ratih senang, tapi Ratih juga tidak boleh merepotkan Naya. Jadi Ratih tidak mau tinggal di rumah Raka dan Naya.


"Tidak usah nak, mama bisa kapan saja berkunjung ke rumah kalian kapan saja," tolak Ratih dengan sopan.


Evan hanya diam sambil menikmati kopi yang di buatkan oleh Art Raka. Entahlah kali ini Evan senyam-senyum sendiri sambil sekali-sekali melihat kopi yang dia nikmati.


"Kopi ini rasanya beda dengan yang di buatkan oleh Tania," batin Evan dalam hatinya.


Naya memperhatikan kakaknya, karena menurut Naya pagi ini sang kakak begitu berbeda. "Mas, kamu semalam kemana sama Kak Evan? Lihat Kak Evan, sepertinya menjadi tidak waras dia dari tadi senyam-senyum sambil menikmati kopinya," bisik Naya di telinga Raka.


"Semalam mas mengenalkan Kak Ipar dengan Dokter Tania, entahlah apa yang terjadi karena mas semalam pulang duluan," balas Raka berbisik di telinga Naya.


Naya mengangguk mengerti, sedangkan Ratih terus menatap Evan dengan tatapan penuh tanda tanya?


"Van, apa kamu baik-baik saja? Kamu dari tadi senyam-senyum dengan kopi, apa kopi yang kamu minum ada yang salah?" Ratih terlihat kawatir, membuat Raka dan Naya saling menatap satu sama lain.


"Kak, kakak baik-baik sajakan?" Naya memastikan.


Evan masih betah dengan lamunannya, bahkan saat ini dia membayangkan wajah cantik Tania tadi malam.


"Setelah sekian lama, apa aku kembali jatuh lagi?" Hati Evan berbicara.

__ADS_1


Sungguh Raka, Naya dan Ratih tidak mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada Evan hingga Evan terus tersenyum tidak jelas pagi ini.


"Sudahlah nak, mungkin kakakmu harus mama bawah ke Dokter," kata Ratih agak menggerutu kesal.


"Benar kata mama, bagaimana kalau kita bawah Kakak ipar, ke Dokter Tania? Aku yakin pasti gilanya ini langsung sembuh," tawar Raka membuat Evan menoleh ke arah Raka, lalu dia tersenyum.


Sungguh Evan sudah tidak waras, dalam hati Raka. Raka sangat menyesal sudah mengenal kan kakak iparnya pada Tania, karena kakak iparnya malah menjadi tidak waras seperti ini.


"Raka, kamu benar. Sepertinya aku harus periksakan hatiku sekarang, hati ini kembali berdebar setelah sekian lama." Tutur Raka, membuat Ratih dan Naya sama-sama geleng-geleng kepala.


"Dasar anak ini, makanya nikah biar tidak gila nak!" Omel Ratih pada Evan.


"Iya ma, Evan akan menikah. Raka sudahlah, aku mau pulang saja!" Kata Evan sambil mengedipkan satu matanya.


Sungguh Raka sangat jijik pada kakak iparnya ini, semua ini gara-gara Tania.


Akhirnya Evan dan Ratih pulang ke rumah, sedangkan Raka dan Naya hanya duduk sambil menonton televisi karena tidak ada pekerjaan dan kegiatan yang mereka lakukan.


*****


Sesampainya di rumah, Evan membaringkan tubuhnya di atas sofa. Bahkan dia kembali senyam-senyum sendiri.


Ratih semakin geram dia juga terlihat cemas karena takut anaknya menjadi gila.


"Evan, Tania siapa?" Tanya Ratih tiba-tiba.


Evan melihat ke arah sang mama, sambil tersenyum senang.


"Mama, Tania adalah..."


"Adalah siapa?" Sambung Ratih, yang tidak sabar mendengarkan jawaban dari Evan.

__ADS_1


BERSAMBUNG 🤗


Terimakasih para pembaca setia 🤗


__ADS_2