
Mereka langsung masuk ke dalam mobil, Entah Raka mau membawa Naya kemana?
Di dalam mobil hanya ada keheningan di antara mereka berdua. Naya juga tidak banyak bicara karena rasanya sangat canggung sekali.
"Pak Raka ini mau ngajak kemana? Bagaimana kalau aku diapa-apain?" Gumam Naya dalam hatinya.
Raka hanya fokus menyetir mobil tanpa sedikitpun bicara dengan Naya.
"Pak...." panggil Naya dengan lirih.
"Naya panggil aku mas! Aku ini bukan bapakmu!" Jawab Raka dengan nada datar.
Naya lupa, dasar duda yang menolak untuk tua. Memang sih wajah Raka ini masih terlihat muda, biarpun umurnya sudah hampir menginjak kepala tiga.
"Maaf." Naya menundukkan kepalanya.
"Kenapa kamu memanggilku?" Tanya Raka.
"Saya harus pulang, jika tidak nanti mama saya akan marah."
Hati Naya merasa takut, apalagi jika ingat mamanya memarahi dirinya jangan harap Naya akan di ampuni oleh mamanya yang kejam itu.
"Tidak usah takut, nanti aku yang akan menghadapi mamamu!" Raka meyakinkan Naya dengan nada lembut.
Sekilas Naya menatap mata Raka, Naya yakin Raka ini adalah laki-laki yang baik dan dia juga terlihat tulus pada Naya.
Kruyukkkk...... Naya memegangi perutnya.
"Kenapa sih kamu harus berbunyi di saat yang tidak tepat. Aku kan jadi malu," maki Naya dalam hatinya.
"Kita makan dulu!"
Naya tersenyum kecil, tiba-tiba Raka menepikan mobilnya di sebuah restoran yang cukup mewah.
Naya ternganga ini pertama kalinya Naya melihat restoran mewah seperti yang ada di hadapannya.
"Mas, kita makan di pinggir jalan saja! Kalau disini pasti mahal uang aku tidak akan cukup," kata Naya dengan begitu polosnya.
"Dasar gadis kecil, kamu tidak usah kawatir! Nanti aku yang akan membayar semuanya," jawab Raka sambil mengacak-acak rambut Naya dengan pelan.
Raka turun mobil lebih dulu, Naya tersenyum sambil memenangi rambutnya yang baru saja di acak-acak oleh tangan kekar Raka.
"Turunlah!" Raka membukakan pintu mobilnya untuk Naya.
Naya turun dari mobil dan Raka langsung mengajaknya masuk ke restoran. Mereka duduk di salah satu kursi dengan posisi saling berhadapan sehingga Raka bisa sekali-kali mencuri pandang pada Naya.
__ADS_1
"Kamu, mau makan apa?" Tanya Raka.
"Sama saja seperti mas," jawab Naya dengan nada lembut.
"Aku mana tahu makanan di restoran semewah ini? Aku hanya tahu nasi padang rendang saja itu saja aku baru membelinya beberapa hari yang lalu," batin Naya dalam hatinya.
Raka memesan beberapa makanan, kini mereka saling diam sambil menunggu pesanan makanan mereka datang.
Setelah beberapa lama akhirnya pesanan makanan mereka datang.
"Ini banyak sekali, apa ini tidak berlebihan mas?" tanya Naya, lagi-lagi kepolosannya membuat Raka merasa gemas.
"Tidak, kamu makanlah yang banyak!" Jawab Raka dengan senyum simpul manisnya.
Naya menganggukkan kepalanya, lalu mulai menikmati makanannya dengan pelan. "Enak sekali," gumamnya pelan.
"Kamu suka?" tanya Raka lagi.
"Suka, apa sisanya boleh kita bungkus mas? Kan sayang daripada di buang," tanya Naya malu-malu.
Sentak hati Raka tiba-tiba merasa sedih, karena dia sering sekali membuang makanan yang sisa. Tapi Raka juga tidak akan mau jika di suruh membungkus makanan sisa yang ada di atas meja saat ini.
"Nanti mas belikan yang baru saja," tutur Raka sambil tersenyum.
"Tidak usah mas!" Tolak Naya dengan sopan.
Kini mereka kembali ke mobil, di dalam mobil Keduanya kembali saling diam.
"Mas, kita mau kemana lagi?" tanya Naya.
"Aku mau mengajakmu mengobrol di tepi danau." Jawab Raka.
"Haruskah, mengobrol di tepi danau?" tanya Naya lagi. Naya ini begitu bawel, tapi Raka senang sih jadi tidak merasa hening.
"Di sana tenang, aku suka ke danau saat sedang ada waktu senggang." Tutur Raka sambil tersenyum.
Naya mengerti, beberapa lama kemudian akhirnya mereka sampai di danau yang begitu indah.
Raka dan Naya berjalan berdampingan tapi mereka tidak bergandengan tangan.
"Pemandangannya, indah sekali mas." Naya kagum, tatapan matanya berbinar senang.
"Iya hawanya juga sangat sejuk, kita duduk disini ya!" Raka mengajak Naya duduk di bawah pohon yang begitu rindang.
Kini kedua sudah sana duduk, sekali-kali Raka melirik Naya yang sedang tersenyum karena melihat pemandangan yang ada di tepi danau ini.
__ADS_1
"Nay, apa mamamu begitu jahat padamu?" Tanya Raka tiba-tiba.
"Mamaku memang seperti itu mas," jawab Naya jujur.
"Kamu pernah berpikir keluar dari rumah itu? Kamu pernah berpikir untuk hidup sendiri di luar?" Tanya Raka, tatapan matanya begitu serius.
Naya terdiam sejenak, Naya pernah berpikir untuk pergi dari rumahnya tapi Naya tidak punya keberanian untuk melakukannya.
"Pernah, hanya saja aku tidak melakukannya mas." Jawab Naya dengan nada lembut.
Naya merasa aneh, padahal Raka dan dirinya usianya terpaut jauh tapi entah mengapa Naya merasakan kenyamanan saat berada di samping Raka, seolah-olah Raka itu bisa menjadi tameng untuk melindungi dirinya.
Raka membenarkan posisi duduknya, lalu dia menatap Naya dengan tatapan yang begitu lekat. Naya terlihat canggung, bahkan saat ini dirinya menjadi salah tingkah.
"Kenapa pak?" Tanya Naya gugup.
"Aku mau bertanya hal serius dengan kamu, apa kamu menjawabnya?" Raka menatap Naya semakin dalam.
"Mau tanya apa pak?" Naya semakin deg-deggan, sebenarnya apa yang mau di tanyakan Raka pada dirinya. Sungguh Raka itu membuat darah Naya mengalir lebih cepat dari biasanya.
Raka tiba-tiba memegang kedua tangan Naya, Naya menatap Raka dengan tatapan tampak bingung.
"Pak, bapak mau apa? Lepaskan tangan saya!" Naya agak takut, apalagi tatapan Raka begitu dalam.
Raka berpikir sejenak, apa yang sedang di pikiran gadis kecil yang ada di hadapannya saat ini?
"Bapak jangan macam-macam, atau aku akan berteriak!" Ancam Naya, membuat Raka akhirnya tertawa.
"Dasar gadis kecil, apa yang kamu pikirkan?" Omel Raka sambil tersenyum.
Raka kembali menatap Naya dengan tatapan begitu lekat.
"Naya, maukah kamu menikahlah denganku!" Pinta Raka, sontak membuat Naya ternganga tidak percaya dengan apa yang dia dengar saat ini.
"Apa pak?" Naya terkejut, dia hendak menarik tangannya tapi Raka malah mempererat genggaman tangannya.
"Naya, maukah kamu menikah denganku?" Tanya Raka kali ini lebih tegas, tatapannya semakin dalam.
Naya masih terpakuh, rasanya juga tidak jelas apalagi sebelumnya dirinya tidak pernah memikirkan sebuah pernikahan. Rasanya hati Naya juga berdebar kencang.
"Ini bagaimana? Haruskah aku menerimanya?" Tanya Naya pada hatinya.
"Mas, tapikan kita belum lama kenal dan kenapa mas memintaku, menikah dengan mas?" Tanya Naya penuh selidik.
"Karena aku......"
__ADS_1
BERSAMBUNG 😁
Terimakasih para pembaca setia 🙏