
Kini mereka bertiga menunggu kabar Naya yang sedang di periksa oleh Dokter.
Raka beranjak dari tempat duduknya, dia mondar-mandir tidak kesana-kemari. Reza hanya bisa geleng-geleng kepala, tapi dia juga tahu kalau saat ini bosnya ini sedang tidak naik-naik saja, apalagi anak dan istrinya sedang mempertaruhkan nyawanya di dalam sana.
"Naya, jika ada apa-apa dengan kamu dan anak kita. Maka mas tidak akan bisa memaaf kan diri mas sendiri."
"Mas sudah lalai dalam menjaga kalian."
"Mas tidak becus....."
Amel menyikut lengan tangan Reza, dia memberikan isyarat agar Reza menenangkan Raka yang saat ini pasti sedang sedih.
Reza mengangguk, dia langsung beranjak dari tempat duduknya.
"Bos, duduklah! Mari kita berdoa untuk keselamatan Naya dan anak yang ada di dalam kandungannya!" Reza memapah Raka agar duduk di kursi.
Raka akhirnya duduk, Reza juga terus mengusap-usap punggung Raka, ya seolah-olah memberikan dukungan untuk Raka.
"Reza, jika terjadi sesuatu dengan mereka bagaimana? Aku pasti tidak akan bisa memaafkan diriku sendiri," keluh Raka dan Raka menangis.
Lagi-lagi Reza merasa tersentuh, Naya memang pantas mendapatkan suami sebaik Raka.
"Percayalah bos, Naya adalah wanita yang kuat. Pasti dia dan anak yang ada di dalam kandungannya akan baik-baik saja," tutur Reza dan di anggukin oleh Amel.
Setelah beberapa lama, akhirnya Dokter yang menangani Naya keluar dari dalam ruang pemeriksaan itu.
Raka buru-buru beranjak dari tempat duduknya, dia langsung menemui Dokter itu.
"Dok, bagaimana keadaan istri saya? Lalu anak saya bagaimana?" tanya Raka, terlihat ketakutan di benak matanya.
__ADS_1
"Pak, tenang ya!" sang Dokter menepuk pundak Raka dengan pelan. "Istri dan anak bapak baik-baik saja, untung saja bapak langsung membawa mereka ke rumah sakit, jika tidak, entah apa yang akan terjadi." Jelas sang Dokter dengan nada lembut.
Raka menarik nafasnya dengan pelan, rasanya sangat bahagia sekali mendapatkan kabar bahagia ini.
"Dok, apa saya bisa menemui istri saya?" tanya Raka dengan antusias.
"Silahkan pak, tapi istri bapak sedang tidur." Jawab sang Dokter.
Raka mengangguk, dia masuk ke dalam ruangan itu bersama Reza dan Amel. Raka duduk di kursi dekat Naya berbaring, tangan Raka terus memegang tangan Naya dengan erat.
Amel dan Reza duduk di sofa, mereka benar-benar merasa kagum dengan Raka. Sungguh Raka itu bisa di jadikan panutan oleh Reza, apalagi cintanya yang begitu besar pada Naya, itu membuat Reza bahagia dan tidak mau lagi mengharapkan Naya seperti dulu lagi.
"Sayang, kamu harus bangun!"
"Ada mas disini, mas sayang sama kamu."
Raka meneteskan air matanya di tangan Naya, sungguh kali ini hatinya sangat bahagia karena Naya dan calon anaknya baik-baik saja.
Raka terus menjaga Naya, sedangkan Reza dan Amel sudah pulang.
*****
Di kediaman Rio, Rio dan Elina yang baru saja pulang dari acara kantor. Kali ini Rio terlihat begitu marah sekali, bahkan Rio memegangi tangan Elina dengan kencang.
"Mas, lepaskan aku!"
Bukannya melepaskan Elina, Rio dengan kasar malah mendorong Elina ke sofa dengan kasar.
Elina terlihat kesal sambil memegangi pergelangan tangannya yang terasa sakit karena ulah Rio, yang tidak lain adalah laki-laki yang sudah menjadi mantan suaminya.
__ADS_1
"Mas kamu ini apa-apaan?" sentak Elina dengan kasar.
"Elina kamu pikirkan saja baik-baik, kamu memang membenci Naya, tapi kamu tidak boleh melakukan hal ini pada Naya!" Rio juga menyentak Elina dengan suara lantang.
"Kamu masih membahasnya, lagian apa perduliku pada gadis itu?" tanya Elina, dia menatap Rio dengan tatapan kasar.
Sungguh betapa geramnya Elina ini pada mantan suaminya, apalagi Rio sudah menjadi mantan suaminya tapi masih saja ikut campur masalahnya dengan Naya.
"Dengar ya! Mungkin aku memang bermasalah dengan Raka, tapi jika anak yang sedang di kandung oleh istrinya Raka itu kenapa-kenapa, maka aku memasukkanmu ke penjara!" Tandas Rio dengan tegas.
"Dasar kamu wanita iblis, pantasan kamu itu tidak di karuniai anak, dasar wanita iblis!" Sambung Rio, sungguh dia sangat marah pada Elian.
"Kenapa kamu jadi bawa-bawa aku tidak punya anak mas? Bukannya dulu kamu yang menyuruhku untuk tidak punya anak dengan Mas Raka, lalu..." Elina tidak terima, hatinya langsung menggebu-gebu di penuhi dengan amarah.
"Lalu apa? Setelah kamu menikah denganku kamu juga tidak kunjung hamilkan? Lihat hampir tiap malam aku airin punya kamu, tapi mana selama ini tidak ada hasilnya." Rio langsung sekakmat Elina, membuat Elina semakin padahal apa yang dikatakan oleh Rio benar adanya.
Elina dengan kasar beranjak dari tempat duduknya, dia menatap Rio dengan tajam dan tangannya hampir saja men*mp*r pipi Rio tapi Rio langsung menepis tangan Elina dengan kuat.
"Wanita iblis, kamu tega dengan seorang wanita yang sedang hamil. Itulah mengapa kamu tidak di kasih keturunan sama sekali," kata Rio dan dengan kasar Rio menepis tangan Elina.
Elina merasa terpukul, hatinya begitu sakit, dia sadar selama ini dia tidak kunjung hamil juga.
Elina pergi dari rumah Rio begitu saja, Elina hanya bisa meratapi nasibnya.
Setelah Elina pergi, Rio terlihat gelisah dia sangat takut kalau terjadi apa-apa pada Naya dan calon anaknya.
BERSAMBUNG 💪
Terimakasih para pembaca setia 😊
__ADS_1