
"Di antar siapa? Katakan Nia!" Tanya Evan dan Bian, yang lagi-lagi begitu kompak.
"Di antar......"
"Tante Nia, di antar pulang saja sama Paman Evan!" Kata Naya, sambil mengelus-elus perut nya yang sudah mulai terlihat buncit.
Tania tersenyum pada Naya, Naya juga membalas senyuman Tania.
"Bagaimana, kalau aku ikut dengan mobil kalian saja? Cukup adil bukan," saran Tania berharap Naya akan setuju.
Naya menggelengkan kepalanya, lalu mengedipkan satu matanya pada Evan.
"Nia, iya biar aku antar pulang saja!" Sambung Evan dengan cepat.
Bian benar-benar kesal, karena semuanya berpihak pada Evan.
"Apa-apaan ini, satu lawan tiga. Bagaimana aku bisa menang?" Batin Bian dalam hatinya.
"Ya sudah, aku duluan ya!" Pamit Bian, dengan raut wajah kesal.
Tania melihat Bian, tapi Tania juga tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Karena, memang Tania ingin pulang di antar oleh Evan, hanya saja Tania merasa gengsi dan tentunya jual mahal sebagai seorang wanita.
"Ian, kamu hati-hati!" Kata Tania sambil tersenyum, tapi Bian membalasnya cuek.
Bian langsung menaiki mobilnya, lalu menyalakan mesinnya dengan kasar, tanpa membuka jendela Bian pergi begitu saja.
Naya melihat ke arah Raka, membuat Raka tersenyum penuh kemenangan.
"Berhasil sayangku." Kata Raka, kali ini senyumnya penuh kemenangan.
__ADS_1
"Iya mas, kita pulang yuk mas! Aku sudah capek menjadi obat nyamuk," keluh Naya dengan manja.
Tania diam-diam tersenyum malu, sedangkan Evan hanya bisa mengacak-acak rambut sang adik dengan lembut.
"Kakak ipar, jaga tanganmu! Jangan sentuh-sentuh istriku," omel Raka dengan ketus.
Evan mendengus kesal, dasar adik iparnya ini Evan hanya mengacak-acak rambut adiknya saja langsung mengomel.
"Baiklah, Naya hanya milikmu." Evan mengalah, lalu dia tersenyum pada Naya.
Naya hanya diam, karena tahu watak suaminya itu seperti apa?
"Mas, ayo kita pulang! Aku capek, nanti kecebong kita rewel," rengek Naya sengaja agar Raka tidak kembali mengomel pada sang kakak.
"Tania, Kakak ipar, aku duluan ya. Kalian, lanjutkan saja biar cepat jadian!" Kata Raka dan dia langsung mengandeng tangan Naya, untuk masuk ke dalam mobil.
Setelah Naya dan Raka berlalu pergi, kini Tania dan Evan saling menatap tapi tatapan mereka sama-sama salah tingkah.
"Evan...."
Panggil mereka secara kompak, kini mereka sama-sama tersenyum malu-malu. Sungguh, padahal mereka sudah sama-sama dewasa tapi saat ini mereka seperti anak remaja yang sedang sama-sama kasmaran.
"Kamu duluan!" Kata Evan, dia mengalah sebagai laki-laki.
"Tidak apa-apa, ayo pulang sudah malam!" Ajak Tania, dia berusaha menghilangkan rasa gugup yang ada pada dirinya.
Evan mengangguk, kini mereka langsung masuk ke dalam mobil. Evan menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya dengan hati-hati.
Kini di dalam mobil hanya terjadi keheningan di antara mereka berdua.
__ADS_1
"Mau langsung pulang?" tanya Evan tiba-tiba, dalam hatinya dia berharap bisa jalan berdua lebih lama dengan Tania.
"Iya, memangnya mau kemana lagi?" tanya Tania, kali ini raut wajahnya terlihat jutek.
Dalam hati Evan, sekarang jutek tapi aku yakin setelah ini, kamu akan bucin padaku, lihat saja nanti!
"Baiklah," jawab Evan singkat.
Kini keduanya kembali sama-sama diam. Tania juga lebih memilih memejamkan matanya karena rasanya sudah mengantuk.
Sesampainya di depan rumah Tania, Raka menghentikan mobilnya. Melihat Tania yang lelap tertidur, sungguh hati Evan merasa sangat tenang.
"Nia, sudah sampai!" Kata Evan, lalu perlahan-lahan Tania membuka matanya.
Evan turun dari dalam mobilnya, lalu dia turun dari dalam mobilnya untuk membukakan pintu mobilnya untuk Tania.
Kini Tania sudah turun dari dalam mobil Evan.
"Terimakasih Van," kata Tania dengan sopan.
"Sama-sama, Nia." jawab Evan sambil tersenyum.
"Aku masuk dulu ya," Tania hendak berlalu pergi tapi tiba-tiba Evan meraih tangan Tania, membuat Tania kaget.
"Ada apa Van??" tanya Tania dengan nada gugup.
"Apa, kamu menyukai Bian?" tanya Evan dengan tegas.
Tania terdiam, haruskah dia menjawab pertanyaan dari Evan?
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊