Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Harus libur dulu


__ADS_3

Hari demi hari telah berlalu, kedua mertua Naya juga akhirnya memilih menetap untuk tinggal di rumah Naya dan Raka.


Faisal juga sudah menghubungi orang kepercayaannya untuk mengurus perusahaan yang ada di luar negeri.


Apalagi dengan keadaannya yang sekarang memang tidak sehat dan harus mengunakan kursi roda, jadi Faisal memilih untuk menghabiskan waktu-waktunya bersama anaknya, menantunya, cucunya dan istrinya.


Sinta juga tidak keberatan dengan keputusan suaminya karena hidup dengan anaknya ini memang sudah di inginkan sejak lama oleh Sinta. Tapi karena Faisal harus mengurus perusahaannya di luar negeri akhirnya Sinta harus mengikuti suaminya dan Raka juga akhirnya harus hidup kesepian karena kedua orangtuanya selalu saja sibuk dengan urusan mereka.


Kini keluarga Kumara kembali berkumpul menjadi satu bahkan sudah bertambah dengan kehadiran calon pewaris keluarga Kumara.


*****


Malam yang begitu dingin, kini Raka tampak lelah mungkin karena beberapa hari ini Raka lebih sering begadang tiap malam menemani Naya yang tiap malam harus menyusui putra kecilnya kalau sedang rewel.


Kini Riko tertidur begitu pulas, Naya membelai pipi Riko dengan lembut. "Anak mama, cepat besar ya nak! Biar kamu bisa jagain mama nanti," kata Naya dengan penuh kasih sayang.


"Mama, kan ada papa yang jagain mama, kenapa Riko harus cepat-cepat besar?" tanya Raka, kali ini Raka terbiasa memanggil Naya dengan sebutan mama.


"Pinginnya di jagain jagoan mama aja, pa." sahut Naya dengan nada lembut.


Raka tersenyum, lalu mengusap wajah Naya dengan lembut.

__ADS_1


"Dasar istriku, sekarang apa-apa anak, apa suamimu yang bucinnya akut ini sekarang punya saingan?" canda Raka dengan jail.


"Mas, mas tidak bisa main bucin-bucinan untuk sementara, karena sekarang ada Riko di tengah-tengah kita," ledek Naya dengan jail juga.


"Iya iya, mas sedang puas," celetuk Raka dengan raut wajah agak malas.


Naya hanya tersenyum kecil, apalagi dirinya belum lama melahirkan putra pertamanya jadi ya kalau Raka menjalankan puasa menahan nafsu ya wajar.


Malam yang dingin rasanya Raka merindukan kehangatan yang biasa Naya dan dirinya lakukan tapi malam ini harus libur dulu. Dan akhirnya Raka memilih untuk tidur, begitu juga dengan Naya karena putranya juga sudah tidur ya Naya juga memilih untuk tidur.


****


Reza melihat istrinya, lalu membenarkan posisinya menjadi duduk.


"Sayang, apa yang membuat wajahmu seperti tissu kusut seperti itu?" tanya Reza dengan nada lembut.


"Tidak apa-apa, mas kamu buru-burulah berangkat kerja! Aku malas sekali bertemu dengan kamu," jawab Amel dengan nada ketus.


Seketika Reza merasa bingung, tidak biasanya pagi-pagi dia bersikap ketus seperti ini.


"Sungguh? Bukankah semalam kamu bilang ingin terus memeluk mas?" tanya Reza, kini Reza sudah berada di belakang Amel tapi Amel malah mendorong tubuh kekar Reza dengan kuat.

__ADS_1


Amel menatap Reza kesal, membuat Reza menatapnya dengan tatapan bingung.


"Kamu kenapa sih sayang?" tanya Reza, sungguh istrinya ini tidak jelas sekali.


"Malas saja sama mas, sudahlah mas sana berangkat kerja saja!" Amel malah mengomel, sungguh Reza yang tidak ingin sampai marah apalagi memukul istrinya, akhirnya Reza menuruti apa kata istri tercintanya itu.


Reza akhirnya pergi menuju ke kamar mandi untuk bergegas mandi.


Reza sedang mandi tapi Amel malah duduk saja di kursi meja rias, biasanya dia menatah kan baju kerja Reza tapi pagi ini dia terlihat malas.


Setelah selesai mandi, Reza melihat istrinya masih duduk sambil diam saja.


"Mana, baju kerja mas?" tanya Reza.


"Ambil sendiri!" cetus Amel, lagi-lagi Amel memasang wajah kesal.


Reza hanya geleng-geleng kepala, entah dedemit mana yang sedang merasuki sang istri tercinta ini? Tidak ada angin, tidak ada hujan, tiba-tiba bersikap tidak jelas, jelas-jelas semalam tidur saja minta di peluk terus ehh paginya malah jadi singa betina yang sedang mengamuk.


Bersambung


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2