
Beberapa hari telah berlalu, Naya dan Raka sudah melewati perang dingin mereka, Naya juga sudah kembali seperti biasanya begitu polos dan menggemaskan.
Naya sedang di kursi yang ada di halaman rumahnya, Naya terus tersenyum senang sambil melihat perutnya yang sudah terlihat besar kini bergerak-gerak, ya kecebong yang ada di dalam perutnya sedang menendang-nendang manja.
Raka yang baru saja keluar dari dalam rumahnya, dia tersenyum melihat istrinya terlihat begitu bahagia pagi ini.
"Istri mas, apa yang membuat kamu sebahagia ini pagi-pagi seperti ini?" Raka berjalan menuju ke tempat Naya duduk, dia jongkok di hadapan Naya sambil tersenyum manis.
"Mas, lihat! Kecebong kita bergerak-gerak, pasti dia sudah tidak sabar keluar dari dalam perut Naya ya mas," kata Naya senang. "Tapi mas..." Naya menatap Raka, dia ragu-ragu melanjutkan kata-katanya.
Raka meraih tangan Naya, lalu menciumnya dengan penuh cinta. "Tapi apa? Katakan pada mas!" Pinta Raka, karena tidak mau kalau sampai istri polosnya ini menutupi sesuatu dari dirinya.
"Naya, takut melahirkan mas. Katanya wanita melahirkan itu sakit mas," kata Naya dengan kepolosannya.
Raka tahu, melahirkan seorang anak itu taruhannya adalah nyawa, Raka juga kawatir tapi Raka yakin setelah anaknya lahir nanti pasti rasa kawatir itu akan menjadi sebuah kebahagiaan yang nyata.
"Mas akan selalu ada di samping kamu sayang, nanti juga saat kamu melahirkan pasti orang tua mas akan datang, mereka akan menemani kamu sayang," tutur Raka dan dia langsung memeluk Naya dengan penuh cinta.
Betapa nyamannya pelukan Raka, seolah-olah beban yang ada pikiran Naya itu hilang begitu saja.
"Apa orang tua mas galak?" tanya Naya di sela-sela pelukannya.
Raka melepaskan Naya dari dalam pelukannya, kali ini dia menatap Naya dengan tatapan begitu lekat.
"Galak seperti ibu tiri, mas saja sering di marahin bahkan telinga mas sering sekali menjadi sasaran," jawab Raka membuat Naya takut.
Seketika Naya mengingat perlakuan mamanya pada dirinya dulu. Dalam hati Naya ada rasa takut tersendiri.
Tiba-tiba terdengar suara mobil, mobil itu tidak asing. Raka dan Naya melihat ke mobil yang parkir di depan rumah mereka.
"Itu mobil Reza dan Kakak Ipar, tapi ada apa mereka kesini secara bersamaan?" kata Raka dan Naya menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
Evan bergandengan tangan dengan Tania, Reza juga bergandengan tangan dengan Amel.
"Aduh, kalian belum halal tapi gandengan Mulu sudah seperti truk gandeng saja," cibir Raka dengan begitu jail.
Raka mentang-mentang dirinya sudah halal dengan Naya, dia sombong sekali.
"Biar romantis bos, siapa tau besok nikah." Celetuk Reza yang tidak kalah jail.
"Raka, setidaknya suruh kami masuk dulu! Kamu tidak lihat, wajah Tania merah karena terkena panas matahari, aku tidak mau sampai wajah cantik Tania ini terbakar sinar matahari," cerocos Evan yang membuat Tania terkejut.
Tania menghela nafas berat, apakah Evan akan sebucin Raka? Tania harap tidak, karena pasti Tania akan pusing, bayangkan saja setiap hari Tania sering kali memeriksa pasien tampan, pasti nanti akan repot jika Evan ketularan bucinnya sih Raka yang super akut itu.
"Baik-baiklah, ayo semuanya masuk! Sayang, mas gendong saja ya, biar seperti pengantin baru." Sindir Raka, tanpa menunggu persetujuan dari Naya, Raka langsung mengangkat tubuh Naya.
Evan dan Reza saling menatap penuh rasa kesal. "Dasar pamer!" Cetus mereka secara bersamaan.
Raka mesam-mesem, sambil menurunkan Naya dari gendongannya dengan hati-hati.
Tania dan Naya sama-sama menggelengkan kepalanya, Amel memilih diam sambil melihat ponselnya.
Kini mereka semua duduk, sedangkan Naya hendak pergi ke dapur untuk mengambil minuman dan cemilan untuk semuanya, tapi Raka langsung mencegahnya.
"Biar mas saja!"
"Kamu duduk saja sayang, ingat jangan capek-capek!"
Naya kembali duduk sedangkan Raka pergi ke dapur, kini Raka kembali membawa cemilan dan minuman untuk mereka semua.
"Kak Evan, kok mama tidak di ajak?" tanya Naya pada sang kakak.
"Mama sedang pergi arisan Nay, oh iya kapan calon ponakanku lahir?" Evan balik bertanya pada Naya.
__ADS_1
"Beberapa bulan lagi kak," jawab Naya.
Kini sambil mendengarkan Naya dan Evan mengobrol yang lainnya menikmati hidangan yang Raka sediakan tadi.
Di hari libur, mereka asik berkumpul, bahkan mereka terlihat begitu akrab dan bahagia.
*****
Setelah beberapa hari berlalu, Elina terlihat tidak bahagia. Wajahnya murung terus, bahkan wajah cantik Elina juga terlihat tidak terawat.
Elina bingung, haruskah Elina menjadi pemuas ***** mantan suaminya agar mendapatkan uang untuk kehidupannya sehari-hari dan seterusnya?
Sungguh hati Elina bimbang, tapi jika Elina tidak seperti itu. Elina tidak punya uang, ingin bekerja di kantor Raka tapi terhalang oleh Naya.
Padahal Raka bisa dijadikan tambang emas oleh Elina, tapi ternyata pikiran Elina salah, karena Raka sudah tidak seperti dulu lagi, dia juga sudah punya istri.
"Elina, kamu tidak ada jalan lain lagi. Lebih baik jadi pemuas ***** Rio, daripada kamu mati konyol karena tidak bisa menikmati hidup yang sesungguhnya!"
"Elina, uang itu sangat penting."
"Lihat, wajah cantikmu butuh perawatan."
Hati dan pikiran Elina terus berperang satu sama lain, kali ini Elina tidak punya pilihan lain karena hanya Rio yang bisa memberikan uang banyak untuk dirinya, asalkan Elina mau menjadi pemuas nafsunya.
Elina akhirnya datang ke rumah Rio lagi, dia melakukan pekerjaan menjijikkan itu lagi, ya biarpun Elina sebenarnya tidak mau, tapi bagi Elina cara ini adalah cara yang paling cepat untuk Elina mendapatkan uang.
Dasar Rio laki-laki br*ngs*k duda sudah bercerai tapi masih menggila dengan Elina.
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 🤗
__ADS_1