Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Reza, Amel dan Hellen


__ADS_3

Reza terdiam, dia memikirkan apa yang di inginkan Hellen sebenarnya?


Kali ini Reza benar-benar memikirkan perkataan Raka tadi. "Hellen punya maksud tertentu, tapi apa ya?" batin Raka dalam hatinya.


"Za, sudahlah! Kamu cepat cari Amel dan segera minta maaf padanya!" kata Raka, Raka terus menatap Reza.


Reza mengangguk, kali ini benar kata bosnya dia harus segera meminta maaf pada Amel.


"Lalu meeting hari ini bos?" tanya Reza, dia ingin pergi mencari Amel tapi hari ini juga ada meeting penting.


"Biar aku yang urus, ingat setelah ini jangan ulangi kesalahan yang sama lagi!" jawab Raka dengan tegas.


"Siap bos...."


"Aku pergi dulu."


Buru-buru Reza beranjak dari tempat duduknya, bahkan Reza juga meninggalkan Raka begitu saja yang masih ada di dalam ruangannya.


Raka terdiam, dia membayangkan jika Naya ngambek pada dirinya, pasti Raka juga tidak akan tenang dan terus kepikiran, bahkan jika Naya marah juga kerja Raka saja tidak ada rasa semangatnya sama sekali dalam bekerja atau melakukan hal apapun.


"Selesai meeting lebih baik aku pulang sajalah, rasanya tidak sabar ingin bertemu dengan istri kecilku."


"Aku juga sudah sangat merindukan kecebong kecilku."


"Aish Naya, kamu itu sungguh membuatku tergila-gila."


Padahal Naya baru saja pulang dari kantornya tapi ya bucinnya Raka itu begitu akut membuat kadang Naya sebagai istri juga hanya bisa geleng-geleng kepala.


Raka keluar dari ruangan Reza sambil senyam-senyum, kalau Raka sudah mulai gila seperti ini rasanya ingin cepat-cepat pulang dan bertemu dengan istrinya.


******


Setelah beberapa lama kepergian Bian, Tania akhirnya terbiasa, Tania juga sedikit demi sedikit mulai ikhlas dan berusaha untuk tidak terus-menerus memikirkan Bian.

__ADS_1


Hubungan Tania dan Evan juga makin kesini makin lengket, bahkan mereka juga sering jalan bareng di kala mereka sama-sama ada waktu luang.


Evan dan Tania juga sudah mulai membicarakan masalah pernikahan mereka, bahkan mereka juga sering kali berbincang ingin punya anak banyak.


Evan saat ini sedang di sibukkan dengan pekerjaannya, Evan fokus dengan laptopnya yang ada di meja kerjanya.


Hari terlihat gelap karena sedang turun hujan, tiba-tiba Tania datang ke kantornya, rasanya Evan bahagia sekali.


"Sayang......"


"Mas Evan, aku bawakan kamu yang hangat-hangat"


"Apa sayang? Kamu cukup bawa diri kamu saja untuk aku peluk, itu juga pasti akan terasa hangat." Cibir Evan, Tania hanya tersenyum kecil.


"Mas aku bawakan kamu soto daging, ada baiknya kamu makan dulu, daripada kamu terus mencibirku," kata Tania yang sudah duduk di sofa di ruangan kerja Evan.


Sekarang Evan sudah punya ruangan sendiri, tadinya Evan hanya karyawan biasa tapi waktu demi waktu, akhirnya Evan naik jabatan menjadi Manajer di kantor perusahaan tempat dia bekerja.


Tania tersenyum, lalu dia memeluk Evan dengan erat.


"Baiklah mas, kita mulai siapkan pernikahan kita, tapi tunggu Naya lahiran dulu, karena Raka agak susah, dia meminta aku yang mengurus lahiran anaknya mas," jawab Tania dan Evan mengangguk setuju.


"Sayang, minta bayaran yang gede dari Raka untuk biaya tambahan nikah," canda Raka dan Tania malah setuju.


Dasar mereka berdua ini, tapi ini hanya sekedar candaan Evan saja. Karena untuk pernikahanya dengan Tania nanti Evan sudah punya tabungan yang akan di jadikan biaya pernikahan mereka.


Kini Evan dan Tania asik menikmati soto berdua, bahkan mereka suap-suapan.


*****


Di sebuah taman dekat kantor Amel masih terdiam, dia hanya duduk sambil menikmati tetesan air hujan yang saat ini sudah membahasi seluruh tubuhnya.


"Hujan, apa kamu juga merasakan kesedihanku?"

__ADS_1


"Sungguh, nasib jadi orang miskin itu tidak enak."


"Kekasih saja tidak mau menoleh pada kita, karena ada wanita kaya di sampingnya, aku sedih."


"Hidupku begitu malang, bahkan kekasihku yang katanya mau menjadi calon suamiku dia tidak perduli lagi padaku."


Amel terus berceloteh di derasnya air hujan, air matanya juga sudah bercampur dengan air hujan.


Reza yang dari tadi sudah berdiri di belakang Amel, sungguh dia menyesal sudah membuat Amel menangis, bahkan Reza mengabaikan Amel begitu saja.


"Sayang......"


Reza berjalan, lalu dia berjongkok di hadapan Amel, matanya menatap mata Amel dengan tatapan sedih.


"Jangan menangis!" pinta Reza, kedua tangannya menghapuskan air mata yang membasahi pipi Amel.


"Kamu mau apa mas? Amel pingin sendiri," tanya Amel dengan kasar Amel malah menepis kedua tangan Reza.


Reza terdiam, dia mengerti kali ini Amel benar-benar marah pada dirinya.


"Sayang, maafkan mas. Bukan maksud mas mengabaikan, mas hanya ingin kamu baik-baik saja dan mas juga tidak ingin kalau Hellen tahu tentang kamu," tutur Reza membuat Amel terdiam sambil menatap Reza dengan tatapan penuh tanda tanya?


"Kenapa mas?" tanya Amel.


"Tidak apa-apa sayang, mas sudah bilang kalau kamu itu calon istri mas pada Hellen, tapi kamu juga harus jaga diri ya!" jawab Reza, terlihat kawatir di benak matanya.


Ada hal yang Reza ingat setelah kejadian beberapa tahun yang lalu, makanya Reza sebenarnya tidak ingin Hellen tahu tentang Amel, karena itu akan membahayakan Amel.


...Entah ada apa di beberapa tahun yang lalu?...


...BERSAMBUNG...


Terimakasih para pembaca setia

__ADS_1


__ADS_2