Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Ke makam papa


__ADS_3

Sesampainya di kantor, Raka melihat Reza bersama dengan wanita yang tidak asing.


"Kenapa Reza mengajak perempuan kesitu?" Tanya Raka pada dirinya sendiri.


Raka berjalan ke tempat Reza dan perempuan itu berdiri. Tatapan Raka terlihat bingung, tumben Reza mau mau membawa seorang perempuan ke kantor? Raka yakin pasti ada sesuatu yang terjadi.


"Apa jangan-jangan, Reza sudah fix mau menjadikan perempuan itu sebagai istrinya?" Batin Raka dalam hatinya.


Melihat kedatangan Raka, Reza langsung tersenyum dan tentunya senyum itu pasti ada maunya.


"Selamat pagi, bos." Sapa Reza dengan nada begitu manis, sungguh Raka ingin sekali muntah mendengar sapaan Reza yang tidak seperti biasanya ini.


"Ini anak kenapa? Tumben-tumbenan bersikap sangat manis," batin Raka dalam hatinya.


"Pagi juga Za," jawab Raka tanpa ekspresi.


"Bos, aku mau bicara sebentar." Kata Reza dan di anggukin oleh Raka. "Kita bicara di ruanganku saja!" Ajak Raka, Reza dan Amel mengikuti langkah kaki Raka di belakang Raka.


Iya perempuan yang di bawa oleh Reza adalah Amel, entah untuk apa? Reza membawa Amel ke kantor Raka? Yang jelas Reza pasti punya maksud tertentu.


Sesampainya di ruangan Raka, Raka duduk di sofa. "Kalian duduklah!" Suruh Raka dengan sopan.


Reza dan Amel sama-sama duduk, kali ini Amel merasa sangat canggung. Dia tidak yakin kalau tempat yang ada di hadapannya ini akan cocok untuk dirinya berkerja.


"Ada apa, katakanlah!" Tanya Raka, sambil menatap Amel dan Reza.


"Bos, aku mau minta tolong. Amel adalah teman aku....." Reza terlihat bingung bagaimana cara dirinya merangkai kata-kata yang tepat?

__ADS_1


Kali ini Reza menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Maaf pak, saya ingin berkerja di kantor bapak menjadi apa saja saya mau pak yang penting halal pak," Amel melanjutkan kata-kata Reza, dia berusaha memberanikan diri.


Raka tertawa kecil, apalagi melihat raut wajah Reza yang sulit di artikan.


"Baiklah, kamu nanti bisa bicarakan dengan Reza." Kata Raka pada Amel, "Reza, kamu kasih saja pekerjaan apa yang cocok untuk nona ini!" Kata Raka dan Reza mengangguk.


Raka tidak pernah meragukan Reza, bahkan Reza ingin Amel berkerja di kantornya saja Raka langsung setuju tanpa menolak sama sekali.


"Siap bos," jawab Raka penuh semangat.


Akhirnya Amel tidak harus bekerja di club malam lagi, Amel juga bahagia karena dia akan terlepas dari dunia malam yang selama ini menjadi pekerjaannya.


Reza dan Amel berpamitan pada Raka, mereka langsung pergi menuju ke ruangan Reza.


"Za, karena hanya tamatan SMA. Aku hanya ingin bekerja sebagai cleaning servis saja," kata Amel membuat Reza kagum dengan Amel.


"Kamu bisa bekerja lebih dari itu Mel, nanti aku akan bantu kamu." Jawab Reza, mencoba memberikan penawaran pada Amel.


"Tidak Za, aku jadi cleaning servis saja." Jawab dengan begitu yakin.


"Baiklah, besok kamu sudah bisa mulai masuk kerja." Kata Reza dan Amel tersenyum senang.


Amel berpamitan pulang karena tidak mau menganggu Reza bekerja. Setelah Amel pulang Reza kembali fokus dengan pekerjaannya.


*****

__ADS_1


Jam menunjukkan pukul 4 sore, Ratih hari ini pergi ke makam mendiang suaminya bersama dengan Evan, iya ini adalah hari kematian suaminya.


"Mas Andi, aku merindukan kamu." Kata Ratih, dia menangis di atas pusaran suaminya.


Evan mengusap-usap punggung mamanya dengan lembut, Evan tahu kepergian papanya untuk selamanya ini meninggalkan luka yang begitu dalam di hati sang mama.


"Seandainya pa, kecelakaan malam itu tidak terjadi dan wanita itu tidak pernah muncul di dalam rumah tangga kita. Pasti kamu masih bersama kita," tangis Ratih semakin pecah. Sungguh jika mengingat waktu itu, Ratih sungguh marah dan sangat sedih.


Evan menatap mamanya dengan tatapan bingung, Evan juga tidak mengerti apa yang di maksud oleh sang mama?


"Kejadian apa ma?" Tanya Evan penasaran.


Naya dan Raka yang ternyata dari tadi sudah berdiri di belakang Ratih dan Evan, Naya juga tampak bingung karena tidak tahu apa yang di maksud oleh sang mama.


Naya duduk di sebelah Ratih, dia tahu hari ini adalah hari kematian papanya. Dulu mereka selalu pergi bertiga ke makam papanya, hanya saja hari ini Ratih tidak mengajak Naya tapi ternyata Naya datang bersama dengan suaminya.


"Mama, kejadian apa?" Tanya Naya, dia juga sangat penasaran.


Ratih menoleh dia tampak terkejut melihat Naya dan Raka ada di belakangnya.


"Kapan, kalian datang? Untuk apa kalian kesini? Kamu juga anak kurang ajar, buat apa kamu datang kesini?" Tanya Ratih tatapannya seperti biasanya penuh kebencian pada Naya.


"Ma, apa yang terjadi malam itu?" Naya kembali bertanya, biarpun tatapan Ratih begitu tajam.


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊

__ADS_1


__ADS_2