Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Main tembak-tembakan


__ADS_3

Malam menunjukkan pukul 7 malam, Raka baru saja pulang kerja dan dia langsung duduk di sofa sambil merebahkan kepalanya di pangkuan Naya.


Naya agak terkejut, tidak biasanya suaminya seperti ini. Biasanya kalau pulang kerja pasti semangat, memberikan ciuman, ini tidak dan dia malah menggenggam tangan Naya dengan erat.


"Kenapa mas? Apa ada masalah di kantor?" Tanya Naya, raut wajahnya terlihat kawatir dia paling tidak tega jika suaminya ada banyak masalah.


"Tidak ada sayang, mas hanya merindukanmu saja. Oh iya, kamu tahu Kak Evan yang bucin tapi aku yang repot," kata Raka membuat Naya bingung di buatnya.


"Repot bagaimana mas?" Tanya Naya penasaran.


Raka bangun dari pangkuan Naya, lalu dia melihat Naya dengan senyum bahagia.


"Sebentar, mas telpon Tania dulu!" Kata Raka dan dia langsung menelpon Tania.


Naya hanya mengangguk, dia juga tidak cemburu jika Raka menelpon Tania, lagian Tania juga kan sedang dekat dengan sang kakak.


Tania yang sedang menikmati makan malamnya sendirian, dia mengangkat telpon dari Raka.


"Hallo Ka, ada apa?"


"Nia, aku mau tanya sesuatu padamu. Apakah boleh?"


"Tanyakan saja!"


"Nia, kamu dan Kak Evan kan sudah mengenal cukup lama. Apa kira-kira kamu ada perasaan suka dengan Kakak iparku?"


"Mungkin, aku rasa Evan adalah laki-laki yang baik dan dia juga sangat perhatian."


Raka senyam-senyum, akhirnya dia mendapatkan jawaban yang memuaskan dari Tania.


"Jika Kak Evan menyatakan perasaannya padamu, kira-kira kamu akan menolaknya tidak?"


Tania menahan senyumnya, haruskah Raka bertanya seperti ini pada dirinya?

__ADS_1


"Entahlah Ka, katakan pada Evan jangan menyuruhmu bertanya! Dia kan seorang laki-laki, langsung saja katakan padaku!"


Tania langsung mematikan saluran telponnya, Raka tersenyum puas, membuat Naya geleng-geleng kepala.


Sedangkan Tania, kali ini Tania sedang senyam-senyum sendiri. Padahal Tania sudah menunggu waktu Evan menyatakan perasaan Evan pada dirinya, tapi sampai saat ini Evan belum juga menyatakannya. Bahkan Tania sudah sering memberikan kode, tapi sebagai seorang laki-laki Evan terhitung tidak peka.


******


"Mas, bagaimana Kak Evan dan Dokter Tania?" Tanya Naya dengan tatapan penuh tanda tanya?


"Entahlah, tapi ada harapan besar untuk Kak Evan." Jawab Raka dan dia langsung mengangkat tubuh Naya masuk ke dalam kamar.


Naya meronta-ronta meminta di turunkan, tapi Raka tidak mau.


"Mas, kamu mau ngapain?" Tanya Naya.


"Hanya ingin membaringkan kamu di tempat tidur, kamu jangan duduk terlalu lama nanti kamu kecapean," tutur Raka sambil menaruh Naya di atas tempat tidur.


Dalam hati Naya, punya suami duda juga aku tidak akan menyesal seumur hidupku. Apalagi dudanya bucin banget seperti ini, aku bahagia sekali.


Evan yang sedang asik dengan game di ponselnya, dia agak mendengus kesal tapi dia juga langsung mengangkat telpon dari Raka.


"Hallo adik iparku."


"Kak, aku baru saja telpon Tania."


"Lalu bagaimana? Katakan Raka, aku sudah tidak sabar!"


"Dia sepertinya menyukai kakak, ada baiknya langsung tembak saja kak tapi ingat jangan di tembak di dalam ya!"


Evan tertawa senang, Raka juga ikut tertawa dasar mereka berdua ini sama-sama koplak.


"Tentu saja tidak, tapi jika mau aku juga tidak sungkan Ka, buat nembak di dalam hitung-hitung nyicil."

__ADS_1


Tawa keduanya semakin kencang, keduanya yang sama-sama suka jail membuat mereka mudah sekali untuk bisa akrab.


"Jangan mikirin tembak menembak, ada baiknya pikiran saja apakah Dokter Tania, akan menerima cinta kakak?"


Evan terdiam berpikir, tanpa berpamitan pada Evan, Raka langsung mematikan saluran telponnya.


Kini Evan termenung dengan pikirannya, apakah Tania akan menerima cintanya? Tapi mau tidak mau, berani atau tidak berani, Evan harus mengungkapkan perasaannya pada Tania.


******


Satu jam telah berlalu, Raka sudah mandi dan dia sudah berganti pakaian tidur. Naya masih terjaga karena memang belum bisa tidur.


"Sayang, kok belum tidur?" Tanya Raka dengan nada lembut.


"Aku belum mengantuk mas," jawab Naya dengan nada lembut juga.


Raka tersenyum mesum, tangannya sudah menyusup masuk ke dalam baju Naya.


"Mas mau ngapain? Sakit, jangan di tekan-tekan terlalu kencang!" Pinta Naya dengan manja.


Suaminya ini memang nafsuan sekali jika di sebelahnya.


"Sayang, main tembak-tembakan yuk!" Ajak Raka. Tapi Naya malah menatap Raka dengan tatapan bingung.


"Kitakan bukan anak kecil lagi mas," jawab Naya yang memang tidak tahu maksud Raka.


"Sayang, tembak-tembakan ini anak kecil tidak bisa memainkannya!" Jelas Raka, dan Naya hanya diam.


"Mas ajarin ya! Biar, kamu tahu caranya main tembak-tembakan alah mas," tutur Raka yang demen sekali mengerjai istrinya.


Naya mengangguk pelan, akhirnya malam ini Naya di ajarin main tembak-tembakan alah Raka secara langsung.


Bahkan Raka berulang kali menembakan pelurunya ke dalam milik Naya, membuat Naya keenakan dan sangat kelimpungan dengan permainan tembak-tembakan yang malam ini Raka ajarkan pada dirinya.

__ADS_1


BERSAMBUNG 🙏


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2