
"Sini mas ajarkan!" Kata Raka, Naya mengangguk pelan.
Entah bagaimana, cara Raka mengajarkan Naya menyiram kecebong kecilnya nanti?
Naya hanya diam, dia bingung bagaimana cara suaminya mengajarkan dirinya cara menyiram kecebong kecilnya agar tumbuh subur di perutnya saat ini.
Raka mendekatkan wajahnya ke wajah Naya, kini tatapan Raka begitu lembut, kedua tangannya sudah memegang kedua pipi Naya, Naya mulai memejamkan matanya dan Raka berniat mencium bibir mungil milik Naya, tapi belum sempat Raka melakukan hal itu, tiba-tiba tangan Naya menahan bibir Raka dengan kuat. "Hoek...Hoek..." Naya berlari masuk ke dalam kamar mandi.
Di kamar mandi Naya muntah-muntah karena tiba-tiba merasakan mual, padahal dari tadi tidak apa-apa tapi ketika Raka mau memulai mengajari Naya, perut Naya langsung mual dan akhirnya muntah.
Raka hanya bisa berdecak kesal, malam ini dia gagal. Mungkin karena kecebong kecilnya sedang tidak mau di siram.
Naya keluar dari dalam kamar mandi, Raka buru-buru berjalan menjemput Naya lalu memapahnya agar duduk di tepi ranjang.
"Apa kamu baik-baik saja?" Tanya Raka dengan nada kawatir.
Naya menjauhkan dirinya dari samping Raka, membuat Raka menatapnya dengan tatapan bingung.
__ADS_1
"Kenapa sayang?" Tanya Raka, dia agak kesal tapi dia menahannya.
"Anak papa, jangan buat mama jauh-jauh dari papa. Sungguh, papa tidak tahan." Batin Raka dalam hatinya.
"Mas, sepertinya kecebong kecilnya kita sedang tidak mau dekat-dekat dengan papanya mas," kata Naya. Dia terlihat sedih, dia tahu pasti Raka juga tidak senang jika Naya bersikap seperti ini. Tapi ini semua adalah bawaan kecebong kecilnya yang ada di dalam perutnya.
"Iya sayang, kamu istirahat saja! Mas malam ini tidur di sofa, kalau ada apa-apa kamu panggil mas saja ya." Raka membantu Naya berbaring di atas tempat tidur, lalu menyelimuti tubuh Naya dengan selimut tebal.
Sebelum pergi ke sofa, Raka mencium kening Naya dengan hangat lebih dulu untuk ucapan selamat malamnya pada istri tercintanya.
Raka membaringkan tubuhnya di atas sofa, Naya melihat Raka ingin rasanya memeluk suaminya tapi kecebong kecilnya ini tidak mau dekat-dekat dengan papanya.
*****
Pagi menunjukkan pukul 7, Raka sudah siap berangkat ke kantor. Naya juga sudah duduk di ruang makan, menunggu suaminya untuk sarapan pagi bersama.
Biarpun sambil masak Naya mual-mual, tapi Naya tetap kekeh menyiapkan sarapan pagi untuk suaminya.
__ADS_1
Kini Raka sudah keluar dari dalam kamarnya, dia langsung berjalan menuju ke ruang makan menghampiri istrinya yang sudah duduk manis menunggu dirinya.
"Pagi sayangku," kata Raka sambil memberikan kecupan selamat pagi pada Naya.
"Pagi juga mas, sarapan dulu ya." Jawab Naya sambil tersenyum.
Raka dan Naya menikmati sarapan pagi bersama, tapi pagi ini Naya tidak makan nasi dia hanya makan roti dan susu saja, karena setiap mencium bau nasi pasti Naya akan mual-mual dan akhirnya muntah lagi.
Setelah selesai sarapan Raka berpamitan berangkat ke kantor, Raka juga meminta Naya hanya diam di kamar saja. Karena takut Naya kelelahan, tapi Naya juga tidak bisa melawan karena pasti jika Naya melawan pasti Raka akan mengoceh seperti burung beo.
Setelah Raka berangkat ke kantor, Naya hanya diam di kamar sambil membaca novel.
Sesampainya di kantor, Raka melihat Reza bersama dengan wanita yang tidak asing.
"Kenapa Reza mengajak perempuan kesitu?" Tanya Raka pada dirinya sendiri.
BERSAMBUNG 😁
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊
Maaf baru up, sibuk banget hari ini 🙏