
Entah apa yang akan terjadi, saat Reza bertemu dengan kedua orang tuanya Amel nanti?
Akhirnya setelah menempuh perjalanan yang lumayan jauh, Reza sampai di rumah Amel.
Jantung Reza berdetak lebih cepat dari biasanya, rasanya tidak jelas, dia juga kawatir kalau kedua orang tua Amel akan menolaknya tapi Reza tetap berusaha meyakinkan dirinya sendiri.
Kini Amel dan Reza sudah turun dari dalam mobil, Reza langsung mengandeng tangan Amel, tapi Amel menatap Reza dengan tatapan tidak yakin.
"Mas yakin?"
"Yakin sayang, kenapa?"
"Mama aku seperti singa kelaparan, dia juga sangat jahat, mas jangan kaget ya!"
Amel sebenarnya takut, mengingat mamanya adalah seorang ibu tiri yang kejam, Amel juga sering siksa kalau pulang tidak membawa uang dan ini Amel malah pulang membawa Reza yang tidak lain adalah kekasihnya. Entah apa yang akan terjadi nanti?
"Mas tidak takut, kamu percaya sama mas!" Reza melihat Amel dengan tatapan lembut, dia juga berusaha menyakinkan Amel.
Akhirnya Amel mengangguk, ya apapun yang terjadi pasti Amel akan hadapi dengan baik karena ini sudah menjadi takdirnya, itu yang di pikirkan oleh Amel saat ini.
Amel dan Reza kini sudah berada di depan pintu rumah Amel, kini Amel menatap Reza dengan tatapan masih tidak yakin.
"Jangan takut! Apapun yang terjadi, mas akan tetap menikahimu." Hibur Reza, membuat Amel tersenyum penuh semangat.
"Dasar Mas Reza, pintar sekali membuat suasana hatiku jadi tenang," batin Amel dalam hatinya.
"Tok..tok...tok...." Reza mengetuk pintu rumahnya Amel.
Erin yang tidak lain adalah ibu tirinya Amel, dia terlihat kesal mendengar suara ketukan pintu.
__ADS_1
"Pasti itu sih j*l*ng sudah pulang, mengganggu saja." Batin Erin dalam hatinya.
Erin beranjak dari tempat duduknya, lalu dia melihat Hans yang tidak lain adalah kekasih gelapnya Erin, iya mereka tadi sedang memadu kasih tapi suara ketukan pintu membuat Erin seketika naik darah.
"Mas, cepat kamu keluar lewat jendela belakang! Itu anak tiriku datang, nanti pasti dia mengadu pada papanya!" Oceh Erin dengan begitu bawelnya.
Hans juga tidak mau ambil resiko, dia buru-buru membenarkan pakaiannya yang sudah agak berantakan, lalu dia buru-buru pergi lewat jendela belakang.
Setelah Hans pergi, Erin menarik nafasnya dengan pelan lalu dia juga membenarkan pakaiannya yang sudah berantakan tidak jelas karena ulah Hans tadi.
Kini Erin melangkahkan kakinya ke pintu depan untuk membukakan pintu rumahnya.
"Ceklek....."
Erin menatap Amel dengan tatapan tidak suka, lalu beralih menatap Reza dengan tatapan tidak suka juga.
Baru bertemu dengan Reza saja tatapan mata Erin sudah seperti singa yang akan memangsa mangsanya.
"Berani bayar kamu berapa? Sampai dibawa pulang ke rumah," tanya Erin tanpa memikirkan perasaan Amel sama sekali.
Amel menarik nafasnya, rasanya ingin marah tapi Amel tidak bisa.
"Inilah aku, di mata ibu tiriku aku hanyalah seorang j*l*ng penghasil uang, mesin ATM dan tentunya aku bukanlah gadis yang beruntung karena ibu tiriku tidak pernah menyayangiku sedikit pun," batin Amel dalam hatinya saat ini Amel hanya bisa menahan tangisnya agar tidak sampai pecah di hadapan Reza.
"Katakan pada saya, harus bayar berapa untuk memiliki Amel selamanya?" Reza menatap Erin dengan tatapan penuh amarah.
"Haahh selamanya, ehh Amel tarifnya mahal satu malam saja bisa 10 juta dia bawa pulang, memangnya kamu punya apa?" Erin menatap remeh Reza, dia hanya melihat Reza sebelah mata.
"Mama, biarkan kita masuk dulu ya!" Pinta Amel dengan nada lembut.
__ADS_1
Erin mengangguk, dia masuk lebih dulu sedangkan Amel dan Reza mengikuti Erin di belakang Erin.
Kini mereka sudah duduk di sofa, Amel hendak pergi ke dapur untuk membuatkan minuman untuk Reza, tapi mata Erin langsung melotot pada Amel.
"Tetaplah duduk!" Sentak Erin dengan suara keras, membuat Amel langsung duduk dan tidak berani bergeming lagi.
"Pelankan suara anda! Atau aku akan membeli mulut anda juga kalau perlu!" Reza menatap Erin dengan tatapan semakin tidak suka.
"Memangnya kamu punya duit berapa? Kamu bilang ingin membeli Amel selamanya, lalu sekarang kamu mau membeli mulutku, yang benar saja anak muda?" Erin lagi-lagi menganggap remeh Reza.
"Apa yang saya katakan benar, tinggal sebutkan saja anda mau berapa? Lalu saya akan segera membawa Amel pergi dari sini, saya akan menikahi Amel!" Tegas Reza, sambil memegang tangan Amel dengan erat.
Erin malah tertawa, dia tidak percaya jika Reza memberikan uang yang dia minta.
"Jangan terlalu sombong, Amel itu ladang uangku, dia mesin ATM ku, jika dia pergi dari hidupku, maka aku tidak akan semudah itu menyerahkan Amel padamu," kata Erin sambil geleng-geleng kepala.
Amel hanya bisa diam, jika dia melawan pasti urusannya akan semakin runyam dan tentunya Erin pasti tidak akan segan-segan menyiksa Amel, bahkan memukul Amel.
Reza menatap tegas ke arah mamanya Amel, mungkin jika Mamanya Amel bersikap sopan pada Reza pasti Reza juga bisa lebih sopan tapi ini, Erin saja tidak sopan bahkan tidak menyambut Reza dengan baik.
"Nyonya, katakan saja berapa yang anda mau saya akan kasih." Kata Reza, dengan begitu yakin.
Erin tersenyum penuh kemenangan, sungguh ini adalah kesempatan emas bagi dirinya.
"Berikan aku 5 miliar, maka aku akan memberikan gadis j*l*ng ini padamu," kata Erin dengan senyum jahatnya.
"Mama.... 5 Miliar?!" Amel terkejut, lalu dia melihat ke arah Reza.
"Bagaimana, apa kamu sanggup?" tanya Erin dengan raut wajah meremehkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 🤗