
Evan yang tadinya terlihat sedih, dia langsung tersenyum dan berlari memeluk Tania dengan erat.
Akhirnya lamaran Evan di terima oleh Tania.
"Cie tadi hampir saja mewek....." ledek Raka, tidak henti-hentinya dia menjaili kakak iparnya itu.
"Hampir saja tadi aku mau ambil ember di kamar mandi," sambung Reza yang tidak kalah jail.
"Untuk apa Kak?" tanya Naya, terlihat begitu polos membuat Raka gemas.
"Siapa tahu, Kak Evan menangis lalu air matanya menjadi mutiara," jawab Reza sambil tertawa melihat Evan.
Sungguh memang Raka dan Reza itu tidak ada akhlak sama sekali, terus saja meledeknya seenak jidat mereka.
"Lumayan Za, kalau itu terjadi. Kan saja bisa modal buat kawin," cetus Tania yang di kalah jail.
"Aish Nia, kawin itu tidak butuh modal yang penting sama-sama mau, yang butuh modal itu respesi pernikahan." Raka membenarkan kata-kata Tania, membuat pipi Tania menjadi merah.
"Dasar duda, pandai sekali kalau ngomongin masalah kawin," timpal Evan sambil geleng-geleng kepala.
Naya melihat kakaknya dengan tatapan tidak terima, membuat Evan menatap Naya juga.
"Mana ada duda, dia adalah suamiku kakak!" Tegas Naya, membuat Raka tersenyum lebar karena istri kecilnya membela dirinya.
Sungguh mereka itu begitu jail saat sedang bersama, Bian disitu hanya berdiri mungkin bisa di bilang Bian seperti nyamuk pengganggu padahal jelas-jelas Tania sudah memilih Evan, tapi Bian masih berharap cinta dari Tania.
"Dokter Nia, apakah sedikit saja kamu tidak punya perasaan untuk aku?" tanya Bian sebelum Bian meninggal acara pesta ulang tahun Tania.
Tania melihat ke arah Bian, tapi tatapan Evan terlihat tidak suka pada Bian.
"Dasar batu, jelas-jelas Tania sudah memilih aku tapi kamu tidak mau tahu," batin Evan dalam hatinya.
__ADS_1
"Dokter Bian, maafkan aku, selama ini aku hanya menganggap Dokter sebagai teman saja, aku juga tidak punya perasaan apa-apa pada Dokter," jelas Tania dengan tegas.
Bian mengangguk mengerti, mungkin inilah saatnya Bian menerima kenyataan yang ada dan harus iklhas kan Tania untuk bersama Evan, ya walaupun rasanya berat tapi melihat orang yang kita cintai bahagia itu adalah hal yang harus Bian lakukan.
Bian melihat ke arah Evan, kini Bian menatap Evan dengan tatapan sulit di artikan.
Raka, Naya, Reza dan Amel, mata mereka tertuju pada Evan dan Bian yang saling tatap menatap satu sama lain.
"Mau apa Dokter Bian ini?" batin Evan dalam hatinya.
"Ada apa?" tanya Evan tatapan matanya terlihat tidak suka pada Bian, apalagi Bian masih terus berusaha mendapatkan cinta Tania.
"Evan, aku titip Tania, jaga dia baik-baik! Ingat jangan pernah lukai hatinya, buat Tania bahagia untuk selamanya," pinta Bian, kali ini mata Bian terlihat begitu serius.
"Dokter Bian, tanpa anda menyuruh saya, saya pasti akan melakukan itu." Jawab Evan dengan tegas.
Bian tersenyum, tiba-tiba Bian meraih tangan Tania, membuat Evan menatapnya kesal karena merasa cemburu. "Apalagi yang mau dia lakukan?" batin Evan dalam hatinya.
Bian hanya bersikap cuek pada Evan, lalu Bian juga tiba-tiba meraih satu tangan Evan.
"Aku tidak rela jika Tania bersama laki-laki lain tapi ini adalah pilihan Tania, melihat Tania bahagia itu juga yang aku inginkan, agar aku juga bisa pergi dengan tenang." Batin Reza dalam hatinya.
Bian menyatukan tangan Evan dan Tania, lalu Bian tersenyum pada Evan dan Tania.
"Kalian harus bahagia, Tania aku pamit aku akan pergi untuk melanjutkan tugasku sebagai Dokter diluar negeri, aku akan mencari seorang istri disana dan tentunya yang seperti kamu." Kata Bian, terlihat matanya berkaca-kaca karena menahan tangisnya.
Ternyata merelakan orang yang kita cintai untuk laki-laki lain itu bukan hal yang mudah. Bian juga merasakan sakit pada hatinya yang begitu dalam, tapi dia juga harus kuat.
"Seperti aku?" celetuk Tania, dia tahu kalau Bian ini laki-laki baik dan pasti akan mendapatkan wanita yang baik juga.
"Iya yang galak dan bawel, aku pergi ya, ingat jaga kesehatan dan jangan telat makan!" pesan Bian untuk Tania.
__ADS_1
Tania mengangguk, lalu dia memeluk Bian sebagai seorang teman seperjuangannya, Bian juga mengucapkan selamat perpisahan pada semua rekan kerjanya dan tidak lupa meminta maaf pada semuanya.
Sungguh entah mengapa malam yang bahagia ini, tiba-tiba menjadi mengharukan. Tania juga rasanya begitu berat mendengar Bian mau pergi untuk melanjutkan tugasnya keluar negeri, entah hati Tania ingin sekali Bian tetap disini dan berjuang bersamanya.
"Tidak bisakah kamu tetap tinggal?" tanya Tania, terdengar suara Tania begitu berat.
"Dokter Bian, apakah anda pergi keluar negeri karena aku bersama dengan Tania?" tanya Evan, dia juga merasa berat ketika Bian berpamitan akan pergi.
Bian hanya membalas senyuman kecil untuk pertanyaan Evan dan Tania.
"Jaga Tania baik-baik!" hanya itu jawaban yang keluar dari mulut Dokter Bian.
Raka, Naya, Reza dan Amel, mereka sama-sama terharu menyaksikan percintaan Segitiga ini.
"Aku pasti akan menjaganya, cepat pulang Dokter dan bawah istri ya!" Evan dan Bian saling berpelukan erat.
Tania tersenyum melihat Evan dan Bian, sungguh malam ini semuanya terlihat berbeda dan tentunya kepergian Bian itu membuat Tania tidak tenang, bahkan hati Tania ingin Bian tetap ada disini.
"Dokter Bian, tetaplah tinggal!" pinta Tania, yang hatinya entah rasanya tidak tenang.
"Tania, ini adalah takdir!" lagi-lagi Bian menjawab perkataan Tania dengan aneh.
Setelah mengucapkan salam perpisahan dan permintaan maaf pada para rekan kerjanya, Bian bergegas pergi dari acara ulang tahun Tania karena malam ini juga pesawatnya akan berangkat.
Bian juga tidak lupa memberikan sebuah kado untuk Tania. "Bukanya besok pagi ya!" pesan Bian dan di anggukin oleh Tania.
Kini setelah Bian pergi, semuanya melanjutkan acara pesta ulang tahun Tania. Hingga jam menunjukkan pukul 11 malam, akhirnya acara selesai.
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia
__ADS_1