
Satu hari telah berlalu, setelah kejadian kemarin di rumahnya. Raka akhirnya mengajak Naya ke kantornya, Raka kawatir jika Naya di tinggal sendirian di rumah takutnya Rio akan berbuat lebih lagi pada Naya.
Pagi setelah sarapan berdua, Raka dan Naya berangkat ke kantor Raka.
"Mas, haruskah aku ikut ke kantor mas? Nanti mas tidak fokus kerja jika ada Naya di sana," kata Naya. Dia takut menganggu pekerjaan suaminya.
Raka menggeleng pelan, dia lebih baik di ganggu istrinya di kantor. Daripada harus kerja dengan pikiran tidak tenang dan yang ada kerjaannya pasti akan kacau balau.
Tangan Raka meraih tangan Naya. "Mas, fokuslah menyetir atau polisi kita akan menilang mobil kita," pinta Naya sambil tersenyum manis.
"Nanti mas akan tunjukkan SIM milik mas pada mereka," jawab Raka dia tidak mau tahu.
"Baiklah mas." Naya hanya mengangguk, percuma suaminya ini pasti akan melawan terus.
Sesampainya di kantor, Raka mengandeng tangan Naya dengan mesra. Membuat para pegawai yang melihatnya di buat baper oleh kemesraan Raka dan Naya.
"Lihat, biarpun Tuan Raka duda, tapi dia begitu romantis."
"Iya tangan istrinya saja di gandeng terus, udah kaya truk gandeng. Takut di ambil orang mungkin."
"Pastilah, lihat saja istrinya cantik sekali masih muda."
"Yang jelas tidak seperti Nyonya Elina dulu."
__ADS_1
Setelah Naya dan Raka sudah tidak terlihat, semua pegawai itu kembali melanjutkan pekerjaan mereka masing-masing.
Di dalam ruangan Raka, Naya hanya duduk sungguh dia tidak tahu mau ngapain? Sedangkan Raka sedang sibuk di meja kerjanya, dia sibuk dengan berkas-berkas yang ada di atas mejanya.
"Tok...tok...tok...." Suara ketukan pintu.
"Masuk!" Sahut Raka dari dalam ruangan.
Reza membuka ruangan kerja Raka, hatinya tiba-tiba berdebar melihat Naya sedang duduk di sofa dengan balutan dress warna kuning baby, riasan yang begitu natural, membuat kecantikan Naya begitu terpancar.
"Istri orang, sungguh hati ini belum bisa melupakan kamu Naya," batin Reza dalam hatinya.
Reza diam-diam melirik Naya, tapi Raka mengetahuinya.
Reza buru-buru mengalihkan pandangannya, dia takut kalau Raka akan berbuat murka.
"Mas Raka, kebiasaan deh. Kak Reza hanya melihatku saja," kata Naya pada suaminya.
"Sayang, kamu juga jangan lihat-lihat Reza. Karena mas melarangnya," tegas Raka sorot matanya begitu sulit di artikan oleh Naya.
Naya hanya bisa menghela nafas panjang, inilah suaminya yang cemburuan. Padahal sudah tidak muda lagi, tapi kalau masalah cemburuan itu no satu.
"Kamu tunggulah di ruangan mas! Reza ayo kita keluar dari ruanganku, kita bicarakan masalah kerjaan di ruangan kamu saja!" Raka beranjak dari tempat duduknya, dia buru-buru mengajak Reza keluar dari dalam ruangannya.
__ADS_1
Reza hanya bisa menghela nafas panjang, begitu menyebalkan bosnya ini.
"Bos, haruskah di ruangan saya?" Tanya Reza, dia sudah mengikuti langkah kaki Raka.
"Iya harus, aku tidak akan membiarkan kamu melihat Naya biarpun hanya satu detik," jawab Raka dengan tegas.
Kini Raka dan Reza sedang mengerjakan pekerjaan mereka.
"Za, kamu sudah mencari kekasih?" Tanya Raka, dia menatap Reza dengan serius.
"Masih setia menunggu jandanya Nyonya Naya, bos." Jawab Reza dengan jail, membuat Raka ingin sekali mengh*j*r.
"Tutup mulutmu, segera carilah istri dan jangan pernah memikirkan Naya lagi!" Tegas Raka, dengan sorot mata yang begitu tajam.
Reza mengangguk, entahlah hatinya ini kenapa begitu sulit melupakan Naya?
"Entah dimana aku harus mencari istri?" Gumam Reza yang ternyata di dengar oleh Raka.
"Nanti aku ajarkan padamu! Nanti malam, aku anterin kamu cari istri ya!" Bisik Raka di telinga Reza.
Entah Raka ini mau mengajak Reza mencari istri dimana? Dasar duda bucin, sungguh Raka ini ingin sekali Reza cepat-cepat menikah agar Reza tidak melirik istrinya lagi.
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊