
"Amel bos." Jawab Reza, kali ini begitu yakin.
"Apakah Amel sudah setuju?" Raka kembali bertanya.
Reza terdiam, kali ini dia sedang berpikir.
"Kenapa diam saja?" tanya Raka, yang sedang fokus dengan laptopnya.
"Bos, tentu saja Amel setuju, bayangkan saja di nikahi laki-laki tampan seperti aku ini, aku yakin dia tidak akan menolak, buktinya Naya juga pernah keplek-keplek padaku," celoteh Reza dan tidak sadar kalau tatapan Raka menjadi garang seketika.
"Kamu mau potong gaji atau bagaimana? Sebut Naya dengan sebutan Nyonya Naya!" tegas Raka, tanpa mau di bantah.
"Lalu satu lagi, jangan pernah bilang kalau Naya pernah keplek-keplek padamu, atau aku akan memotong sebagian gajian kamu!" Raka terlihat menggebu-gebu, sungguh tidak rela sekali mendengar Reza berbicara seperti tadi.
Reza menggelidik kesal, seperti inilah bosnya pasti ujung-ujungnya ngacam mau potong gaji padahal, Reza ingin menabung gajiannya untuk mengelar repsesi pernikahan mewah dirinya dengan Amel.
"Baiklah bos aku minta maaf, jangan di potong gaji bos, kan itu buat nikah sama Amel. Bos, tidak ingin melihatku halal dengan kekasihku?" canda Reza, berharap rasa kesal Raka berkurang.
"Makanya jangan berani menyebut Naya dengan sebutan namanya lagi! Kamu harus memanggilnya Nyonya Naya!" Raka kembali mempertegas perkataannya.
Reza mengangguk paham daripada gajian di potong kan tidak lucu.
"Sekarang bersiaplah untuk pergi meeting," kata Raka dan Reza langsung pergi kembali ke ruangannya untuk mengambil berkas-berkas meeting hari ini.
Kini setelah selesai menyiapkan semuanya, mereka langsung pergi menuju ke ruangan meeting kali ini kliennya wanita gadis muda yang begitu cantik.
__ADS_1
Kini gadis cantik itu sudah duduk di ruangan meeting menunggu Raka datang.
"Hay Nona Hellen," sapa Raka dengan nada lembut.
"Hay juga Pak Raka." Hellen balik menyapa dengan lembut juga.
Betapa terkejutnya Raza melihat gadis muda yang ada di ruangan meeting itu, sungguh dia tidak percaya dengan apa yang dia lihat di hadapannya saat ini.
"Bukankan itu Hellen," batin Reza dalam hatinya.
"Rezaaa....kamu Reza kan?" tanya Hellen, terlihat Hellen begitu senang melihat Reza.
"Hellen Aliansyah...." jawab Reza dengan cepat.
Raka bengong sambil melihat Hellen dan Reza secara bergantian.
"Kita satu kampus, bos." Jawab Reza dan di anggukin oleh Hellen.
Raka mengangguk, kini mereka sudah duduk dan langsung memulai meeting mereka.
Reza mempresentasikan meeting hari ini dengan begitu hebat, tatapan Hellen juga begitu kagum pada Reza, bahkan diam-diam Hellen memperhatikan Reza begitu dalam.
"Ketampanannya tidak pernah luntur dari dulu, sungguh Reza jauh lebih tampan," puji Hellen dalam hatinya.
Setelah beberapa lama akhirnya meeting selesai, tanpa basa-basi Hellen juga langsung menerima kerja sama dengan perusahaan Raka, sekalian agar bisa lebih mudah mendekati Reza.
__ADS_1
Setelah selesai meeting Raka langsung buru-buru pergi ke ruangannya, karena Naya sudah menunggu di ruangannya dan juga untuk membawakan makan siang untuk Raka.
Sesampainya di ruangan, Raka langsung masuk ke dalam dan langsung mengunci pintu ruangannya.
Tanpa menunggu lama, Raka langsung memeluk Naya dengan begitu manja.
Sedangkan selesai meeting, Hellen bukannya pulang dia malah asik mengobrol dengan Reza dengan begitu akrab.
"Reza, akhirnya setelah sekian lama kita bertemu lagi," kata Hellen dengan begitu senang.
"Iya Ell, oh iya kamu sekarang hebat ya, sudah menjadi bos muda," kata Reza dengan penuh kekaguman pada Hellen.
"Seperti inilah, aku hanya meneruskan bisnis papa saja," jelas Hellen apa adanya.
Amel yang dari tadi sedang menyapu dia memperhatikan Reza sedang berjalan dengan gadis cantik.
"Gadis itu siapa? Keliatannya mereka sangat akrab sekali," batin Amel dalam hatinya.
Reza dan Hellen berjalan melewati Amel yang sedang menyapu, tapi Reza melalui Amel begitu saja membuat Amel ternganga tidak percaya.
"Mas Reza tidak menyapaku?" gumam Amel, pikirannya langsung kacau seketika.
Reza dan Hellen asik bercanda berdua, bahkan mereka juga mau makan siang bersama.
BERSAMBUNG
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia