
Jarum jam dinding terus berputar detik demi detik membuat Evan semakin gelisah apalagi di malam pertama yang dia nantikan malah di tinggal tidur oleh Tania.
Evan hanya diam dan terus menatap Tania yang terlelap tidur begitu pulas.
"Sayang, kenapa kamu malah tidur?"
"Bukankah aku bilang jangan tidur dulu."
"Malam pertama macam apa ini? Sungguh istriku ini keterlaluan sekali, aturan malam pertama memadu kasih ini malah mengadu nasib......"
Evan terlihat lemas rasanya sakit tapi tak berdarah, alat tempur yang di siapkan juga malam ini sia-sia begitu saja. Obat kuat yang dia bawa juga akhirnya tidak di gunakan tapi bisa di gunakan lain kali.
Setelah beberapa lama menunggu Tania yang tak kunjung bangun juga akhirnya Evan diam saja dan dia menyerah lalu memilih memejamkan matanya dengan terpaksa.
"Evan tidak ada kata malam pertama, karena malam pertama kamu malah di tinggal tidur," batin Evan dalam hatinya.
*****
Pagi yang begitu cerah matahari juga sudah mulai menyusup masuk ke dalam kamar hotel Tania dan Evan.
__ADS_1
Tania perlahan-lahan membuka matanya tapi ternyata Evan sudah membuka matanya lebih dulu.
"Mas Evannn...." Tania menatap Evan dengan tatapan bersalah.
"Bagaimana, apakah tidur kamu nyenyak sayangku?" sindir Evan matanya terlihat kesal dan tentunya agak garang.
"Mas...aku semalam sangat lelah, aku tidak tahu kalau aku akan ketiduran," jawab Tania dengan tatapan penuh rasa bersalah.
Evan mengangguk, biar bagaimanapun Evan juga masih merasa kesal tapi Evan juga tidak bisa marah pada istrinya itu karena memang acara kemarin itu begitu melelahkan sekali.
"Tidak apa-apa, yang penting nanti malam mas dapat jatahnya lebih," kata Evan dan dengan lembut Evan mengecup bibir mungil Tania.
"Aish jatah lebih, entah apa yang akan terjadi nanti malam?" batin Tania dalam hatinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 7 pagi, Raka, Naya dan Ratih terlihat di meja makan sedang menikmati sarapan bersama.
"Nay, acara 7 bulanan nanti di rumah mama aja ya!" pinta Ratih, Naya terdiam lalu melihat ke arah suaminya.
Raka juga melihat Naya, Raka ingin menolak tapi tidak enak pada mama mertuanya.
__ADS_1
"Mas, bagaimana?" tanya Naya dengan nada lembut.
"Iya tidak apa-apa sayang kita adakan acara 7 bulanan di rumah mama saja," jawab Raka. Lagian tidak ada salahnya kalau acara 7 bulanan Naya di adakan di rumah mama mertuanya.
Ratih terlihat begitu bahagia, Naya juga terlihat bahagia, rasanya Ratih juga tidak sabar menantikan kelahiran cucu pertamanya dan ingin segera mengendongnya.
"Aku berharap aku berumur panjang agar aku bisa menimang cucuku nanti, agar aku juga memberikan kasih sayang yang tulus untuk cucuku," batin Ratih dalam hatinya.
Dulu Ratih begitu kejam pada Naya tapi saat cucunya lahir nanti, Ratih berjanji akan terus memberikan cinta dan kasih sayang untuk cucunya nanti. Untuk menebus kesalahannya di masa lalu pada Naya yang hampir setiap hari dia siksa, di kasih makan sisa bahkan seringkali di jambak hingga Naya merintih kesakitan saja Ratih tidak pernah perduli.
"Itu Nay, suami kamu juga setuju, nanti pokoknya mama mau menyiapkan acara 7 bulanan yang meriah, oh iya Nak Raka untuk acara 7 bulanan nanti semua mama yang urus ya, jadi Nak Raka tidak boleh mengeluarkan uang sedikitpun!" pinta Ratih dengan begitu antusias.
Raka mengangguk, rasanya bahagia sekali karena mama mertuanya ini sungguh telah berubah dan sangat menyayangi istrinya.
Setelah selesai sarapan pagi bersama Raka berangkat ke kantor sedangkan Ratih dan Naya kembali melanjutkan kesibukan mereka.
Bersambung
terimakasih para pembaca setia
__ADS_1