
Pagi yang begitu cerah, Naya hanya diam dia tidak tahu mau melakukan apa? Sedangkan sarapan untuk suaminya sudah di siapkan.
Raka yang sudah selesai bersiap-siap untuk ke kantor, dia keluar dari kamarnya mencari-cari sosok istrinya.
"Sayang, kamu dimana?"
"Aku di dapur mas, kenapa?" Jawab Naya, suaranya agak keras.
Raka berjalan menuju ke dapur, dia menghampiri Naya yang sedang sibuk dengan kegiatannya.
"Kamu lagi ngapain?" Raka memeluk Naya dari belakang. "Mas, aku sedang membuat susu," jawab Naya. Tangan Raka makin erat, wajahnya sudah terbenam di leher jenjang Naya.
"Mas, jangan nakal ih! Kan mau kerja, semalam sudah kan mas," rengek Naya manja.
Raka melepaskan dirinya dari tubuh Naya, kini matanya terus menatap wajah cantik Naya.
"Ayo mas, ini susunya sudah aku buatkan."
"Mas tidak mau susu buatan kamu."
"Lalu mas?" Naya menatap Raka polos.
"Maunya susu asli punya kamu sayang." Raka begitu jail, bahkan tangannya mer*m*s s*s* Naya dengan kuat. "Achh...." rintih Naya manja.
"Mas, ih kamu itu jail sekali." Omel Naya, tapi yang namanya Raka tidak ada habisnya kalau sudah di dekat Naya. Naya itu bagaikan candu baginya, apalagi bibirnya yang tipis dan kinyis-kinyis itu membuat Raka selalu ingin menikmati bibir tipis milik Naya.
Kini Naya pergi menuju kemeja makan, Raka juga mengekor di belakang Naya seperti kucing yang belum di kasih makan.
"Sarapan dulu mas!"
Naya melayani suaminya dengan tulus, sebagai seorang istri Naya berusaha menjadi istri yang baik.
__ADS_1
Setelah selesai sarapan, Raka berangkat ke kantor dan Naya membereskan bekas makan mereka.
"Biar saya saja, Nyonya." Kata Bi Iyem.
"Tidak apa-apa bi, bibi kerjakan yang lain saja. Hanya mencuci piring saya sudah biasa bi," kata Naya dan di anggukin oleh BI Iyem.
"Nyonya, nanti bibi izin pulang cepat ya. Tidak apa-apakan?"
"Tidak apa-apa bi, nanti setelah kerjaan bibi selesai. Bibi langsung pulang saja."
Bi Iyem melanjutkan pekerjaannya, dia hendak menyapu ruang tamu dan dia menemukan berkas-berkas Raka yang tertinggal di atas meja.
"Pasti Bos Raka, lupa." Bi Iyem, berjalan ke dapur untuk memberikan berkas itu pada Naya.
"Bibi, ada apa?" Tanya Naya dengan sopan.
"Ini, Bos Raka meninggalkan berkas-berkas ini di atas meja depan, Nyonya."
"Biar saya antar ke kantor Mas Raka, Bi."
Naya langsung pergi menuju ke kantor Raka di Antar oleh Pak Arif.
*****
Di kantor Raka, Raka menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal, sungguh dia merasa kesal karena meninggalkan berkas-berkas penting untuk meeting siang ini.
"Kenapa bisa ketinggalan?" Raka berdecak kesal, sungguh tidak biasa dia teledor.
Sedang kesal tiba-tiba ada yang mengetuk pintu ruangannya.
"Tok....tok....."
__ADS_1
"Masuklah!" Sahut Raka dari dalam ruangannya.
"Ceklek."
Wanita cantik dengan pakaian dress yang begitu mini, belahan d*d*nya juga agak terbuka, dia masuk ke dalam ruangan Raka.
Matanya berbinar senang melihat Raka, Raka melihatnya dengan tatapan penuh arti, kini matanya tidak berkedip sama sekali melihat wanita yang ada di hadapannya saat ini.
"Raka..." panggilnya dengan suara begitu lembut, Raka menoleh dia tersenyum pada wanita itu.
Wanita itu berjalan menuju ke kursi kerja tempat Raka duduk. Kini tangannya sudah mengalung sempurna di leher Raka, wajahnya dengan centil hendak menyusup ke leher Raka.
"Mau apalagi kamu kesini?" Tanya Raka dengan nada membentak.
"Tentu saja, aku mau kamu. Aku tahu kamu sudah bercerai dengan Elina," tangan wanita itu mulai memainkan dasi Raka.
"Jagalah sikapmu!" Sentak Raka, dia hendak menyingkirkan tangan nakal wanita itu tapi belum sempat melakukannya.
"Mas........" panggil Naya.
Naya sudah berdiri di ambang pintu, matanya berkaca-kaca melihat apa yang di hadapannya saat ini.
"Sayang....aku bisa jelaskan!" Dengan kasar Raka menepis tangan wanita itu.
Naya menjatuhkan berkas-berkas milik Raka dan dia berlari begitu saja dari ruangan Raka.
"Tega kamu Mas Raka." Naya menangis sambil berlari, entah dia pergi kemana? Pikirannya Naya begitu kacau memikirkan siapa wanita yang bersama suaminya tadi?
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 😘
__ADS_1