
"Mama, Tania adalah..."
"Adalah siapa?" Sambung Ratih, yang tidak sabar mendengarkan jawaban dari Evan.
Evan membenarkan posisinya menjadi duduk, lalu dia mendekatkan mulutnya ke telinga sang mama. "Rahasia mama, nanti mama akan tahu kalau sudah waktunya," bisik Evan di telinga Ratih.
Ratih geleng-geleng kepala, dasar anaknya ini sama mamanya sendiri saja pakai rahasia-rahasiaan segala.
"Terserah kamu sajalah Van. Segeralah menikah, mama tidak mau melihat kamu menjadi gila," omel Ratih tapi Evan malah masuk ke dalam kamar tanpa memperdulikan Omelan dari sang mama.
Ratih hanya bisa menghela nafas pelan, berharap Evan akan segera membawakan calon mantu untuk dirinya.
"Naya saya yang masih kecil sudah pandai membuat adonan, lah ini sih Evan suruh nikah saja susah sekali," batin Ratih dalam hatinya.
"Punya anak laki-laki satu saja menyebalkan sekali, di suruh nikah banyak alasan. Aku hanya takut tidak berumur panjang, aku ingin melihat anak-anakku bahagia dengan keluarga mereka nanti," kata Ratih penuh dengan harapan.
Ratih masuk ke dalam kamarnya, kini dia mengambil foto kenang-kenangan bersama dengan mendiang suaminya.
__ADS_1
"Sudah beberapa tahun kamu ninggalin aku, aku bahkan tidak mau menikah lagi. Karena selama ini aku sangat mencintaimu, berharap kita bisa bertemu di surga nanti ya mas," kata Ratih dengan erat Ratih memeluk bingkai foto yang berisi foto suaminya dan dirinya.
Kenangan yang indah bersama suaminya tidak pernah Ratih lupakan. Banyak laki-laki yang mendekati dirinya, tapi Ratih tidak pernah mau membuka hatinya untuk laki-laki manapun.
Ratih memilih melanjutkan hidupnya bersama kedua anaknya, Ratih memilih hidup sederhana sebagai pembuat kue dan Naya yang berjualan kue-kue buatannya.
"Tenanglah, kamu di surga sana mas!" Doa Ratih dalam hatinya.
Ratih merebahkan tubuhnya, dia tidur sambil memeluk foto bersama suaminya. Berharap suaminya, akan datang ke dalam mimpinya saat Ratih tidur nanti.
*****
Sambil menyiram tanaman Naya bernyanyi dengan begitu senang. Gerbang rumah Raka sengaja Naya buka, karena Naya ingin udara segar masuk.
Tanpa Naya sadar ada seorang wanita yang sedang memperhatikan Naya yang sedang menyiram tanaman.
Tatapan mata wanita itu terlihat tidak suka pada Naya, apalagi melihat Naya terlihat begitu bahagia itu membuat hatinya meronta-ronta.
__ADS_1
"Kamu enak menikah dengan Mas Raka, hidupmu senang, apapun pasti Mas Raka berikan." Gumam wanita itu, tatapan matanya begitu tidak suka pada Naya.
Raka yang sudah selesai mandi dan berganti pakaian, Raka keluar dia menghampiri Naya yang sedang menyiram tanaman.
"Sayang, jangan terlalu capek! Kasian kecebong kecil kita," kata Raka sambil memeluk Naya dari belakang dengan mesra.
Naya menghentikan kegiatannya, lalu dia membalikkan tubuhnya menghadap ke sang suami.
Mata keduanya saling menatap, Raka tersenyum lalu tangannya membelai pipi Naya dengan lembut.
"Kamu pipinya terlihat tembem sayang," kata Raka dengan gemas Raka memainkan pipi Naya.
Mereka terlihat bahagia, tapi tatapan wanita yang dari tadi memperhatikan mereka terlihat begitu iri dan tidak suka dengan kebahagiaan Raka dan Naya.
Dengan kasar, wanita itu menyalakan mesin mobilnya lalu melajukan mobilnya dengan cepat. Rasanya tidak kuat jika terlalu lama melihat kemesraan Naya dan Raka.
Naya dan Raka saling berpelukan, Naya juga sangat bahagia karena dia tengah hamil dan di kehamilannya yang pertama kali, sangat membawa rejeki dan kebahagiaan yang selama ini Naya impikan. Yaitu pelukan dari sang mama yang akhirnya dia dapatkan.
__ADS_1
BERSAMBUNG 💪
Terimakasih para pembaca setia 🤗