
"Mas, siapa saja wanita kamu?" tanya Amel dengan tatapan begitu tajam.
"Sayang....." Reza terlihat bingung, lagian bosnya ini ngomong seenaknya sendiri buat Amel berburuk sangka saja.
"Jawab mas! Kalau tidak mau jawab, ya sudah aku marah saja," ancam Amel. Hati Amel saat ini dipenuhi rasa curiga, dia takut jika apa yang dikatakan oleh bosnya itu benar adanya.
Reza menghela nafasnya dengan pelan, lalu dia menatap Amel dengan tatapan lembut, Reza tahu kalau saat ini Amel sedang berpikir macam-macam, gara-gara kejailan bosnya.
"Sayang, aku tidak punya banyak wanita. Bos Raka, hanya bergurau saja." Jelas Raza, tapi Amel malah diam dan berlalu pergi begitu saja dari ruangan Reza.
Reza berusaha menahan tangannya Amel tapi Amel malah menepis tangan Reza dengan begitu kasar, lalu berlari pergi begitu saja.
"Aish semua ini gara-gara sih bos." Reza kembali ke kursi kerjanya, dia kembali sibuk dengan pekerjaannya.
Reza ingin mengejar Amel tapi tidak Reza lakukan dan Reza berpikir mungkin ada baiknya masalahnya di selesaikan dirumah saja. Lagian Amel juga tinggal dirumahnya, jadi itu akan lebih mudah nanti.
*****
Amel terdiam di taman belakang kantor, dia duduk sendirian, sambil memikirkan apakah benar kalau Reza itu punya banyak wanita?
Jik itu benar maka Amel akan sangat sedih, apalagi bapaknya Amel juga suka dengan banyak wanita, bahkan waktu sudah menikah dengan almarhumah ibunya saja bapaknya Amel sering jajan diluar dan tentunya lebih sering gadis-gadis muda yang menjadi incaran bapaknya.
"Bagaimana jika Reza seperti bapak? Aku hanya ingin punya suami laki-laki yang setia, aku tidak ingin mati muda karena suamiku nanti suka main banyak wanita, mama Amel tidak mau seperti mama." Batin Amel dalam hatinya, Amel menangis dalam hatinya.
Amel bukan marah seperti layaknya pacaran ABG, Amel marah karena Amel takut Kalau Reza seperti bapaknya.
"Mas, aku berharap kamu tidak seperti bapakku!"
__ADS_1
"Aku ingat sekali betapa sedihnya mamaku setiap hari, bahkan bapakku tidak pernah perduli dan lebih suka dengan j*l*ng-j*l*ngnya."
Amel terdiam, dia hanya bisa bicara dalam hatinya. Karena dia tidak tahu dia harus bicara dengan siapa lagi?
Sekilas bayangan mamanya terlihat, mamanya terlihat tersenyum pada Amel. Amel mengejar bayangan itu, dia ingin sekali menyentuhnya tapi tiba-tiba bayangan itu menghilang begitu saja.
"Mama, Amel adalah wanita yang kuat. Amel tidak akan menangis!" Batin Amel, dia berusaha menguatkan dirinya sendiri.
Amel masih terdiam, dia berharap bayangan mamanya muncul kembali, karena Amel ingin sekali memeluknya.
*****
Jam menunjukkan pukul 7 malam, Raka langsung buru-buru pulang karena kawatir dengan Naya yang hanya sendirian di rumah.
Selain kawatir Raka juga sudah sangat merindukan Naya.
Naya agak risih apalagi saat ini dirinya sedang sibuk tapi suaminya ini selalu saja kalau sudah pulang kerja pasti suka sekali menganggu Naya, bahkan kadang mendadak mengajak bermesraan.
"Mas, lepaskan dulu! Naya lagi masak nanti gosong, Naya omelin mas ya." Omel Naya tapi Raka tidak mau tahu, yang jelas saat ini Raka ingin sekali memeluk istrinya.
"Kalau kamu mengomel nanti mas cium biar berhenti mengomelnya," ancam Raka sungguh tidak mau mengalah pada istrinya.
Naya hanya geleng-geleng kepala, dia melanjutkan memasaknya Raka juga tetap memeluknya, dasar Raka ini sudah tahu istrinya bawah perut besar tapi ya begitulah Raka cara menunjukkan rasa sayangnya pada istri tercintanya.
"Sayang, kapan kita membeli perlengkapan untuk kecebong kecil kita?" tanya Raka, sambil mengelus-elus perut besar Naya.
"Tunggu habis 7 bulanan mas, kata orang tua dulu pamali kalau beli-beli sekarang," jawab Naya yang akhirnya selesai dengan kesibukan memasaknya.
__ADS_1
"Sudah selesai, mas mau mandi dulu? Atau makan malam dulu?" tanya Naya dengan nada lembut.
"Mandi dulu, tapi mas maunya di mandiin!" Rengek Raka, duda berumur ini sungguh suka sekali manja dengan istri kecilnya.
Karena tidak mau berdebat akhirnya Naya sungguh-sungguh memandikan Raka, Raka ini sudah seperti bayi tua.
*****
Di kediaman Reza, Reza dan Amel saling diam bahkan mereka menikmati makan malam juga hanya diam saja tidak seperti malam-malam biasanya.
Karena kejailan Raka dua sejoli ini yang biasanya romantis menjadi seperti es batu dan kulkas saja.
"Sayang...." Reza memulai membuka pembicaraan.
"Apa?" jawab Amel dengan begitu cuek.
"Bos Raka tidak benar, dia hanya bercanda saja kamu jangan berpikiran macam-macam ya dan aku tidak pernah punya banyak wanita." Jelas Reza, dia mengerti pasti Amel sedang berpikir macam-macam tentang dirinya.
Amel menghentikan makannya, dia menatap Reza dengan tatapan begitu dalam.
"Mas, aku hanya takut semua itu benar, aku takut aku akan menderita seperti mamaku, kamu tahu mamaku tidak pernah bahagia karena penghianatan yang papaku lakukan," kata Amel membuat Reza kaget karena baru tahu sekarang.
"Maksudnya kamu sayang?" tanya Reza, dia ingin tahu lebih jelas.
Tiba-tiba air mata Amel menetes mengingat kejadian beberapa tahun silam.
BERSAMBUNG 🤗
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 🙏