
Setelah selesai makan siang, Reza dan Raka ada meeting mereka langsung pergi meeting sedangkan Amel pergi melanjutkan pekerjaan dirinya.
Naya di rumah hanya sendirian, tapi bersyukur karena Mama Ratih datang mengunjunginya. Naya juga tidak menyangka kalau mamanya akan datang, apalagi mamanya ini tidak memberikan kabar terlebih dahulu.
"Mama, mau datang kok tidak telpon Naya dulu?"
"Sengaja nak, mama mau kasih kejutan untuk kamu, mama juga bawakan kue jualan mama."
Naya tersenyum bahagia, dia langsung membuka bingkisan kue yang dibawa oleh Ratih.
"Mama ini kue kesukaan Naya, terimakasih ya ma."
Ratih tersenyum dia langsung memeluk Naya dengan erat, sungguh kenapa dulu dia bisa begitu jahat pada Naya. Padahal Naya adalah anak yang baik, Ratih masih tidak habis pikir dengan perlakuan dia dulu pada Naya.
"Iya nak, mama buatkan kue putri salju khusus buat kamu dan calon cucu mama." Kata Ratih, sambil mengelus-elus perut Naya yang sudah terlihat besar.
Ratih tadi melihat status salah akun sosial media Naya, Naya membuat status kalau dia pingin makan kue salju, akhirnya Ratih berinsiatif membuatkan kue putri salju dan langsung mengantarkan ke rumah Naya.
Akhirnya Ratih bisa setulus hati menyayangi Naya seperti putri kandungnya sendiri, yang walaupun jika mengingat kejadian beberapa tahun lalu begitu sakit, tapi Ratih sadar kalau Naya tidak salah apa-apa dan tidak patut dia benci atau caci maki.
"Mama, Naya makan kuenya ya." Kata Naya, kini mereka sudah duduk di kursi meja makan.
"Makanlah nak, jika kurang nanti mama buatkan lagi," jawab Ratih terlihat senyumnya begitu tulus pada Naya.
Naya menikmati kue buatin Ratih dengan begitu nikmat, Ratih juga sangat senang karena melihat Naya memakan kue buatannya dengan lahap.
Setelah kenyang makan kue yang di bawah oleh mamanya, Ratih dan Naya sama-sama duduk di sofa, mereka asik mengobrol dengan begitu bahagia.
*****
Jam menunjukkan pukul 7 malam seperti malam biasanya Raka pulang, tapi Raka kaget karena melihat mobil Evan.
Kini Evan dan Tania sama-sama keluar dari dalam mobil Evan, Evan datang ke rumah Raka karena ingin menjemput mamanya sekalian mengenalkan Tania pada sang mama.
__ADS_1
"Tumben, ada angin apa?" Raka terlihat heran, karena tidak angin tidak ada hujan tiba-tiba kakak iparnya dan sang kekasih datang ke rumahnya.
"Angin rindu, iya aku merindukan adik iparku ini," dengan jail Evan langsung memeluk Raka membuat Raka menyelidik jijik.
Sungguh kakak iparnya ini, entah kesambet dedemit mana? Main pelul- peluk saja, sudah seperti jeruk makan jeruk saja.
"Kak lepaskan! Malu di lihat sama Tania," kata Raka membuat Tania hanya tertawa kecil.
"Kalian berdua cocok," ledek Tania membuat Raka semakin jijik melihat Evan.
"Aku sudah punya Naya, Nia ini calon suamimu jauh-jauh dariku!" Kata Raka, membuat Evan menatapnya tajam.
Raka berlalu pergi meninggalkan Evan dan Tania, lalu Evan langsung mengandeng tangan Tania dan mengikuti langkah kaki Raka di belakang Raka.
"Tok..tok.... sayang, mas pulang....!" Raka membuka pintu rumahnya, karena tidak di kunci oleh Naya.
"Kok pintu tidak di kunci?" batin Raka, rasanya langsung begitu kawatir.
Raka langsung masuk ke dalam rumah, dia mencari sosok Naya hingga menemukan Naya sedang mengobrol dengan ibunya di ruang tengah.
"Iya sayang, mama ada disini," Raka berjalan ke sofa lalu dengan sopan menyalami tangan Ratih lalu mencium punggung tangan Ratih.
"Kapan datang ma?" tanya Raka, dia duduk di sebelah Naya.
"Sudah dari tadi nak," jawab Ratih dengan nada lembut.
Tania dan Evan hanya berdiri, sungguh Raka itu adik ipar macam apa? Sampai-sampai kakak iparnya dan calon kakak iparnya itu tidak di suruh duduk, tapi Raka memang sengaja melakukan itu lagian Evan sudah main peluk-peluk, jadi Raka masih kesal pada Evan.
"Raka, apa kamu ingin membuat kakiku patah gara-gara aku berdiri terlalu lama?" celetuk Evan dengan raut wajah kesal pada Raka.
Raka meringis jail, Ratih dan Naya sama-sama kaget mendengar suara Evan, karena dari tadi mereka tidak tahu kalau Evan juga datang.
"Evan..."
__ADS_1
"Kak Evan, kapan datang?"
"Tanya sama suamimu Nay!"
Naya melirik Raka dengan tatapan penuh tanda tanya, tapi Raka hanya membalas dengan senyum kecil di bibir. Naya paham sekali pasti Raka berbuat jail pada kakaknya itu.
"Lagian sayang, Kak Evan peluk-peluk aku."
Raka mengadu pada Naya, layaknya anak kecil mengadu pada ibunya, Naya melihat ke arah Evan meminta jawaban.
"Naya aku hanya memeluk suamimu, tidak sampai memakannya."
Sungguh kakaknya dan suaminya ini, selalu saja ada yang mereka ributkan saat bertemu.
"Sudah-sudah, Evan berhentilah menganggu adik iparmu!" Omel Ratih, membuat Evan agak manyun manja.
"Mama sekarang lebih berpihak pada Raka." Evan mengadu pada Tania, membuat Tania hanya menggelengkan kepalanya.
Sungguh lama-lama Evan pasti akan sebucin Raka. Lihat tingkahnya saja sudah melebihi Raka.
Tatapan mata Ratih tertuju pada Tania yang berdiri di samping Evan, melihat gadis cantik yang ada di samping Evan, pikiran Ratih traveling kemana-mana.
"Siapa gadis cantik itu?" batin Ratih dalam hatinya.
"Kakak sini duduk! Jangan pedulikan suami Naya!" Kata Naya, membuat Evan langsung tersenyum penuh kemenangan.
Biarpun mamanya tidak berpihak pada dirinya, tapi Naya malah membela dirinya.
Evan dan Tania sama-sama berjalan menuju ke sofa, mereka duduk dan Tania juga menyalami tangan Ratih dengan sopan.
"Evan, siapa gadis ini?" tanya Ratih sambil menatap Evan meminta jawaban.
"Mama dia....."
__ADS_1
BERSAMBUNG 😊
terimakasih para pembaca setia 🤗