
Amel langsung menghentikan langkah kakinya, kali ini matanya menatap Reza dengan garang.
"Maaassss......Rezaaaa....!!!!"
Amel malah berteriak kencang, membuat Reza kebingungan, apa salahnya? Padahal kan menurut Reza, dia sudah menawarkan apa yang benar? Saat Amel yang tidak lain adalah kekasihnya marah, ini Amel malah bertriak dan menatapnya dengan garang.
Reza mendekati Amel, dia berbisik di telinga Amel."Sayang, jangan teriak-teriak! Tidak enak kalau ada yang mendengarnya," bisik Reza.
"Biarkan saja, lagian mas kira, aku ini perempuan apaan? Orang lagi marah malah di ajak shopping." Amel malah berceloteh seperti burung beo.
Dalam Reza, inilah laki-laki harus sering mengalah, bahkan salah atau tidak ya harus tetap mengaku salah. Untung aku sayang sama kamu Mel, kalau tidak sudah aku tinggal pergi begitu saja.
"Baiklah mas minta maaf, mas salah. Tapi kamu jangan ngambek terus, kan sudah mas jelaskan semuanya!" pinta Reza, rasanya tidak tenang sekali saat kekasihnya ini sedang ngambek seperti sekarang ini.
"Iya Amel maafkan, tapi Amel minta sesuatu pada mas," jawab Amel. Sorot mata Amel sulit di artikan oleh Reza.
"Apa yang mau Amel minta? Apakah Amel meminta putus dariku?" batin Reza dalam hatinya, perasaannya merasa tidak enak.
"Sayang, kamu mau minta apa?" tanya Reza, detak jantungnya tiba-tiba berdebar kencang.
"Mas aku ingin pernikahan kita di percepat, jika mas tidak mau, maka lebih baik kita akhiri semuanya sampai disini saja." Jawab Amel, dalam hatinya Amel merasa berat saat kata akhiri semuanya keluar, tapi Amel juga ingin bersikap tegas agar Reza tidak bersikap semau dia seperti waktu itu.
Seketika Reza terdiam, tatapan matanya begitu lembut menatap mata Amel, hatinya tidak rela mendengar Amel berkata seperti itu.
Kedua tangan Reza mengarah ke pipi Amel, lalu memegang pipi Amel dengan lembut dan penuh kasih sayang. "Sayang, jangan pernah bilang untuk akhiri hubungan kita, aku akan mempercepat pernikahan kita." Jawab Reza, tanpa memberikan aba-aba pada Amel tiba-tiba Reza mencium bibir Amel.
Amel kaget dan matanya seketika membulat sempurna. "Emmhh...." Amel agak meronta tapi Reza tidak perduli, malah Reza terus mencium bibir Amel dengan lembut.
Amel yang tadinya berusaha meronta-ronta agar Reza melepaskan ciumannya tapi itu tidak berhasil, akhirnya Amel malah menutup matanya dan mulai menikmati ciuman dari Reza.
Kini setelah beberapa lama akhirnya Reza melepaskan ciumannya dan Reza memeluk Amel dengan erat. "Kita percepat pernikahan kita sayang, jangan kawatir mas tidak akan berpaling di belakang kamu," Reza menyakin kan Amel di dalam pelukannya.
__ADS_1
Amel mengangguk, setelah menyelesaikan masalahnya Reza dan Amel langsung pulang ke rumah mereka.
****
Hujan yang tiba-tiba datang membuat Raka dan Naya tidak tahu mau ngapain? Mereka hanya menikmati teh berdua.
Naya juga hanya merebahkan kepalanya di pangkuan Raka.
"Sayang, hujan-hujan gini enaknya main yang hangat-hangat," kata Raka sambil membelai lembut rambut panjang Naya.
Naya terdiam dia sedang berpikir, permainan apa yang hangat di saat hujan seperti ini?
"Bagaimana kalau kita buat mie instan mas, itukan hangat, pasti tubuh kita juga tidak akan kedinginan lagi," jawab Naya yang terdengar begitu polos.
Raka menggaruk-garuk kepalanya, begini kalau memberikan aba-aba pada istrinya suka tidak nyambung, di ajak main yang hangat-hangat ini malah ngajak makan mie instan.
"Jangan mie instan, kita bermain yang hangatnya sampai dalam, biar mas juga tidak kedinginan," kata Raka membuat Naya diam saja.
Kalau istrinya sudah menunjukkan ke polosonnya, inilah yang membuat Raka bahagia dan tentunya penuh dengan ide licik.
"Ada sayang, ayo mas kasih tahu!" Raka begitu semangat, Naya juga langsung menurut.
"Mau mainnya dimana mas?" tanya Naya, kini Naya dan Raka sudah sama-sama beranjak dari tempat duduknya.
"Di kamar sayang," jawab Raka dengan jail.
Seketika Naya paham, pasti suaminya ini minta bermain ehem-ehem, aish Mas Raka selalu saja bisa membuat teka-teki yang tidak aku paham.
"Naya kenapa kamu ini polos sekali sih, permainan hangat-hangat itu ya ternyata main tembak-tembakan," batin Naya dalam hatinya.
Kini mereka sudah masuk ke dalam kamar mereka.
__ADS_1
"Bagaimana, kamu siap sayang mulai permainan ini?" tanya Raka, Naya mengangguk dan Raka tersenyum kecil.
Raka menyuruh Naya duduk di tepi ranjang, lalu Raka menyuruh Naya membuka bagian sl*k*ng*nnya agak lebar. Naya menuruti apa kata suaminya.
"Mas, kenapa tidak sambil tiduran saja?" tanya Naya, karena tumben sekali Raka malah menyuruh Naya duduk.
Bukannya menjawab pertanyaan istrinya, kini malah tangan Raka sudah masuk ke dalam ke tengah-tengah sl*k*ng*n Naya.
"Sayang, mas mau mencoba pakai jari, kamu nikmati saja ya!" pinta Raka, kini tangannya sudah mulai melepaskan c* milik Naya yang berwarna pink itu.
Raka mulai nakal dan dia mulai mengelus-elus m*l*k Naya dengan lembut, membuat Naya menggelinjang merasakan sentuhan jari-jari Raka di bawah sana.
"Emmhh.... ahhh....."
Naya mulai mend*s*h menikamati m*l*knya sudah mulai di tusuk-tusuk oleh jari Raka.
"Enak kan sayang," tanya Raka sambil tersenyum mendengar d*s*h*n manja istrinya.
Naya tidak menjawab tapi dia semakin mengeluarkan d*s*h*nnya. Naya merebahkan tubuhnya di atas kasur.
Kini di tengah hujan yang sedang melanda mereka sungguh bermain yang hangat-hangat tapi kali ini Raka mengunakan ad*k kecilnya tapi mengunakan jarinya.
Setelah Naya puas Raka langsung membuka celananya, lalu mengangkat rok Naya ke atas, kini Raka langsung menancapkan m*l*knya ke dalam m*l*k Naya.
Pergelutan mereka semakin panas, Naya dan Raka juga sama-sama merasakan sesuatu yang luar biasa. Bahkan setelah permainan itu selesai, Raka malah minta lagi membuat Naya lemas dan sangat lelah.
Sungguh benar kata Raka disaat sedang hujan bermain hangat-hangat ini, rasanya begitu nikmat, merasakan semburan l*v* yang begitu banyak membuat kehangatan itu terasa di dalam tubuh mereka.
Sampai sekarang Raka sangat bahagia, apalagi kepolosan istrinya ini kadang membuat Raka gemas dan suka sekali memberikan teka-teki yang Naya kurang paham.
Bersambung
__ADS_1
terimakasih para pembaca setia