Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Reza vs Raka


__ADS_3

Amel tidak bisa berkata apa-apa lagi, kali ini Amel hanya bisa membalas ketegasan Reza itu dengan sorot mata yang penuh cinta juga.


"Apakah, Mas sudah selesai menggombalnya?" canda Amel, terukir tawa tipis di sudut bibirnya yang mungil itu.


Reza kembali menatap Amel, kali ini tatapannya begitu serius, membuat Amel tiba-tiba merasa deg-deggan.


"Mas......"


"Sayang, mas ini serius tidak pernah sedikitpun mas hanya menggombal atau merayu kamu," tegas Reza dengan sorot mata yang begitu dalam.


Amel tersenyum. "Iya mas aku tahu, aku juga hanya bercanda, sudah malam tidur yuk mas," ajak Amel karena rasa kantuk sudah mulai menyelimuti matanya.


Reza malah nyengir jail, membuat Amel menatapnya semakin bingung. "Ada apa mas?" tanya Amel, ada rasa deg-deggan semakin sulit mengerti.


"Haruskah kita tidur bersama? Kita ini sudah cukup lama tinggal berdua sayang." Reza terus menatap Amel.


"Mas apaan sih? Tidak ada tidur berdua, karena kita belum halal." Ujar Amel, kali ini dengan tegas.


Sebagai seorang gadis yang masih perawan Amel memang sangat menjaga dirinya dan mahkota miliknya, karena kelak itu hanya akan di berikan pada laki-laki yang akan menjadi suami sah nya.


"Hanya bercanda sayang, baiklah ayo mas antar kamu ke kamar," kata Reza dan mereka sama-sama beranjak dari tempat duduknya.


Reza mengantarkan Amel ke kamarnya lebih dulu, lalu baru pergi ke kamarnya sendiri.


Di dalam kamarnya, Reza terdiam, dia memikirkan kapan baiknya untuk menikahi Amel? "Aku harus diskusikan semua ini pada Bos Raka," batin Reza dalam hatinya.


Reza yang tidak sabar menunggu pagi datang karena ingin cepat bertemu dengan Raka, dia memejamkan matanya.


*****

__ADS_1


Pagi yang cerah akhirnya datang, Reza juga sudah rapi dengan setelan jas warna hitamnya, Reza keluar dari dalam kamar dan dia melihat Amel sudah menunggunya di meja makan, Reza tersenyum dalam hatinya sungguh dia merasa kalau dirinya sudah punya istri.


Apalagi Amel juga sudah menyiapkan sarapan untuknya.


"Sayang, kamu masak apa?" tanya Reza, dia menarik kursi meja makan lalu duduk.


"Nasi goreng mas, ayo sarapan dulu!" Amel mengambilkan sepiring nasi goreng untuk Reza , lalu menaruhnya di hadapan Reza.


"Terimakasih...." Reza tersenyum begitu manis.


"Sama-sama mas," jawab Amel dengan nada lembut.


Pagi ini mereka menikmati sarapan berdua layaknya suami-istri tapi sayangnya mereka belum halal.


Setelah selesai makan, mereka bersama-sama pergi ke kantor.


Sesampainya di kantor, Amel langsung menuju ke loker kerjanya sedangkan Reza langsung menuju ke ruangan Raka, biasanya sih Raka Belum datang, tapi entah hari ini?


"Masuklah!!" sahut Raka di dalam ruangan, Reza membuka pintu ruangan Raka.


"Tumben Bos Raka sudah datang," batin Reza dalam hatinya, biasanya Reza datang lebih dulu tapi kali ini keduluan dengan Bosnya.


Mata Raka tertuju pada Reza, membuat Reza agak gugup.


"Tumben, kamu datangnya telat? Apa aku yang kepagian?" tanya Raka, dia juga bingung karena tidak biasanya seperti ini.


Tanpa menunggu Raka menyuruh duduk, Reza duduk di kursi yang terbatas oleh meja kerja Raka.


"Sepertinya Bos yang kepagian datangnya," sahut Raka sambil melihat jam tangannya yang baru menunjukkan pukul 7.

__ADS_1


"Seperti inilah kalau sudah punya istri, setiap ada yang bangunin, jadi tidak pernah terlambat ke kantor," sindir Raka dengan sengaja.


Seketika hati Reza meronta-ronta, ini Bos nya selalu saja seperti ini, mentang-mentang sudah menikah.


"Bos, aku juga tidak terlambat." Reza membela dirinya, karena memang tidak terlambat Raka saja yang datangnya kepagian.


"Reza dimana-mana kalau seorang bawahan datangnya belakangan ketika bosnya sudah datang lebih dulu, itu namanya terlambat," jelas Raka, entah makhluk ini itu dapat peraturan dari mana? Jelas-jelas Reza memang tidak terlambat, tapi terserah Raka lah dia ini bosnya.


Reza hanya bisa menghela nafas panjang, rasanya kesal tapi Reza juga tidak mungkin mengajak Raka berdebat di pagi hari.


"Katakan ada apa, tumben pagi-pagi sudah datang ke ruanganku?" tanya Raka, dia tahu pasti Reza ada sesuatu.


"Bos, aku ingin menikah..." kata Reza, terdengar nada suaranya begitu pekan karena malu-malu.


"Sungguh, mau menikah dengan wanita yang mana?" tanya Raka, lagi-lagi membuat Reza semakin kesal.


"Bos serius lah, kali ini serius mau menikah." Jawab Reza dengan begitu yakin.


Raka mengangguk, memang demen sekali kalau bercandain Reza, apalagi kalau Reza sudah kesal rasanya Raka ingin tertawa tapi dia berusaha menahannya.


"Kamu mau menikah dengan siapa?" tanya Raka.


"Amel bos." Jawab Reza, kali ini begitu yakin.


"Apakah Amel sudah setuju?" Raka kembali bertanya.


Reza terdiam, kali ini dia sedang berpikir.


BERSAMBUNG

__ADS_1


terimakasih para pembaca setia


__ADS_2