
Akhirnya mereka langsung pergi ke tepi pantai mereka juga berencana akan bercamping ditepi pantai itu.
Raka juga menelpon Evan dan Nia agar mereka juga bisa ikut liburan bersama, setelah merasa lelah karena mengurus Elina akhirnya Raka bisa merasakan liburan bersama.
Kini mereka sedang duduk di tepi pantai sambil menikmati es kelapa muda, sekalian menunggu kedatangan Evan dan Nia juga.
*****
Rio sedang duduk sambil memikirkan Elina yang sudah di tahan oleh polisi. Ya tentunya Rio masih tidak menyangka juga, kirain Rio kalau Raka itu tidak akan melaporkan Elina ke polisi.
Tapi ternyata Raka melaporkan kejahatan Elina ke kantor polisi juga. Tapi Rio juga tidak mau pusing sih, lagian menurut Rio penjara itu memang cocok untuk Elina, apalagi Elina hampir saja melenyapkan nyawa Naya dan bayinya.
"Baguslah Raka, aku kira kamu akan diam saja melihat istrimu hampir celaka."
"Ya setidaknya, aku tidak perlu repot-repot melaporkan Elina ke polisi juga."
"Elina, kali ini perbuatan kamu itu sudah keterlaluan. Bayangkan saja jika terjadi dengan Naya dan anaknya, aku juga pasti tidak akan memaafkan kamu."
Rio terus berbicara dalam hatinya, kini dia masih kepikiran dengan Naya, bukan karena apa-apa tapi Rio hanya takut Raka akan kehilangan anaknya, biar bagaimanapun anak yang sedang di kandung oleh Naya dan Naya tidak salah apa-apa pada Elina.
Mungkin jika kemarin sampai terjadi sesuatu pada Naya, Rio juga pasti tidak akan diam saja, mungkin selama ini Rio sudah berbuat salah pada Raka, tapi Rio juga sebenarnya juga ingin meminta maaf hanya saja Rio belum berani dan Rio tidak yakin, akankah Raka memaafkan dirinya atas kesalahannya selama ini?
Mengingat kesalahan Rio begitu besar, bahkan Rio juga merebut Elina dari hidupnya, masih adakah pintu maaf untuk Rio?
Rio merebahkan tubuhnya di atas sofa, kali ini hidupnya begitu kesepian, dulu ada Raka yang selalu ada buat dirinya. Tapi sekarang Rio hanya bisa meratapi nasibnya yang ada saat ini.
__ADS_1
Mengingat kenangan saat bersama Raka dulu, betapa bahagianya mereka menjalanin hari-hari bersama, bercanda bersama, kemana-mana bersama, tapi saat ini sudah tidak bisa lagi.
*****
Malam menunjukkan pukul 7 malam, Evan dan Tania juga sudah hadir di tengah-tengah Naya, Raka, Reza dan Amel.
Malam ini mereka terlihat bahagia dengan acara camping yang mereka buat, kini mereka menikmati barbequean bersama-sama.
Evan duduk di sebelah Naya, dia memberikan sate yang dia bakar tadi untuk Naya.
"Untuk kamu adikku!" Kata Evan dan Naya menerima sate itu dengan bahagia.
Yang lainnya juga sedang menikmati sate yang di bakar tadi sambil bercanda bersama. Naya terlihat bahagia dengan kebahagiaan yang dia rasakan sekarang, apalagi selama ini dia belum pernah merasakan kebahagiaan yang seperti ini.
"Kamu bahagia?" tanya Evan tiba-tiba.
Boro-boro bahagia, bisa setiap hari makan saja itu sudah menjadi kebahagiaan terbesar untuk Naya dulu.
"Teruslah bahagia sayang, kamu adalah adik kakak yang paling kuat dan hebat." Kata Evan, sambil memeluk Naya dengan penuh kasih sayang sebagai seorang kakak.
Tania dan Raka sama-sama tersenyum, Reza dan Amel juga ikut tersenyum.
"Takdir tidak ada yang tahu." Kata Raka sambil tersenyum.
"Jodoh juga tidak ada yang tahu." Timpal Reza sambil menatap Amel dengan tatapan hangat.
__ADS_1
"Evan, Naya, kemarinlah!" Pinta Tania, Evan dan Naya saling melempar senyum lalu kembali ikut bergabung dengan yang lainnya.
Raka tersenyum lalu memeluk Naya dengan erat tapi dengan hati-hati juga karena takut kena perut Naya.
"Mas, mencintaimu sayang!" Kata Raka disela-sela pelukannya.
"Naya lebih mencintai mas," balas Naya dengan begitu bahagia.
Evan, Reza, Amel dan Tania, sungguh baper melihat keromantisan Raka dan Naya.
"Kalian tidak pingin cepat-cepat halal!" Goda Raka dengan jail.
"Sepertinya harus segera di halalkan deh!" Timpal Naya yang tidak kalah jail dari sang suami.
"Boleh, nanti siapkan maharnya dulu." Celetuk Evan, membuat Tania tersenyum bahagia.
"Sudahlah, sudah malam, kawin saja dulu!" Lagi-lagi bicara nyeleneh, membuat yang lain geleng-geleng kepala.
Evan dan Reza menatap Raka dengan tatapan kesal, Tania dan Amel pipinya langsung merah karena malu-malu meong.
"Baru ke dihalalin!" Evan langsung tersenyum licik membuat Tania takut.
Reza geleng-geleng kepala, semalam saja pertahanannya takut jebol, tapi malam ini Raka mau membuat ulah lagi, akhirnya Amel dan Tania memilih tidur satu tenda berdua, Reza dan Evan juga akhirnya tidur berdua di tenda.
Malam ini begitu indah, biarpun terasa singkat tapi kebahagiaan yang mereka rasakan.
__ADS_1
BERSAMBUNG 💪
terimakasih para pembaca setia 🤗