
"Apa mas? Kenapa, harus di kantor mas?" Tanya Naya agak tidak suka, sorot mata Naya juga terlihat marah.
Raka terdiam sejenak, bagaimana cara dia menjelaskan pada Naya?
"Sayang, aku lihat Elina sedang kesusahan, dia juga sepertinya sangat membutuhkan pekerjaan ini," jelas Raka berharap Naya mau mengerti.
Naya mengangguk, tapi matanya menatap Raka dengan tatapan tajam.
"Aku tidak mau ambil resiko mas, bukannya mantan istri mas dari dulu seperti itu, kalau ada apa-apa pasti larinya ke mas, bahkan dia sudah menjadi mantan istri saja, masih berani minta uang pada mas," tegas Naya. Dia tidak mau kalau sampai rumah tangganya kenapa-kenapa.
Raka terdiam, dia hanya ingin membantu Elina, tapi istrinya malah marah pada dirinya.
"Naya...."
"Mas, terserah kamu! Kalau kamu mau tetap bantu istri mas silahkan! Tapi kalau ada apa-apa, mas tanggung sendiri!" Sambung Naya, sebelum Raka melanjutkan kata-katanya.
"Sudahlah mas, aku ngantuk aku mau tidur!" Kata Naya, tapi Naya malah berjalan keluar dari dalam kamarnya, membuat Raka terlihat bingung.
Raka mengejar Naya, lalu menarik tangan Naya dengan pelan. "Kamu, mau kemana sayang?" Tanya Raka, sambil menatap mata Naya dengan tatapan begitu dalam.
__ADS_1
"Aku mau tidur di kamar sebelah, mas tidur sendiri saja! Pikirin itu mantan istri mas," kata Naya dan dia langsung menepis tangan Raka dengan kasar.
Naya keluar kamar begitu saja, sebagai seorang istri Naya juga punya perasaan, jika Raka terus-terusan mempedulikan mantan istrinya, Naya juga marah hati Naya tidak rela.
Sesampainya di kamar sebelah, Naya merebahkan tubuhnya di atas kasur, Naya juga tidak lupa mengunci pintu kamarnya agar Raka tidak main masuk sembarangan.
"Nak, kenapa papa kamu masih terus peduli dengan mantan istrinya?"
"Bukannya, mama tidak mau menolong orang yang sedang kesusahan nak. Mungkin, jika bukan mantan istri papa kamu, mama pasti akan izinkan nak."
"Maaf ya nak, malam ini mama memilih tidur sendiri, mama tidak mau berdebat dengan papa kamu. Kamu malam ini yang anteng ya nak, jangan rewel."
Naya memejamkan matanya, dia memilih untuk tidak memikirkan masalah yang baru saja terjadi, karena takut malah stress dan anak yang ada di dalam kandungannya malah kenapa-kenapa.
Raka masih terjaga, sungguh tidur tanpa Naya rasanya sangat hampa dan kesepian, biasanya ada yang di peluk dengan hangat tapi malam ini hanya bantal guling yang Raka bisa peluk.
Raka memikirkan Naya yang sedang marah pada dirinya.
"Sayang, kenapa kamu harus marah? Mas hanya bertanya, tapi kamu malah tidur di kamar sebelah."
__ADS_1
Tiba-tiba ponsel Raka berbunyi dan masuklah satu pesan dari Elina.
"Mas, mudah-mudahan istri mas mengizinkan aku bekerja di kantor mas ya. Aku sangat butuh pekerjaan itu mas."
Raka membaca pesan dari Elina, kali ini perasaannya begitu bingung, entah dia harus bagaimana?
Raka memilih tidak membalas pesan dari Elina, dia hanya memikirkan Naya yang saat ini sedang marah pada dirinya.
"Aku pusing sekali, sekarang aku harus bagaimana?"
"Naya marah padaku, Naya mas hanya mencintai kamu."
"Di hati mas hanya ada kamu, tidak ada Elina lagi."
Raka menggaruk-garuk kepalanya dengan kasar, sungguh malam ini dia di buat delima oleh dua wanita yang satu adalah mantan istrinya yang sedang membutuhkan bantuan dari dirinya, tapi yang satunya adalah istrinya yang sedang marah pada dirinya.
Raka memejamkan matanya, dia memikirkan kira-kira besok pagi apa yang terjadi?
BERSAMBUNG 🙏
__ADS_1
Terimakasih para pembaca setia 😊