
"Jawab Naya, siapa laki-laki ini!" Ratih hampir menarik rambut panjang Naya tapi tangan kekar Raka menahannya.
"Saya adalah......" Tatapan mata Raka begitu tajam, rasanya ingin sekali melawan wanita paru bayah yang hampir menjambak rambut panjang Naya.
"Siapa? Kamu siapa?" Ratih menatap Raka dengan tatapan sengit.
"Raka Kumara, saya....." Jawab Raka belum selesai bicara, tiba-tiba Naya. "Dia teman Naya, ma." Sambung Naya, tubuhnya semakin gemetaran.
Naya tidak mau kalau sampai Raka terjerat dalam masalah keluarganya. Makanya Naya langsung menyambungi kata-kata Raka dengan begitu cepat.
"Masuklah, dan kamu pulanglah!" Ratih menarik tangan Naya dengan kasar, sambil mengusir Raka dengan tatapan garang.
"Mas, kamu pulang saja!" Naya meyakinkan Raka sambil tersenyum kecil.
"Baiklah, saya akan pulang. Tapi ingat jika Nyonya berani menyentuh calon istriku sedikit saja jangan harap aku akan mengampunimu !" Tandas Raka sebelum pergi meninggalkan rumah Naya.
Evan ternganga, apakah sungguh laki-laki tampan yang ada di hadapannya ini adalah calon suami adiknya? Sedangkan yang Evan tahu Naya tidak pernah dekat dengan laki-laki manapun? Tapi jika memang benar baguslah, setidaknya penderitaan Naya akan hilang dan mamanya tidak akan menyiksa adik kesayangan Evan itu.
Ratih menghentikan langkah kakinya, matanya kembali menatap Raka dari ujung kaki sampai ujung kepala.
"Dia bilang Naya adalah calon istrinya, dasar pembohong." Batin Ratih tidak percaya.
"Berhentilah bergurau! Dan pulanglah, aku muak melihatmu." Ratih langsung membawa Naya masuk ke dalam rumahnya. "Ayo masuk, dasar anak bandel di tinggal beberapa hari, berani sekali kamu pergi dengan seorang laki-laki." Ratih terus menyeret Naya dengan kasar, sesampainya di dalam Ratih mendorong Naya hingga Naya terjatuh.
"Brukkk........"
Naya meneteskan air matanya, lagi-lagi ibunya berbuat kejam pada dirinya.
Raka dan Evan masih sama-sama berdiri di depan rumah. "Kamu pulanglah, lain kali kita bertemu ya!" Kata Evan sambil menepuk bahu Raka dengan pelan.
"Tapi Naya?" Raka terlihat kawatir.
"Kamu tenang saja, aku akan mengurusnya." Jawab Evan meyakinkan Raka.
Raka berlalu pergi dari depan rumah Naya, tapi hati dan pikirannya terus memikirkan Naya.
__ADS_1
"Nay, aku janji setelah ini kamu tidak akan menderita lagi. Aku akan membawa kamu keluar dari rumah terkutuk itu!" Batin Raka dalam hatinya.
Raka tahu pasti ibunya Naya itu sangat jahat, apalagi dari tutur katanya saja dia tidak bisa lembut bahkan dengan Naya aja ibunya itu sangat kasar sekali.
Raka melajukan mobilnya menuju ke rumahnya, sambil menyetir dia terus berpikir bagaimana caranya mengeluarkan Naya dari dalam rumahnya itu?
"Aku akan bicara melalui kakaknya, tapi bagaimana caranya aku bertemu dengannya?" Tanya Raka pada hatinya.
*****
Ratih menj*mbak rambut Naya dengan keras. "Ma...mama, sakit ma.... lepaskan!" Rintih Naya, air matanya terus keluar membasahi pipi mulusnya.
Ratih memperkencang j*mbakan rambutnya. "Gadis sialan, aku menyuruhmu menjaga rumah dengan baik. Bukan keluyuran dengan laki-laki seenaknya!" Sentak Ratih, isak tangis Naya semakin pecah tapi Ratih begitu kejam dan semakin memperkencang j*mbakan rambutnya.
"Maa.... maafkan Naya, Naya salah!"
Ratih menarik rambut Naya, hingga bangun dari tempat dia duduk. "Kamu bilang apa? Maaf!!" Ratih melepaskan tangannya dari rambut Naya, dengan kasar Ratih hampir men*mpar pipi Naya tapi tangan kekar Evan langsung menahan tangan mamanya.
"Jangan sakiti Naya, ma!" Evan menepis tangan mamanya dengan kasar.
"Jangan pernah menyentuh Naya! Dia itu anak mama, cukup ma jangan sakiti dia!" Sentak Evan dengan lantang.
Ratih mendengus kesal, rasanya kali ini dirinya sangat marah pada Evan.
"Evan, berani kamu melawan mama gara-gara gadis sialan ini." Batin Ratih dalam hatinya.
Naya masih menangis, kenapa hidupnya ini begitu malang? Apa salahnya? Kenapa mama nya sedikit saja tidak bisa menyayangi dirinya dengan tulus.
"Bawa gadis sialan itu pergi, mama sangat muak melihatnya!" Ketus Ratih, dan Evan langsung membawa Naya pergi dari hadapan mamanya.
Evan membawa Naya ke kamarnya, Naya terus menangis. Sesampainya di kamar Naya yang begitu kecil dengan ukuran 3 kali 2, di kamar Naya hanya kasur lantai dan lemari pakaian saja.
Naya dan Evan sama-sama duduk, kini Naya masih berada di pelukan Evan. "Jangan takut, kakak akan terus melindungimu," kata Evan dengan nada lembut.
"Terimakasih kak, maaf Naya hari ini sudah membuat masalah." Jawab Naya disela-sela pelukan Evan.
__ADS_1
"Tidak apa-apa, sekarang kamu istirahatlah. Oh iya nanti kakak mau bicara sama kamu," Evan melepaskan Naya dari pelukannya.
"Mau bicara apa kak?" Tanya Naya, tangan kekar Evan menghapus air mata Naya dengan lembut.
"Nanti saja, kamu istirahatlah!" Evan melihat Naya sambil tersenyum dan Naya juga ikut tersenyum.
Mungkin jika tidak ada Evan, Naya pasti tidak akan hidup sampai saat ini. Evan lah yang selalu melindungi Naya dengan baik, pernah dulu gara-gara Naya melakukan kesalahan Ratih menghukum Naya bahkan Ratih juga tidak memberikan makanan untuk Naya. Tapi Evan malah datang pada Naya dan membawa makanan untuk Naya.
Waktu itu Naya sedang memegangi perutnya yang merasa sangat lapar, bahkan deraian air mata mengalir di pipinya yang mulus. Seketika Naya tersenyum melihat kedatangan Evan.
Evan keluar dari kamar Naya, Naya masih duduk dia tidak bergeming sama sekali Naya terus menangis meratapi nasibnya.
Kadang ingin sekali melawan sang mama, tapi Naya tidak punya keberanian untuk hal itu.
"Mama, kenapa mama sedikit saja tidak pernah menyayangiku? Kenapa mama tidak pernah memelukku?"
Dari kecil Naya lebih sering di tinggal-tinggal sendirian di rumah, kadang di titipkan sama tetangga. Bahkan waktu Naya bayi sedikit saja Ratih tidak pernah menyayanginya. Dulu masih ada neneknya jadi Naya waktu bayi lebih sering di rawat oleh sang nenek.
"Naya salah apa, ma?"
"Jika Naya punya salah, Naya minta maaf ma."
"Ingat dulu, kemana-mana mama selalu ngajak Kak Evan, Naya pingin ikut saja mama malah marah pada Naya bahkan mama tidak segan-segan memukul Naya."
"Kak Evan selalu di kasih makan enak, selalu dibelikan mainan yang dia mau, Kak Evan minum susu setiap hari. Tapi Naya boro-boro ma, dikasih makanan saja sisa terus."
"Apa bedanya aku dengan kakak? Mama selalu bilang, aku anak pembawa sial."
"Mungkin jika nenek masih hidup, pasti nenek tahu kenapa mama selalu bersikap seperti ini padaku?"
Naya berbaring, dia hanya bisa menangis dalam hatinya dia selalu mengharapkan sebuah kebahagiaan tapi entah kapan kebahagiaan itu akan datang menjemputnya?
BERSAMBUNG 😊
Terimakasih para pembaca setia 🤗
__ADS_1