
Hari-hari telah berlalu, Tania juga sudah baik-baik saja apalagi Evan, Naya, Raka, Reza dan Amel terus menghibur dirinya di saat Tania sedang sedih.
Kini Tania sudah mulai kerja lagi, seperti biasanya Tania juga melayani para pasiennya yang datang dengan begitu ramah dan sangat sopan seperti biasanya.
"Dokter Nia, kok cuma sendirian, biasanya kan sama Dokter ganteng?" tanya seseorang pasien yang tidak lain adalah pasien tetap Dokter Bian.
"Dokter ganteng sudah meninggal bu, dia mengalami kecelakaan pesawat waktu mau di pindahkan tugas ke luar negeri," jelas Nia nada bicaranya begitu lemah lembut.
Ibu itu terkejut, ibu itu juga mengucapkan turut berdukacita. Setelah selesai pemeriksaan ibu itu langsung berpamitan pulang pada Tania dan tidak lupa mengucapkan terimakasih.
Tania terdiam, dia membayangkan saat-saat bersama Bian, lalu sekilas Tania tersenyum kecil.
"Dulu kita sering praktek bareng, sekarang aku hanya sendirian," batin Tania dalam hatinya.
Naya dan Raka tiba-tiba membuka pintu ruangan Tania karena pintunya tidak di kunci.
"Dokter Nia...."
Tania kaget melihat Naya dan Raka yang tiba-tiba datang.
"Kalian, bukankah hari ini tidak ada janjian?" tanya Tania, kini Naya dan Raka sudah duduk di kursi yang terhalang oleh meja kerja Tania.
"Tidak perlu membuat janji, lagian aku hanya ingin memperiksa kan kandungan Naya, karena dari semalam katanya perutnya sakit terus," jawab Raka raut wajahnya terlihat begitu kawatir pada Naya.
"Aku cek sebentar, ayo Nay ikut aku!" ajak Tania dan langsung pergi ke tempat pemeriksaan.
__ADS_1
Raka menunggu Naya yang sedang di periksa, berharap kandungan istrinya baik-baik saja dan calon bayinya juga tidak kenapa-kenapa.
"Nay, kamu merasakan nyeri atau bagaimana?" tanya Tania, sambil memeriksa perut Naya.
"Entahlah Dok, tapi sepertinya Kecebong kecilnya terus nendang-nendang gitu Dok," jelas Naya dengan begitu polosnya.
Tania tersenyum, inilah gadis yang bisa membuat Raka kembali membuka hatinya kembali? Naya mengapa kamu begitu polos sekali, pantas saja jika Raka terlalu mencintai kamu.
"Mungkin dia pingin di elus-elus bapaknya, soalnya aku cek semuanya baik-baik saja Nay," tutur Tania dan Naya mengangguk mengerti.
Setelah selesai pemeriksaan Naya dan Tania sama-sama keluar dari ruang pemeriksaan.
"Bagaimana, Nia?" tanya Raka yang terlihat sangat kawatir, Raka takut Naya dan anaknya itu kenapa-kenapa.
"Kecebong kecilmu ini hanya butuh sentuhan dari bapaknya saja, semuanya baik-baik saja Raka," jelas Tania dengan nada lembut.
"Maksudmu, aku harus menyiramnya?" cetus Raka, sungguh membuat pipi Naya merah.
Tania geleng-geleng kepala, apakah Raka sudah ketularan polosnya Naya? Sungguh dia bertanya seperti itu asal jeplak saja.
"Itu juga bagus, tapi ada baiknya kalau malam sebelum Naya tidur kamu elus-elus perutnya pasti nanti kecebong kalian tenang karena merasakan sentuhan dari bapaknya," jelas Nia dan Raka tersenyum malu.
"Aku kira hanya cara dengan menyiram saja, ternyata bukan," batin Raka dalam hatinya.
"Baiklah, terimakasih Nia," kata Raka dan Nia mengangguk.
__ADS_1
Setelah selesai pemeriksaan Raka mengajak Naya pulang, sesampainya di rumah tiba-tiba Raka memeluk Naya dari belakang.
"Mas...."
"Sayang, kamu ingat kapan terakhir kali kita melakukannya?"
"Melakukan apa?"
"Aku menyiram kecebong kecilku, itu terakhir kapan sayang?"
Naya terdiam, juga lupa kapan terakhir kali mereka melakukannya.
"Entahlah mas, aku juga lupa."
Senyum Raka begitu sumpringah, sungguh ini adalah waktu yang tepat.
"Mari kita ingat kembali hal itu!" ajak Raka, membuat Naya menatapnya dengan tatapan bingung.
"Hal apa mas?" tanya Naya, yang masih kebingungan.
"Hal yang sudah sama-sama kita lupakan, kita perlu mengingatnya kembali!" jelas Raka, tapi Naya hanya diam karena belum paham juga.
"Mas...."
"Nanti kamu akan paham sayang," tandas Raka dan dia langsung mengajak Naya masuk ke dalam kamar.
__ADS_1
BERSAMBUNG
Terimakasih para pembaca setia