
"Apa, kamu menyukai Bian?" tanya Evan dengan tegas.
Tania terdiam, haruskah dia menjawab pertanyaan dari Evan?
"Memangnya kenapa?" Tania balik bertanya pada Evan.
"Tidak apa-apa, masuklah sudah malam!" Kata Evan, akhirnya Tania melangkahkan kakinya masuk ke dalam rumah.
Setelah Tania masuk ke dalam rumahnya, Evan terus menatap rumah Tania, kini dia sungguh tidak punya keberanian untuk bilang kalau dirinya menyukai Tania.
Apalagi Evan belum mengenal Tania dengan lama, Evan juga takut kalau Tania menolak dirinya.
"Mungkin lain kali aku baru mengungkapkan perasaanku, kalau untuk saat ini jangan dulu!" Batin Evan dalam hatinya.
Evan masuk ke dalam mobilnya, lalu dia melajukan mobilnya menuju ke rumahnya.
Sesampainya di rumah, Evan terlihat murung Ratih yang sedari tadi mengunggunya, dia juga merasa bingung, ada apa dengan anak laki-lakinya ini? Tadi pas pergi begitu bahagia bahkan semangat, lah ini pulangnya malah murung tidak jelas.
Evan hanya diam sambil menyandarkan kepalanya di sofa.
"Kamu, kenapa Van?" Tanya Ratih dengan hati-hati.
__ADS_1
"Mama, aku hanya ada sedikit masalah saja. Oh iya mama kok belum tidur?" Evan balik bertanya, kini dia tiba-tiba menaruh kepalanya di pangkuan sang mama.
Ratih menatap Evan dengan tatapan bingung, karena tidak biasanya Evan begitu manja seperti ini.
"Ada apa dengan anak ini?" Batin Ratih di penuhi rasa kawatir.
"Masalah apa? Katakan pada mama! Apa ada masalah di kantor?" Ratih terlihat kawatir, sambil mengelus pipi Evan. Hati Ratih tidak tenang, karena takut Evan kenapa-kenapa.
"Mama ini hanya masalah hati, mama jangan terlalu kawatir!" Kata Evan, yang melihat sang mama terlihat begitu kawatir.
Akhirnya Ratih langsung tersenyum, kalau ini masalah hati itu tandanya, anak laki-lakinya ini sudah bisa membuka hatinya untuk gadis lain, akhirnya Ratih akan punya menantu.
"Sungguh?! Jika kamu menyukai gadis itu langsung saja katakan! Mau dia menerima atau tidak, jangan di pikirkan!" Saran Ratih, membuat Evan bangun dari pangkuan Ratih lalu dia duduk di sebelah Ratih.
"Apa salahnya? Perasaan yang harus di ungkapkan ya di ungkapkan saja!" Tutur Ratih, ya biarpun dia sudah tua tapi dia juga pernah muda.
"Baiklah ma, akan Evan coba. Mudah-mudahan Evan, bisa dapatin hati gadis itu!" Kata Evan dengan begitu yakin, membuat Ratih tersenyum bahagia.
"Menikahlah nak, mama sudah mulai tua dan tentunya mama juga takut tidak panjang umur," batin Ratih dalam hatinya.
Malam semakin larut, Evan masuk ke dalam kamar dan Ratih juga masuk ke dalam kamar dia.
__ADS_1
Di dalam kamar Evan berbaring sambil berpikir bagaimana caranya mendapatkan hati Tania? Bagaimana cara mengungkapkan perasaannya pada Tania?
Hingga tanpa sadar Evan terlelap begitu saja tanpa sadar. Padahal Evan belum mandi, tapi Evan bisa tidur begitu nyenyak.
*****
Malam semakin larut Naya masih terjaga, Raka juga masih terjaga.
"Sudah malam tidurlah!" Pinta Raka dengan nada lembut.
"Mas, perut aku di elus-elus! Kecebong kecil kamu dari tadi tidak mau diam," kata Naya dengan manja.
Raka tersenyum mesum, lalu tangannya mengelus-elus perut Naya dengan lembut.
"Kenapa kamu tersenyum seperti itu mas?" Tatapan mata Naya terlihat panik, rasanya dia ingin buru-buru tidur, sebelum Raka mengajak Naya menyiram kecebong kecilnya.
"Sayang......"
"Mas ngantuk," potong Naya dan buru-buru memeluk Raka.
Seketika Raka hanya tersenyum, lalu mengecup kening Naya dengan lembut. Raka yang tadinya mau mengajak menyiram kecebong kecilnya, akhirnya hanya memeluk Naya hingga tertidur pulas.
__ADS_1
BERSAMBUNG 😁
Terimakasih para pembaca setia 😊