
"Boleh, aku tahu apa kamu sudah punya kekasih?" Tanya Raka malu-malu.
"Aku..."
Raka menatap Naya dengan tatapan penuh arti, rasanya penasaran sekali dengan gadis berparas cantik di hadapannya saat ini.
"Aku apa? Aku yakin, pasti gadis secantik kamu sudah punya kekasih." Raka merasa malu, bisa-bisanya dirinya yang berstatus duda begitu lancang menanyakan hal seperti itu pada seorang gadis yang masih berusia belasan tahun.
Naya hanya tersenyum, lalu menggelengkan kepalanya. "Aku tidak punya kekasih pak." Jawab Naya malu-malu.
Seketika wajah Raka berubah menjadi sangat bahagia, entahlah mendengar Naya belum punya kekasih rasanya bahagia sekali.
"Baguslah, jangan pacaran dulu. Tapi kalau ada yang siap menghalali kamu, apa kamu akan menerimanya?" Tanya Raka dengan hati-hati.
"Ntahlah pak, aku belum memikirkan ke hal seperti itu." Jawab Naya dengan santai.
Dalam hati Raka, aku harus menjadikan dia sebagai istriku. Tenang saja biarpun aku seorang duda yang sudah hampir berkepala tiga tapi aku masih terlihat sangat gagah dan tampan seperti baru umur 20 tahunan, Raka senyam-senyum dalam hatinya.
"Sudah malam, saya masuk dulu ya pak." Pamit Naya dan dia langsung masuk ke dalam rumahnya.
Setelah Naya masuk dan sudah tidak terlihat, Raka juga langsung pulang ke rumahnya.
_____
Keesokan harinya kemudian, Naya sudah bangun dari tidurnya dia juga sudah rapi karena hari ini dia masih libur berjualan kue, dia mencari kesibukan lain.
"Rumah sudah di bereskan, sebaiknya aku jalan-jalan keluar sekalian membeli makan." Dengan raut wajah yang bahagia, Naya keluar dari dalam rumahnya.
Naya membuka pintu rumahnya dan dia sangat terkejut, karena ada seikat bunga mawar merah dan sebuah kartu ucapan.
"Ada yang mengirim bunga, tapi ini dari siapa?" Tanya Naya pada dirinya, Naya mengambil bunga tersebut lalu membaca kartu ucapannya.
"Selamat pagi, mudah-mudahan hari-harimu selalu menyenangkan." Dengan emoticon senyum.
Dari : Raka Kumara.
Naya ternganga tidak percaya, dia berpikir kenapa Raka memberikan dirinya seikat bunga mawar merah.
"Maksudnya apa?" Batin Naya dalam hatinya.
__ADS_1
Naya membawa masuk seikat bunga mawar merah itu, lalu menaruh di dalam kamarnya. Berharap mamanya tidak tahu, karena jika mamanya tahu pasti Naya akan di hajar habis-habisan.
Setelah menaruh bunga itu di dalam kamarnya, Naya kembali keluar dari dalam rumahnya dan dia menuju ke taman untuk membeli sarapan untuk dirinya.
Di kantor Raka.
Sambil berkerja Raka senyam-senyum sendiri, dia memikirkan apakah Naya sudah melihat bunga yang dirinya taruh di depan pintu rumahnya pagi-pagi sekali?
Raka sengaja sebelum berangkat ke kantor dia membeli bunga lebih dulu, lalu dia menaruhnya di depan pintu rumahnya Naya. Ini adalah salah satu cara Raka untuk bisa mendapatkan hati Naya.
"Mungkin sudah di terima oleh Naya, mudah-mudahan Naya menyukainya." Raka berbicara pada dirinya sendiri.
Ternyata Reza sudah berdiri di ambang pintu ruangan kerja Raka, bahkan dari tadi Reza memperhatikan Raka yang sangat berbeda dengan pagi-pagi biasanya.
"Manusia es ini, biasanya dia diam bahkan sangat menyebalkan, tapi lihat pagi ini auranya terlihat begitu cerah sekali." Batin Reza dalam hatinya.
"Di terima apanya? Wanita mana lagi yang sedang kamu akalin?" Canda Reza yang membuat Raka terkejut dan langsung berdecak kesal.
"Ketuk pintu dulu b*doh, kamu itu mengagetkan aku saja!" Omel Raka dengan tatapan tajam.
"Kamu bilang apa? Aku ngakalin wanita mana lagi? Setelah aku bercerai dengan mantan istriku, aku sama sekali belum pernah mengaggu wanita manapun. Tapi kamu tahu, kali ini aku di buat tersepona oleh gadis kecil yang usia baru belasan tahun." Raka senyam-senyum, Reza melihatnya sepertinya Raka kesambet.
"Gadis kecil? Apa, kamu salah minum obat? Raka kamu itu duda lebih baik kamu menikah lagi dengan seorang janda saja!" Saran Reza dengan tawa meledeknya. "Lalu, kalau yang masih bening-bening kamu berikan saja padaku!" Reza tertawa lagi dan langsung di tatap tajam oleh Raka.
Reza ini sahabatnya Raka, tapi usia Reza lebih muda karena Reza baru berumur 23 tahun. Dan Raka mengangkat Reza sebagai sekretarisnya.
"Kenalkan, gadis itu padaku!" Kata Reza dengan gaya tengilnya.
"Enak saja, dia akan aku jadikan sebagai istri jadi kamu jangan harap untuk bisa mengenal dia." Raka tertawa penuh kemenangan.
"Eza, kamu sudah selesaikan berkas-berkas yang aku kasih?" Tanya Raka.
"Belum Tuan Raka Kumara," Jawab Reza sebagai bawaan Raka.
"Kerjakan sekarang! Jangan ganggu aku yang sedang jatuh cinta," Raka mengusir Reza secara halus dari dalam ruangannya.
Sungguh Reza tidak habis pikir, ternyata seorang duda juga bisa kembali jatuh cinta. Tapi baguslah, jadi Raka tidak kesepian lagi setiap malam jika dia sudah punya istri nanti.
"Jika Tuan Raka menikah lagi, itulah baguslah." Reza berbicara pada dirinya sendiri.
__ADS_1
Sesampainya di ruangan kerjanya, Reza langsung melanjutkan pekerjaannya yang sudah menumpuk di meja kerjanya.
Naya
Naya baru saja membeli sarapan untuk dirinya, sekarang dia sedang menikmati makanan yang dia beli.
Naya kepikiran akan bunga mawar merah yang di kirimkan oleh Raka.
"Maksud, Pak Raka apa ya dia mengirim bunga mawar untuk aku?" Tanya Naya pada dirinya sendiri.
"Sudahlah Naya, buat apa juga di pikirankan. Mungkin, Pak Raka hanya iseng saja." Naya berbicara pada dirinya sendiri.
Setelah selesai sarapan, Naya hanya duduk sambil menonton televisi kali ini Naya begitu santai di rumah karena mamanya juga sedang tidak ada di rumah.
____
Sangking asiknya menonton televisi hingga Naya tidak sadar ternyata jam sudah menunjukkan pukul 12 siang.
"Tidak terasa, waktu cepat berlalu." Keluh Naya, yang merasa hari ini waktu berlalu sangat cepat.
"Tok....tok...tok..." Suara ketukan pintu.
Tiba-tiba ada suara ketukan pintu dan Naya bergegas untuk membuka pintu rumahnya.
"Siapa yang datang jam segini? Tidak biasanya ada tamu di jam segini." Batin Naya dalam hatinya.
Naya menghentikan langkah kakinya, dia tampak ragu membuka pintu rumahnya.
"Mama dan Kak Evan, tapikan mereka belum pulang dan mereka akan pulang minggu depan." Naya tampak ragu untuk membukakan pintu rumahnya.
Dengan perasaan ragu dan takut orang jahat yang mengetuk pintu, Naya memberanikan diri untuk membuka pintu rumahnya.
"Naya, tenanglah! Mana aku di rumah sendirian lagi. Tidak biasanya ada tamu yang datang ke rumah," Naya berbicara sendiri sambil memegang gagang pintu.
Seorang laki-laki di depan pintu berdecak kesal, karena tidak kunjung di bukakan pintu oleh yang punya rumah.
"Apa jangan-jangan tidak ada orang?" Batinnya dalam hatinya.
"Ceklek...." Suara gagang pintu.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🙏
Terimakasih para pembaca setia 😊