
Setelah berpamitan dengan istrinya, Raka langsung berangkat ke kantor. Raka turun dari dalam mobil dan di situ sudah ada seorang yang menunggunya.
Senyum Raka mengembang saat melihat kakak iparnya sudah menunggunya. "Hay kak, kenapa tidak masuk?" Tanya Raka pada Evan.
"Aku baru saja sampai, Ka." Jawab Evan, sambil tersenyum pada Raka.
"Masuk yuk kak!"
Raka dan Evan berjalan berdampingan mereka masuk ke dalam ruangan Raka bersama-sama.
"Pagi bos..." sapa Reza yang berjalan melalui Raka dan Evan.
"Pagi Za," balas Raka sambil tersenyum.
"Siapa Ka?" Tanya Evan ingin tahu.
"Dia sekretarisku kak." Jawab Raka, tapi Evan terdiam.
"Biasanya kalau sekertaris itu wanita tapi ini laki-laki, mungkin biar tidak terjadi hubungan gelap." Evan tertawa dalam hatinya.
Kini mereka sudah sampai di ruangan Raka, Raka menyuruh Evan untuk duduk dan Raka mengambil minuman untuk mereka dari dalam kulkas mini yang ada di ruangannya.
"Minumlah dulu kak!" Raka menaruh dua kaleng minuman di atas meja.
Evan membuat tutup kaleng itu, lalu dia meminumnya, setelah meminumnya dia menaruh kembali kaleng minuman itu di atas meja.
Raka melihat ke Evan, Evan juga melakukan hal yang sama.
"Hay adik ipar, jangan menatapku seperti itu! Katakan padaku, kamu ingin bicara apa dan jangan membuatku takut?" Tanya Evan, dia melihat tatapan Raka tidak seperti biasanya.
"Kak, aku mau nanya. Sebenarnya Naya itu anak kandung Nyonya Ratih bukan?" Tanya Raka, dia bersikap sopan di hadapan Evan, yang biasanya manggilnya nenek sihir dia hadapan Evan manggil Nyonya Ratih.
Evan menghela nafasnya dengan pelan, kini dia menatap Raka dengan tatapan serius.
"Adik ipar, tentu saja Naya adalah putri kandung mamaku." Jawab Evan dengan begitu yakin.
"Tapi kenapa, beliau selalu bersikap tidak suka pada Naya? Yang aku lihat beliau itu sangat membenci Naya, aku hanya ingin cari tahu kak. Aku kasian pada Naya, dia sangat sayang pada mamanya kak," tutur Raka yang membuat Evan akhirnya berpikir.
__ADS_1
"Tapi benar apa yang Raka katakan, mama itu selalu jahat pada Naya." Batin Evan dalam hatinya.
Yang Evan tahu Naya dan dia adalah saudara kandung, karena Ratih juga tidak pernah bercerita apa-apa tentang Naya selama ini.
Dan jahatnya Ratih, Evan selalu menganggap itu cara Ratih membuat Naya agar bisa menjadi seorang anak baik. Hanya saja kalau jahatnya berlebihan Evan akan turun tangan langsung untuk membela Naya.
"Aku tidak pernah tahu, Ka. Kadang aku juga merasa aneh, hanya saja aku tidak pernah dengan mamaku." Sahut Evan, terlihat di benak matanya banyak sekali pertanyaan.
"Tapi nanti aku coba cari tahu, Ka." Sambung Evan dan Raka menganggukkan kepalanya.
"Maaf ya Kak Evan, bukannya aku ikut campur dalam urusan keluarga kalian. Tapi Naya saat ini sudah menjadi istriku kak, aku ingin dia bahagia kak. Aku juga ingin Naya mendapat kan kasih sayang yang tulus dari mamanya," kata Raka. Tatapan matanya begitu dalam pada Evan.
Dalam hati Evan, Naya kamu sudah menemukan suami yang benar dan dia begitu perhatian padamu. Kakak juga bahagia karena penderitaan kamu selama ini akhirnya berakhir dan kamu sudah punya rumah tangga sendiri.
"Iya aku tahu Ka, nanti aku bantu kamu cari tahu semuanya. Oh iya jaga Naya baik-baik, Jangan pernah sakiti hatinya, jangan pernah membuat dia menangis! Karena selama ini Naya sudah sering kali menangis," pinta Evan dengan begitu tulus.
Raka tersenyum lalu menepuk bahu Evan dengan pelan. "Kakak, percayalah selamanya aku hanya akan memberikan kebahagiaan untuk Naya." Kata Raka dengan begitu yakin.
"Aku percaya padamu, nanti untuk urusan mama aku akan tanya. Aku harus berangkat ke kantor, aku pergi dulu ya." Pamit Evan dan dia berlalu pergi keluar dari ruangan Raka.
Evan langsung pergi menuju ke kantornya sambil menyetir Evan selalu ingat kata-kata Raka.
"Kalau anak kandung, tapi kenapa mama begitu benci pada Naya?"
"Apa Naya, ada kesalahan di masa lalu?"
"Atau Naya, seorang anak yang tidak ingnkan oleh mama? Aish, aku bingung sekali."
Evan berdecak kesal, kali ini dia benar-benar memikirkan Naya, Naya dan Naya.
*****
Raka sibuk dengan laptopnya, tapi dia terus kepikiran dengan Naya.
"Sayang, mas akan cari tahu sebenarnya kenapa mama kamu sangat membencimu selama ini?" Gumam Raka dalam hatinya.
Tiba-tiba ponsel Raka berdering, menyadarkan Raka dari lamunannya.
__ADS_1
"Naya menelpon, tumben sekali. Apa dia sudah merindukan aku?" Raka senyam-senyum sambil mengangkat telpon dari istrinya.
"Hallo sayang....."
"Hallo mas, mas kamu pulang jam berapa nanti?"
"Sekarang di suruh pulang mas juga mau, yang penting di kasih asupan gizi."
Naya mendengus kesal, selalu saja suaminya ini mesum sekali.
"Terus saja mas, nanti malam tidur di sofa ya. Kalau bercanda terus." Ancam Naya sambil menahan tawanya.
"Tidak sayang, mas tidak bercanda lagi. Katakan ada apa menelpon mas? Mas nanti pulang cepat."
"Sebenarnya aku juga tidak tahu mas, aku hanya ingin menelpon kamu saja."
"Dasar kamu ini, tunggulah mas mau pulang sekarang saja!"
Naya ternganga kaget mendengar perkataan suaminya ini.
"Mas, kamu mau apa pulang sekarang?"
"Tentu saja, mau menyelesaikan masalah tadi pagi yang belum kelar."
Raka menutup telponnya tiba-tiba, membuat Naya menatap ponselnya dengan tatapan kesal.
"Lihat, Mas Raka itu tidak waras. Main matikan telpon." Naya menggerutu kesal.
Raka buru-buru pulang dari kantor, dia sudah tidak sabar ini bertemu dengan Naya.
"Mau melanjutkan hal tadi pagi, memangnya hal apa? Mas Raka itu aneh-aneh saja," Naya geleng-geleng kepala. Dia lebih memilih melanjutkan kesibukannya daripada mikirin suaminya yang kadang sudah tidak jelas.
Setelah beberapa lama akhirnya suara Raka terdengar begitu nyaring di telinganya Naya.
"Sayang, mas pulang! Kamu dimana?" Raka mencari sosok Naya di setiap ruangan, Naya sengaja tidak bersuara dia sengaja agar suaminya mencari-cari dirinya.
"Sayang, jangan main petah kumpet!" Raka masih mencari-cari Naya, yang belum kelihatan di dalam rumahnya.
__ADS_1
BERSAMBUNG 🤣
Terimakasih para pembaca setia 😊