Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Dedemit cinta


__ADS_3

Kini setelah selesai sarapan Naya, Raka, Tania dan Evan, bersantai di ruang tengah.


Evan sibuk menikmati cemilan yang ada di atas meja dengan lahap.


"Mas, kamu baru selesai sarapan, jangan ngemil terlalu banyak nanti kamu jadi gendut," omel Tania gemas sekali rasanya pada calon suaminya ini.


"Biarkan kakak ipar gendut, pasti pipinya akan sangat menggemaskan," sambung Raka jail.


"Mana mungkin aku gendut, aku makan banyak tapi tetap seperti ini dari dulu, ketampanan aku juga tidak luntur," kata Evan dengan begitu pedenya.


"Tania, kamu kalau punya suami gendut kamu tidak perlu kasur lagi nanti." Canda Raka, gini tawanya terlihat begitu senang.


Naya menggelengkan kepalanya, sungguh suami dan kakaknya ini tidak bisa akur sama sekali.


"Nia, kita pulang sayang, mas tidak betah disini, apalagi dengan adik iparku ini," cibir Evan dengan tatapan kesal.


"Mas ini aneh, baiklah ayo kita pulang saja! Naya, Raka, kita pulang dulu ya, aku tidak mau sampai ada perang dunia kesekian kalinya," pamit Tania, Tania tahu jika mereka berdua tetap ada situ pasti Raka dan Evan akan melanjutkan perdebatan mereka.


"Iya kak kalian hati-hatilah kak!" jawab Naya sambil tersenyum.


Raka juga tersenyum begitu sumpringah akhirnya dia bisa melanjutkan mesra-mesraan dengan istri kecilnya.


"Baguslah kak jika kalian pulang, akhirnya aku bisa mengajak istriku bermesraan tanpa ada yang menganggu," Raka tertawa senang dalam hatinya.


Setelah Tania dan Evan pulang, Raka mendekatkan dirinya ke Naya, Raka hendak mencium bibir mungil Naya tapi belum sempat melakukan itu tiba-tiba bell rumahnya kembali berbunyi.

__ADS_1


"Aish siapa lagi sih?" batin Raka dalam hatinya.


"Mas...." Naya memberikan petunjuk kalau bell rumahnya berbunyi.


"Iya sayang, aku bukakan pintu dulu!" jawab Raka dan dia langsung berlalu pergi keluar untuk membukakan pintu kamarnya.


Raka berjalan dengan malas, sungguh ini adalah sebuah kesialan, orang mau ngajak istrinya bermesra-mesraan tapi ada-ada saja penganggu pada datang, tadi Tania dan Evan, entah sekarang siapa lagi?


"Ceklek...." Raka membukakan pintu rumahnya.


Matanya menatap kesal dua sejoli yang sedang bergandengan mesra, bahkan Reza dan Amel terlihat begitu mesra.


"Bos....."


"Aish Reza, kamu ini menganggu saja, jelas-jelas ini adalah hari libur, mau kalian datang ke rumahku?" sambung Raka, sebelum Reza melanjutkan kata-katanya.


Raka mengangguk lalu mengajak dua sejoli itu masuk ke dalam rumahnya. Reza dan Amel berjalan di belakang Raka, kali ini Reza terlihat begitu mesra sekali padahal biasanya tidak seperti ini.


"Entah dedemit mana yang sedang merasuki dirimu Reza?" gumam Raka yang di dengar oleh Reza.


"Dedemit cinta bos, bos ini seperti tidak pernah merasakan bucin saja," protes Reza kali ini sungguh membuat Raka melihatnya dengan tatapan jijik.


Amel juga mulai terlihat risih, apalagi kali ini Reza begitu bucin, bahkan bucinnya melebihi Raka.


Naya melihat Amel dan Reza, dia langsung tersenyum senang.

__ADS_1


"Kak Amel, Kak Reza, duduklah!" suruh Naya dengan antusias.


Raka duduk di sebelah Naya, Reza dan Amel duduk bersebelahan bahkan Reza juga dari tadi tidak melepaskan tangan Amel sama sekali.


Naya sampai menatap kedua sejoli itu dengan tatapan penuh tanda tanya?


"Tumben Kak Reza tidak melepaskan tangan Kak Amel?" tanya Naya dalam hatinya.


"Reza, kalian bukan truk gandeng kan, kenapa kamu itu dari tadi berpegangan tangan pada Amel terus," kata Raka sambil mendengus kesal.


"Dih bos sirik sekali," cibir Reza.


Raka dan Naya saling menatap bahkan mereka sama-sama geleng-geleng kepala.


"Reza, kalau kamu sedang gila mending kamu pulang sajalah!" Raka malah mengusir Reza.


Reza malah senyam-senyum tidak jelas, Amel hanya geleng-geleng kepala.


"Mas Reza, kamu memang sudah gila," batin Amel dalam hatinya.


"Bos, bos tahu aku ini akan segera menikah, apa bos tidak mau memberikan selamat pada diriku ini?" Reza tersenyum sumpringah dan matanya terlihat begitu berbinar senang.


"Apaaa menikah?" tanya Naya.


"Sungguh, apa kalian tidak sedang bercanda?" sambung Raka tidak percaya.

__ADS_1


BERSAMBUNG


terimakasih para pembaca setia


__ADS_2