Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Rasa bersalah Reza


__ADS_3

Kali ini Raka geleng-geleng sambil menepuk pundak Reza dengan pelan.


"Reza, jangan pernah memandang seorang perempuan dari segi pekerjaannya karena setelah kita menikah maka kita yang akan menafkahinya, buktinya aku, siapapun wanita pilihanku aku tidak memandang dia dari pekerjaannya," tutur Raka dan membuat Naya tersenyum lembut.


"Iya kak, benar apa kata suamiku. Lagian suamiku seorang bos besar saja menikah denganku yang hanya gadis penjual kue," sambung Naya sengaja menyindir Hellen.


"Biarpun Kak Amel hanya seorang cleaning servis tapi dia itu baik dan aku yakin Kak Amel adalah gadis yang cocok untuk Kak Reza," batin Naya dalam hatinya.


Seketika Hellen menatap Naya dengan tatapan tidak suka.


"Iya aku rasa itu salah Pak Raka sih, lagian sudah tahu dia seorang bos besar tapi mau dengan gadis penjual kue," sahut Hellen raut wajahnya terlihat begitu sombong.


"Memangnya apa salahnya? Biarpun istriku adalah seorang gadis penjual kue tapi istriku itu adalah istri terbaik, tidak gila dengan harta dan aku sangat bersyukur mendapatkan istri sebaik dan secantik Naya," jawab Raka sambil tersenyum bahagia.


Reza tersenyum penuh kemenangan, kali ini dia ingin sekali tertawa tapi menahannya.


"Hellen, intinya tidak semuanya itu di nilai dari jabatan dan harta. Lagian kamu juga harus tahu, kalau Amel yang hanya seorang cleaning servis itu adalah calon istriku," tutur Reza dengan tegas.

__ADS_1


Hellen ternganga tidak percaya, apakah ini sungguhan? Atau Reza hanya sedang bergurau denganku saja.


"Mana mungkin, aku yakin kamu sedang bercanda," tebak Hellen hatinya tidak percaya dengan apa kata Reza.


"Mungkin saja, karena memang aku sangat mencintai Amel," sambung Reza dengan tegas.


Hellen yang merasa sangat kesal, dia langsung beranjak dari tempat duduknya dengan kasar. Bahkan dia langsung pergi berlalu begitu saja dari hadapan semuanya.


"Dasar, enak saja kalian mempermalukan aku dengan begitu rendah, aku di bandingkan dengan seorang cleaning servis mana pantas aku ini seorang pengusaha muda yang tentunya jabatan ku juga tidak main-main," batin Hellen dalam hatinya.


Setelah Hellen pergi Raka geleng-geleng kepala, Reza juga ikut geleng-geleng kepala dan Naya tersenyum pada Raka.


"Kamu masih bisa tersenyum, kamu tidak memikirkan perasaan Amel, apa kamu ini mau bermain api?" tanya Raka, tatapan matanya begitu tegas pada Reza.


"Ingat, kamu itu tidak boleh menjadi laki-laki yang jahat, bahkan kamu tidak menyapa Amel dan kamu malah pergi makan siang dengan Hellen, pikirkan perasaan Amel," celoteh Raka dengan begitu bawel.


Naya melihat Reza dengan tatapan penuh ketegasan, dia tidak suka dengan sikap Reza kepada Amel yang seperti saat ini.

__ADS_1


"Bayangkan kak, bagaimana jika Kak Amel yang berbuat seperti kakak? Apakah kakak akan menerimanya? Apakah kakak tidak akan cemburu?" sambung Naya panjang lebar.


"Kamu keterlaluan kak, jika kamu membiarkan Kak Amel berpikir macam-macam!" tandas Naya dengan tegas.


"Iya Za, kali ini kamu memang sudah sangat keterlaluan," sambung Raka tidak percaya.


Reza hanya terdiam, benar kata Naya dan Raka kali ini dirinya begitu keterlaluan pada Amel, bahkan sudah tega mengabaikan Amel begitu saja.


"Aku akan temui Amel, aku akan meminta maaf pada dia," kata Reza dan dia langsung beranjak dari tempat duduknya menuju ke dapur untuk menemui Amel.


Sesampainya di dapur Amel hanya terdiam, bahkan dia menangis karena membayangkan sikap Reza yang begitu tega pada dirinya.


Sungguh Reza merasa sangat bersalah pada Amel.


"Sayangggg......"


BERSAMBUNG

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia


__ADS_2