Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir

Suamiku Duda Kaya Tajir Melintir
Berkunjung ke rumah mama


__ADS_3

"Mas, aku kangen sama Kak Evan. Apakah boleh kita rumah mama?" Tanya Naya dengan hati-hati.


Raka menatap Naya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Sayang......" Raka agak mendengus kesal, dia sangat males jika bertemu dengan Ratih yang tidak lain adalah ibu mertuanya.


"Mas, boleh ya." Rengek Naya dengan manja.


Akhirnya Raka menganggukkan kepalanya dan mereka langsung menuju ke rumah orang tua Naya. Sebelum sampai di rumah orang tuanya, Naya meminta Raka untuk membeli kue untuk mamanya dan kakaknya. Raka menuruti apa kata istrinya, kini mereka terus melanjutkan perjalanan ke rumah orang tua Naya.


"Haruskah, kita ke rumah nenek sihir itu sayang?" Tanya Raka, yang terlalu males memanggil Ratih dengan sebutan mama ataupun ibu.


"Mas, itu ibunya Naya loh. Masa nenek sihir," kata Naya sambil tersenyum.


"Habisan, jahatnya melebihi nenek sihir sih. Apa nenek sihir itu, pernah menyayangimu? Biarpun itu hanya sekali?" Raka melihat ke arah Naya. "Mas, lihat jalan!" Kata Naya, dia sedang berpikir kapan Ratih menyayangi dia?


Raka kembali fokus menyetir, sambil menunggu jawaban dari Naya.


"Tidak pernah mas, aku juga tidak tahu kenapa, mamaku sangat membenciku?" Naya hanya bisa senyum terpaksa.


Raka tersenyum, lalu menepikan mobilnya di halaman rumah Naya.


"Cukup mas, yang sayang sama kamu." Sebelum turun dari mobil, Raka mencium kening Naya dengan penuh kasih sayang.


Kini Raka turun lebih dulu dari mobil, lalu membukakan pintu mobilnya untuk Naya. Kini mereka berjalan ke depan rumah pintu Naya, di tangan Naya juga sudah membawa tentengan kue yang tadi Raka beli untuk mamanya dan kakaknya.


"Tok...tok...tok..."


Ratih yang sedang duduk sambil menonton televisi, beranjak dari tempat duduknya untuk membukakan pintu rumahnya.


"Siapa ya?" Gumamnya dalam hati.


"Ceklek..."


Melihat Naya dan Raka yang datang, sorot mata Ratih terlihat tidak suka pada mereka.


"Kalian, masuklah!" Suruh Ratih dengan nada ketus, membuat Raka merasa kesal.


"Dasar nenek sihir, jika istriku yang tidak meminta untuk kesini. Aku juga tidak akan mau datang ke rumahmu." Batin Raka dalam hatinya.


Naya dan Raka mengikuti langkah kaki Ratih, kini mereka sudah duduk di sofa.


"Mama, aku bawakan kue buat mama dan Kak Evan." Naya menaruh kue itu di atas meja, tapi Ratih hanya diam dan menatap Naya dengan tatapan tidak suka.

__ADS_1


Evan yang hari ini libur kerja, dia baru saja keluar dari dalam kamarnya. Melihat Naya datang, betapa bahagianya Evan dia langsung tersenyum pada Naya dengan penuh bahagia.


"Naya....." Evan antusias.


"Kak Evan." Naya beranjak dari tempat duduknya, lalu menghambur ke pelukan Evan.


Raka menatapnya dengan tatapan cemburu, padahal Evan itu hanya kakaknya Naya.


"Sayang, jangan peluk-peluk laki-laki lain!" Raka menatap Naya dan Evan, membuat Evan mendengus kesal.


"Dasar duda cemburuan," batin Evan dalam hatinya.


Naya melepaskan pelukannya dari tubuh Evan, kini Evan nguyel-nguyel pipi Naya dengan gemas. "Adikku, sekarang kamu sudah menikah. Kamu tahu, kakakmu ini sangat kesepian," keluh Evan membuat Naya tersenyum.


"Dasar Kak Evan, makanya menikah!" Ledek Naya sambil tertawa.


"Mau menikah dengan siapa?" Tanya Evan, dengan nada bercanda.


"Apa perlu Naya carikan kak?" Naya balik bertanya, kini sudah terukir tawa kecil di sudut bibir manisnya.


Evan mengacak-acak rambut Naya dengan lembut, membuat tatapan Raka semakin sulit untuk di artikan.


"Kak Ipar, jaga tangan Kak Ipar!" Raka melihat Evan, sorot matanya terlihat begitu cemburu.


Evan dan Naya duduk di sofa, tatapan Ratih begitu garang. Memang dasarnya Ratih itu paling benci sama Naya, sampai sekarang juga masih benci dengan Naya.


"Untuk apa kamu kesini?" Tanya Ratih tiba-tiba, nada suaranya terdengar ketus.


"Mama, Naya kangen sama mama dan Kak Evan," jawab Naya. Terlihat ketulusan di sorot matanya.


"Tapi aku tidak kangen padamu," celetuk Ratih tanpa memikirkan perasaan Naya.


Evan menatap Ratih, kali ini Evan tidak habis pikir bisa-bisanya mamanya ini bersikap seperti itu pada Naya.


"Mama, jaga ucapan mama!" Kata Evan agak membentak. Sungguh, Evan rasanya begitu marah.


Naya hanya diam, Raka memegang tangan Naya dengan erat.


"Kita pulang sekarang sayang! Sudah mas bilang, jangan datang ke rumah nenek sihir yang tidak punya hati ini!" Raka menarik tangan Naya dengan pelan, lalu mengajak Naya untuk pulang. "Kita pulang sekarang!"


Naya mengangguk pelan, kini Raka langsung membawa Naya masuk ke dalam mobil.


"Mama, benar-benar ya! Kenapa sih ma? Mama tidak bisa bersikap baik sedikit saja pada Naya," tanya Evan matanya terlihat penuh dengan amarah.

__ADS_1


"Baik dengan anak itu? Tidak akan mama lakukan, mama benci dengan anak sialan itu sudah mendarah daging," jawab Ratih dengan nada yang menggema.


"Mama itu sudah tua, ingat ma sebentar lagi mati. Entah kenapa mama begitu membenci Naya? Naya itu anak yang baik ma," lawan Evan dengan suara yang tidak kalah menggema, sorot mata Evan juga begitu garang.


Ratih terdiam dia mengingat kejadian belasan tahun yang lalu yang sungguh membuat hati Ratih hancur berkeping-keping.


"Sudahlah Van, kamu tahu apa?" Ratih beranjak dari tempat duduknya dia langsung pergi masuk ke dalam kamarnya.


Evan selalu berpikir, kenapa mamanya begitu membenci Naya? Padahal mereka adalah sama-sama anaknya.


******


Naya dan Raka sudah sampai rumah, kini mereka baru saja membereskan belanjaan mereka di dapur.


Naya terus terdiam sambil duduk di sofa, tatapan matanya terlihat kesedihan di dalam sana.


"Sayang, kamu kenapa? Masih kepikiran dengan premen karet tadi?" Tanya Raka, dia sengaja meledek istrinya.


"Naya, selamanya aku hanya akan memberikan kamu kebahagiaan dan kebahagiaan." Batin Raka dalam hatinya.


Naya tidak menjawab tapi tiba-tiba dia memeluk Raka dengan erat, kesedihan dalam hatinya ini membuat Naya selalu bertanya. "Sampai kapan mama membenciku?" Tanya Naya pada hatinya.


"Mas tahu kamu pasti sedih, tapi mas akan selalu di samping kamu. Mas akan membuat kamu bahagia, sampai kamu melupakan hal-hal yang tidak bahagia dalam hidup kamu." Raka mempererat pelukannya.


Tangis Naya tiba-tiba pecah dan air mata yang berjatuhan kini sudah membasahi kemeja yang Raka pakai.


"Mas, hanya mas yang sayang sama Naya dan Kak Evan." Naya terisak, membuat Raka bisa merasakan kesedihannya.


"Sudah-sudah, jangan menangis nanti cantiknya kamu hilang!" Raka mengusap-usap rambut Naya dengan lembut.


Hari ini Naya menangis di pelukan Raka, hingga Naya terdiam dan ternyata Naya sudah tertidur.


Raka melihat Naya yang sudah berhenti menangis.


"Dasar istriku, ternyata kamu tidur." Raka membenarkan rambut Naya yang menutupi matanya.


Bukannya di bawa ke kamar, Raka malah membaringkan Naya kepala Naya di pangkuannya sambil terus mengusap-usap rambut Naya dengan lembut.


"Berharap saat kamu bangun nanti, semua kesedihan yang kamu rasakan hilang sayang," batin Raka dalam hatinya.


Raka hanya bisa melihat wajah cantik Naya, saat sedang tidur Naya terlihat begitu tenang dan sangat cantik.


BERSAMBUNG 😁

__ADS_1


Terimakasih para pembaca setia 😊


__ADS_2