
Raka dan Naya baru saja sampai rumah mereka, Raka dan Naya langsung masuk ke dalam kamar begitu juga dengan Ratih yang ikut Raka dan Naya ke rumah mereka.
Karena rasanya sangat lelah Ratih juga langsung istirahat di kamar yang biasa dia gunakan saat menginap di rumah Raka dan Naya.
Malam menunjukkan pukul 11 malam, Naya terlihat gelisah tidak bisa tidur, dari tadi juga bolak-balik memiringkan tubuhnya tidak jelas, mungkin karena perutnya semakin besar jadi Naya semakin susah dalam mencari posisi tidur yang nyaman.
Raka yang merasakan pergerakan demi pergerakan karena istrinya dari tadi tidak bisa diam, akhirnya Raka membuka matanya dan melihat Naya masih gulang-guling tidak jelas.
"Sayang, kamu kenapa? Apa ada yang sakit?" tanya Raka terlihat begitu kawatir, bahkan dia terus menatap Naya tanpa berkedip.
"Tidak apa-apa mas hanya saja aku sedang mencari posisi tidur yang nyaman," jawab Naya yang masih miring kesana-kemari.
Raka tersenyum lalu dia menarik Naya masuk ke dalam pelukannya dengan posisi miring menghadap ke Raka.
"Bagaimana kalau seperti ini? Apakah nyaman sayang?" tanya Raka, sambil membelai lembut pucuk rambut Naya.
Naya tersenyum, entah mengapa ini merasa sangat nyaman sungguh peran suaminya ini sangatlah penting di saat kehamilannya sudah mulai membesar dan Naya juga sudah mulai gampang capek dan susah bergerak.
"Nyaman mas, mas minggu depan itu tepat acara 7 bulanan anak kita, apa orang tua mas tidak bisa pulang?" tanya Naya, dia juga ingin melihat kedua mertuanya yang selama ini ada di luar negeri.
"Nanti aku coba telpon sayang, kalau papa sudah sehat pasti bisa pulang, tapi kalau belum ya mungkin nunggu kamu lahiran," jelas Raka pada Naya.
Naya mengangguk, iya Naya mengerti namanya orang sedang sakit jadi tidak bisa di paksakan, dalam hatinya hanya berharap kalau papa mertuanya cepat sehat agar bisa cepat bertemu dengan dirinya.
__ADS_1
"Sudah malam istirahatlah!" titah Raka dan Naya memejamkan matanya, Raka juga memeluk Naya dengan hangat agar Naya bisa tidur nyenyak malam ini.
Ratih terbangun dari tidurnya, dia membayangkan kedua anaknya akhirnya menikah dan mereka sekarang sudah punya keluarga masing-masing.
Ratih sangat bersyukur tapi jika dia ingat masa lalunya saat dia menyiksa Naya, Ratih masih suka sedih dan kadang menangis sendirian, apalagi Naya dan suaminya begitu baik pada dirinya.
Ratih kembali memejamkan matanya hingga dia kembali terlelap.
*****
Disebuah hotel mewah Tania dan Evan akhirnya sampai di hotel yang sudah di siapkan oleh Raka sebagai kado pernikahan dirinya dan Tania.
Evan dan Tania bergandengan tangan masuk ke dalam kamar hotel yang sudah di siapkan oleh Raka.
"Apalagi? Raka menyuruh kita ke hotel ya pasti untuk tidur mas, Raka memang selalu tahu," sahut Tania dan Evan langsung menatap Tania garang.
"Sayang, malam ini tidak ada kata tidur bagi kita! Karena kita harus bekerja keras dan aku juga tidak mau menyia-nyiakan malam ini," sahut Evan dengan tatapan mata begitu menyebalkan.
Tania melirik Evan kesal tapi Evan tidak perduli dan ingin cepat buru-buru sampai di kamar hotel yang sudah Raka siapkan.
"Tapi aku lelah sekali mas," keluh Tania agak manyun sambil berjalan mengiringi langkah kaki Evan laki-laki yang saat ini sudah sah menjadi suaminya.
"Mas juga lelah, tapi kita tidak boleh menyia-nyiakan malam ini istriku!" Evan tersenyum mesum membuat Tania menatapnya dengan tatapan kesal.
__ADS_1
Dengan jail Evan mencubit hidung Tania, membuat Tania semakin memanyunkan bibirnya dan itu membuat Evan semakin gemas pada wanita yang baru di nikahinya itu.
Evan semakin mendekatkan ke wajahnya ke wajah Tania tapi Tania seketika menjauhkan wajahnya.
"Mas, sana mandi dulu!" pinta Tania dengan begitu jailnya menutup hidungnya dengan tangannya, seolah-olah Evan itu bau.
Sedangkan Evan dengan polosnya menciumi keteknya sebelah kanan dan kiri membuat Tania tersenyum tipis.
"Baiklah mas mandi dulu, ingat kamu jangan tidur dulu!" pinta Evan dan dia segera berlalu pergi ke kamar mandi.
Sambil menunggu Evan mandi, Tania yang masih memakai gaun pengantin dia melepas kan gaun pengantin itu dari tubuhnya, berniat mandi setelah Evan selesai mandi tapi Evan mandi begitu lama akhirnya Tania memilih membaringkan tubuhnya hingga terlelap tidur begitu nyenyak, mungkin karena Tania sangat kecapean malam ini.
Setelah beberapa lama akhirnya Evan keluar dari dalam kamar mandi dengan begitu riang tapi seketika matanya memancarkan sinar mata yang begitu kecewa karena istrinya sudah terlelap tidur.
"Sayang, kenapa kamu tidur? Awas saja jika kamu bangun nanti, aku akan menerkam kamu seperti aku menerkam mangsa!!" kata Evan dan akhirnya Evan berbaring di samping Tania.
Malam pengantin yang Evan nanti ternyata malah di tinggal tidur oleh istrinya, entah apa yang akan terjadi setelah Tania bangun nanti?
Bersambung
terimakasih para pembaca setia
Buat para pembaca setiaku yang sudah mengucapkan selamat dan mendoakan Author, terimakasih ya semuanya maaf Author gak bisa bales satu-satu, tapi Author baca semuanya ucapan selamat dari kalian semua kakak-kakak 🙏😊
__ADS_1